Sleman, KabarTerkiniNews.co.id – Penyakit Autoimun dan Lupus, telah ditetapkan sebagai disabilitas tak tampak. Penyakit yang sering tampak tidak terlihat dari luar, tetapi dapat sangat memengaruhi energi, fisik, dan keseharian penyintas, sehingga dukungan emosional dan pendampingan profesional menjadi sangat penting.
Guna menyediakan kebutuhan itu, sebuah komunitas penyintas Odamun dan Odapus di Yogyakarta, menggelar kegiatan grup diskusi yang dikemas dengan konsep lotisan.
Sekilas, mereka tampak baik-baik saja layaknya manusia normal lainnya. Beraktivitas, berinteraksi sosial, namun siapa yang tahu, jika ditubuh mereka menyimpan penyakit yang sewaktu-waktu bisa mengancam kondisi fisik dan kesehatan mereka.
Itulah autoimun, penyakit disabilitas tak tampak yang kerap membuat penderitanya merasa terkucilkan, karena banyak yang memilih belajar “menyembunyikan” rasa sakit agar tetap bisa beraktivitas, sehingga orang di sekitar mereka tidak menyadari betapa berat perjuangan yang dijalani.
Sebagai bagian dari upaya untuk saling memberikan dukungan semangat, sebuah komunitas penyintas autoimun dan lupus di Yogyakarta, mengajak para Odamun (orang dengan autoimun) dan Odapus (Orang dengan gangguan Lupus), bertemu dalam satu kegiatan dengan kemasan group discussion.
Bagi ahli medis, utamanya bidang Divisi Alergi Monologi yang menangani penyakit auoimun menilai, kegiatan berkonsep ruang sharing ini, dianggap penting sebagai sarana untuk saling menguatkan para penyintas odamun dan odapus ini, untuk tetap tegar bertahan dan bersemangat dalam menjalani hidup, meski dengan kondisi yang terbatas.
“Memang untuk penyakit ini butuh terapi jangka panjang, dan jangan terputus, nah kegiatan komunitas berkumpul, sharing seperti ini sangat penting, mendukung kami sebagai medis, agar kondisi mereka tidak mudah drop,”tutur Dr.Cahya Dewi, selaku Konsultan Divisi Alergi Monologi.
Pihaknya juga menekankan, penderita autoimun dan lupus, memiliki keterbatasan fisik yang berubah-ubah. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan mental, sehingga dukungan sosial sangat berarti, salah satunya melalui ruang berkumpul seperti yang digelar oleh komunitas Sahabat Cempluk ini, agar penyintas ini belajar strategi menghadapi flare-up dari sesama penyintas.
Mengingat, penyakit autoimun dan lupus sering tampak tidak terlihat dari luar, tetapi dapat sangat memengaruhi energi, fisik, dan keseharian penyintas, sehingga dukungan emosional dan pendampingan profesional menjadi sangat penting.
“Prinsipnya, harus hidup sehat, sering ikut kegiatan komunitas seperti ini, dan beraktivitas semampunya, sehingga kondisinya akan terus stabil meski terkadang kambuh,”tegasnya.
Kondisi autoimun dan lupus sering tidak terlihat secara fisik, sehingga ruang diskusi dan komunitas menjadi sangat penting untuk membantu para penyintas saling menguatkan dan tetap bersemangat menjalani hidup.
Yang menarik dari kegiatan ini, dikonsep dengan interaksi santai sembari menikmati sebakul lotis. Ian Sofyan, selaku panitia penyelenggara menuturkan, konsep lotisan cempluk kali ini diusung, untuk lebih mendekatkan para odamun ini lebih nyaman dan aman, berbagi pengalaman tanpa rasa dihakimi.
“Mereka ini cenderung penyendiri, karena gak semua orang tahu memahami kondisi mereka. Jadi kegiatan ini kita konsep dengan lotisan, agar lebih santai mereka untuk saling berbagi sembari menikmati lotis,”tutur perempuan berusia 45 tahun itu.
Kegiatan ini sengaja digelar, mengingat ruang diskusi dan komunitas menjadi tempat penting bagi penyintas untuk mendapatkan dukungan emosional dari orang yang memahami kondisi serupa.
Merasa tidak sendirian, yang sangat membantu menjaga semangat hidup. “Komunitas seperti ini sering menjadi rumah aman bagi mereka yang berjuang dalam diam,”terangnya.
Bertempat di Stay Lounge, Concongcatur, Sleman, acra yang digelar pada Senin (02/11/2026) siang ini, turut diikuti oleh puluhan penyintas auotimun dan odapus dari DIY dan Jawa Tengah, serta melibatkan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Angkatan 285, bidang medis dari kedokteran Alergi Monologi, serta komunitas pemnyintas autoimun Jawa Tengah.
Joko Pramono





