KARANGANYAR – Perguruan tinggi didorong mengambil peran lebih besar dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui riset, inovasi teknologi, dan kolaborasi dengan pemerintah. Kampus dinilai tidak cukup hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan pertanian dan peternakan.
Hal tersebut disampaikan anggota Fraksi Gerindra DPR RI, Sriyanto Saputro, saat mengisi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA), Kamis (29/10/2026).
Mengangkat tema peran perguruan tinggi dalam memperkuat ketahanan pangan, kegiatan tersebut dihadiri Rektor UMUKA, Dr. H. Muh Samsuri, M.Si., serta puluhan mahasiswa dari berbagai program studi.
Dalam pemaparannya, Sriyanto menekankan pentingnya sinergi antara lembaga legislatif, pemerintah, dan institusi pendidikan untuk menjaga stabilitas pangan nasional.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak inovasi daerah. Hasil penelitian kampus, khususnya di bidang pertanian dan peternakan, harus dapat dikembangkan menjadi produk maupun teknologi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi seperti UMUKA harus menjadi pusat riset dan inovasi yang melahirkan bibit unggul, sehingga hasil risetnya benar-benar dapat dikembangkan bersama pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan kita,” ujar Sriyanto.
Ia juga menyoroti pentingnya sertifikasi produk unggulan, termasuk varietas padi dan hasil penelitian, agar inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi memiliki pengakuan lebih luas dan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Selain itu, pemanfaatan teknologi pertanian modern dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing sektor agraris.
Regenerasi Petani Jadi Tantangan
Diskusi kuliah umum semakin menarik ketika memasuki sesi tanya jawab. Sejumlah mahasiswa menyampaikan pertanyaan kritis mengenai kontribusi perguruan tinggi terhadap persoalan masyarakat.
Tegar, mahasiswa Program Studi Hukum Bisnis, mempertanyakan bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat memberikan dampak langsung, bukan hanya berhenti sebagai karya ilmiah.
Sementara itu, Rizki, mahasiswa Program Studi Peternakan, menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Ia mempertanyakan langkah yang perlu dilakukan untuk membangkitkan kembali ketertarikan anak muda terhadap bidang tersebut.
Menanggapi pertanyaan mahasiswa, para narasumber mendorong generasi muda untuk lebih kreatif, menguasai teknologi, dan berani memanfaatkan perkembangan zaman.
Penerapan pertanian modern, termasuk penggunaan teknologi greenhouse, dinilai dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan sektor pertanian agar lebih produktif, menarik, dan kompetitif di era digital.
UMUKA Buka Peluang Kolaborasi
Sementara itu, Rektor UMUKA, Dr. H. Muh Samsuri, M.Si., menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kunjungan jajaran legislatif terhadap perkembangan perguruan tinggi yang dipimpinnya.
Ia menjelaskan, sejak berdiri pada 2022, UMUKA terus mengalami perkembangan dan saat ini telah menaungi enam fakultas dengan 25 program studi.
Samsuri menyambut baik peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan para pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan kontribusi sivitas akademika dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintah menjadi peluang penting untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Kuliah umum tersebut menjadi ruang dialog antara pemangku kebijakan dan kalangan akademisi mengenai tantangan ketahanan pangan. Di tengah kebutuhan peningkatan produksi pangan, penguatan riset, pemanfaatan teknologi, dan keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun sektor pertanian yang berkelanjutan. ( Repcam/Editor : Heru Warsito)





