Adu Cepat Pebalap Muda di Lintasan Boyolali, Jembatan Menuju Road To MotoGP

Boyolali, KabarTerkiniNews.co.id — Sirkuit Karting Boyolali, Jawa Tengah, kembali menjadi arena pertarungan pembalap-pembalap muda dalam gelaran FIM Moto-Mini Indonesia Series 2026. Putaran pertama dan kedua kompetisi digelar pada 12-13 September 2026.

Sekitar 60 pembalap muda dari berbagai daerah di Indonesia ambil bagian dalam ajang tersebut. Mereka bersaing di tiga kelas, yakni Junior Ohvale, GP2, dan kelas utama MiniGP-0 160 CC.

Bacaan Lainnya

Selain menjadi arena untuk mengasah kemampuan dan mencari podium, FIM Moto-Mini Indonesia Series juga menjadi bagian dari jenjang pembinaan pembalap muda menuju kompetisi balap yang lebih tinggi melalui program “Road to MotoGP”.

Persaingan sengit terlihat sejak lampu start dipadamkan. Para rider muda dituntut mampu menjaga kecepatan sekaligus mengendalikan motor saat menghadapi tikungan-tikungan teknikal di lintasan.

Salah satu pembalap yang tampil menonjol adalah Muhammad Ali Imamuddin dari 43 Racing School. Putra mantan pembalap nasional M Fadly tersebut berhasil meraih podium pertama di kelas MiniGP-0 160 CC.

Ali mengaku percaya diri sejak awal balapan. Ia langsung mengambil posisi terdepan dan berusaha mempertahankan konsistensi hingga garis finis.

“Saat start saya sangat percaya diri tadi karena saya yakin pasti bisa kesatu. Start langsung dari start aku bagus, habis itu langsung mengunci posisi pertama. Aku mencoba untuk konsisten dan tidak membuat satu kesalahan pun dan pada akhirnya bisa finish di posisi pertama dengan gap,” ujar Muhammad Ali Imamuddin.

Menurut Ali, karakter lintasan Sirkuit Karting Boyolali menjadi salah satu tantangan dalam balapan kali ini. Terlebih, arah lintasan yang digunakan berbeda dan kondisi cuaca cukup terik sehingga menguras stamina pembalap.

“Tantangannya cukup tricky di tikungan-tikungan yang top speed, ada goyang-goyangnya dan pastinya cuaca juga kan ekstrem di sini, jadinya bisa menguras energi,” katanya.

Pebalap Perempuan Satn-satunya

Di antara puluhan pembalap yang berlaga, terselip kisah inspiratif dari Hanin Dhiya Humaira. Pembalap berusia 10 tahun asal Bandung itu menjadi satu-satunya rider perempuan yang mengikuti Moto-Mini Series tahun ini.

Hanin, yang akrab disapa Anin, turun di kelas MotoMini Junior dengan nomor motor 19. Ia telah menekuni balap motor sejak berusia enam tahun.

Bagi Anin, dunia balap bukan sekadar perlombaan, tetapi juga menjadi jalan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi pembalap profesional.

Perjuangan tersebut mulai membuahkan hasil. Pada putaran pertama, Anin berhasil naik podium ketiga meski sempat mengalami insiden dan terjatuh dalam balapan.

Pada lap terakhir, Anin kembali terjatuh setelah berusaha terlalu memaksakan diri di tikungan. Namun, ia mampu bangkit dan menyelesaikan balapan hingga mengamankan poin untuk melanjutkan ke seri berikutnya.

“Akhir lap disusul dan tadi pas last lap udah mau belok, belokan terakhir saya terlalu maksa dan saya harus jatuh lagi. Kesulitannya banyak belokannya juga, ini pindah badan harus cepat, banyak teknikal kayak gitu-gitu,” ujar Hanin.

Ketertarikannya terhadap balap bermula dari sekolah balap yang dikenalkan oleh seorang temannya. Awalnya, Hanin tidak berencana menekuni balap secara serius.

“Terus kata teman Dedi itu ada sekolahnya, sekolah balapnya. Nah, habis sekolah balap di situ awalnya enggak bakal serius tapi ternyata progresnya bagus jadi dilanjutin aja terus sampai sekarang,” katanya.

Kini, Anin berharap perjalanan di Moto-Mini Series dapat menjadi pintu menuju kompetisi balap di level Asia dan jenjang yang lebih tinggi.

Fondasi Menuj Pebalap Kelas Dunia 

Performa para pembalap muda di lintasan tidak lepas dari sistem pembinaan yang terstruktur. Moto Mini Series dirancang bukan hanya untuk melahirkan pembalap yang mampu melaju cepat, tetapi juga rider yang memahami regulasi, keselamatan, disiplin, serta memiliki mental dan sikap sebagai seorang pembalap profesional.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat, Moreno Soeprapto, menegaskan bahwa ajang Moto Mini Series menjadi fondasi penting dalam mencetak pembalap Indonesia menuju level dunia.

“Kejuaraan Moto Mini Series merupakan tahapan awal dari piramida pembinaan balap motor kita. Mengendarai motor balap dengan postur dan karakter mesin yang didesain khusus menyerupai motor purwarupa adalah esensi dari MiniGP,” ujar Moreno.

Menurut Moreno, mimpi menghadirkan lebih banyak pembalap Indonesia di ajang MotoGP harus dimulai melalui pembinaan dengan standar internasional sejak usia dini.

“Jika kita bermimpi melihat lebih banyak pembalap Indonesia mengibarkan Merah Putih di ajang MotoGP, fondasinya harus dibangun dengan standar internasional sejak usia dini,” katanya.

Ia juga mengapresiasi inisiatif Lightning Production selaku promotor yang dinilai telah membangun ekosistem pembinaan pembalap muda di Indonesia.

“Lightning Production selaku promotor telah mengambil inisiatif yang sangat tepat untuk mewujudkan ekosistem ini di Indonesia, dan IMI Pusat mendukung penuh langkah ini,” ujar Moreno.

Bukan Sekedar Belajar Ngegas

Sporting Manager MotoMini Indonesia, Harlan Fadhillah, mengatakan para pembalap mendapatkan edukasi mengenai berbagai aspek balap, termasuk pemahaman terhadap bendera dan aturan yang berlaku dalam kompetisi.

“Anak-anak ini dibina bukannya cuma bisa balap tapi bisa memperbaiki dari apa? Segi aturan dia tahu apa artinya bendera kuning, biru, merah, bendera start dan lain-lainnya,” ujar Harlan.

Menurutnya, kurikulum pembinaan tersebut disusun dengan mengacu pada standar kejuaraan internasional.

“Kita memberikan edukasi ke pembalap-pembalap itu yang di mana standar daripada kejuaraan yang akan kita kirim itu internasional. Kita memberikan kurikulum pelajaran yang bisa dia serap, bukan tahu tentang balap hanya bisa ngebut tapi dengan aturan juga kita kasih,” katanya.

Pembinaan juga menyentuh aspek nonteknis, seperti mental, sikap, dan perilaku pembalap. “Tentang mental ya Mas ya? Pasti attitude, behavior, dan mental juga kita bina,” ujar Harlan.

Pemilihan Sirkuit Karting Boyolali sebagai salah satu lokasi kompetisi juga bukan tanpa alasan. Karakter lintasan dinilai cukup menantang untuk mengasah kemampuan rider, sekaligus memiliki aspek keselamatan yang sesuai bagi pembalap usia muda.

Gelaran FIM Moto-Mini Indonesia Series 2026 di Boyolali akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis.

Di balik deru mesin dan persaingan di setiap tikungan, tersimpan proses panjang pembinaan generasi baru pembalap Indonesia.

Dari sebuah sirkuit di kota kecil di bawah kaki Gunung Merapi, mimpi-mimpi besar para pembalap muda mulai dipacu—dengan harapan suatu hari mereka mampu membawa nama dan bendera Merah Putih ke panggung balap dunia.

Taufik Irvani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *