Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, Ini Penyebabnya Menurut Dosen UGM

Smber Foto : Dok. Humas dan CNN

 

Bacaan Lainnya

Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang relatif bersamaan. Fenomena yang melibatkan Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ile Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung tersebut tergolong tidak biasa karena kejadian serupa jarang ditemukan dalam beberapa dekade terakhir.

Meski demikian, kemunculan aktivitas erupsi pada enam gunung api tersebut tidak menunjukkan bahwa semuanya berada dalam satu sistem vulkanik yang sama.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus aktivitasnya masing-masing.

Indranova menjelaskan kesamaan waktu erupsi, dengan demikian, lebih tepat dilihat sebagai pertemuan siklus aktivitas yang berbeda. Ada gunung api yang memang memiliki frekuensi erupsi tinggi, seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara gunung lainnya memiliki periode istirahat yang lebih panjang sebelum kembali aktif.

Ketika siklus-siklus tersebut beririsan pada satu periode, sejumlah gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan.  “Menurut saya ini lebih ke masalah timing”, ujarnya, Selasa (8/9).

Kesamaan jalur subduksi di Indonesia pun tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan langsung antarsistem magma. Setiap gunung memiliki sistem magma yang bekerja secara lokal, sehingga erupsi pada satu gunung tidak serta-merta menjadi pemicu bagi gunung lainnya.

Kemungkinan keterkaitan dapat lebih terbuka pada gunung-gunung yang lokasinya berdekatan, tetapi kondisi tersebut berbeda dengan enam gunung yang saat ini tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, dan Maluku.

“Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar yang satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin,” jelas Indranova.

Perbedaan sistem tersebut kemudian tercermin pada mekanisme erupsi masing-masing gunung. Pada Sinabung, Ibu, dan Semeru, Indranova menjelaskan adanya mekanisme ketika panas dari magma di bawah gunung memanaskan air yang tersimpan di tubuh gunung, sehingga tekanan dapat meningkat dan memicu erupsi freatik tanpa selalu disertai tanda kenaikan aktivitas kegempaan vulkanik yang jelas.

Mekanisme semacam ini berbeda dengan erupsi magmatik pada Anak Krakatau yang berkaitan dengan magma dengan kandungan gas tinggi.

“Layaknya minuman bersoda, erupsi magmatik bersifat eksplosif disebabkan karena adanya nukleasi gas secara masif akibat proses dekompresi yang intens,” katanya.

Triya Andriyani/ Redaksi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *