Festival Tayub dan Pasar Tempo Dulu Hidupkan Ekonomi Warga Karungan

SRAGEN – Suasana berbeda terlihat di Pasar Bahulak, Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Minggu (27/9/2026). Festival Tayub Sragenan dan peringatan enam tahun Pasar Bahulak digelar dengan menggabungkan seni tradisi, kuliner tempo dulu, serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Festival tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Pasar Bahulak bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan budaya sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi warga.

Sejumlah tokoh dan pejabat hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Dinas Pariwisata Sragen Drs. I Yusep Wahyudi, M.Si., serta anggota DPR RI Sriyanto Suryo Saputro. Kegiatan juga dihadiri Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir.

Tayub, Tradisi yang Menjadi Daya Tarik

Festival Tayub Sragenan menjadi salah satu atraksi utama dalam peringatan tersebut.  Ketua pelaksana Festival Tayub Pasar Bahulak, Dr. Eko Wahyu Prihantoro, S.Sn., M.Sn, mengatakan kesenian tradisional ini sekaligus memperkuat identitas Pasar Bahulak sebagai ruang pertemuan antara aktivitas ekonomi dan kebudayaan masyarakat.

Konsep tersebut sebenarnya bukan hal baru di Pasar Bahulak. Sejak awal perkembangannya, pasar ini memang menghadirkan suasana tempo dulu, termasuk kesenian tradisional dan aktivitas budaya sebagai bagian dari pengalaman pengunjung.

Pasar Bahulak mulai beroperasi pada 2020. Pemerintah Desa Karungan dan masyarakat mengembangkan kawasan tersebut di atas tanah kas desa sekitar empat hektare dengan konsep pasar tradisional bernuansa masa lalu.

Nama Bahulak sendiri lekat dengan konsep “tempo dulu”. Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli makanan, tetapi juga menikmati suasana, permainan tradisional, musik, karawitan, hingga pertunjukan seni.

Transaksi Menggunakan Koin Batok

Salah satu keunikan Pasar Bahulak adalah sistem transaksi yang tidak langsung menggunakan uang rupiah.

Pengunjung menukarkan uang dengan koin berbahan tempurung kelapa yang kemudian digunakan untuk berbelanja di dalam kawasan pasar. Sistem tersebut menjadi bagian dari konsep yang sengaja dibuat untuk menghadirkan kembali suasana pasar tradisional masa lalu.

Sumber Desa Wisata Karungan juga mencatat sejumlah karakteristik lain Pasar Bahulak, seperti penggunaan bahasa Jawa dalam komunikasi, kuliner tradisional, permainan tempo dulu, pertunjukan tari dan karawitan Sragenan.

Dengan konsep tersebut, pengunjung tidak hanya membeli makanan, tetapi memperoleh pengalaman wisata budaya.

Ekonomi Warga Ikut Bergerak

Konsep pasar wisata itu juga mempunyai dampak ekonomi yang sudah tercatat sejak tahun-tahun awal pengembangannya.

Pada 2020, mencatat nilai transaksi Pasar Bahulak mencapai sekitar Rp33 juta dalam satu kali penyelenggaraan pada November 2020. Setahun kemudian, pada peringatan ulang tahun pertama, perputaran transaksi dilaporkan menembus lebih dari Rp75 juta dalam satu hari.

Sementara dalam kegiatan Pasar Bahulak pada 2025, Kepala Desa Karungan Joko Sunarso menyebut transaksi setiap kali pasar dibuka dapat mencapai sekitar Rp20 juta hingga Rp35 juta per hari. Pengunjung juga disebut datang tidak hanya dari Sragen, tetapi dari Solo, Klaten, Karanganyar hingga Grobogan.

Angka-angka tersebut merupakan catatan dari periode berbeda dan tidak dapat langsung dianggap sebagai nilai transaksi Pasar Bahulak saat ini. Namun, data itu menunjukkan bahwa konsep pasar wisata telah lama menjadi salah satu ruang aktivitas ekonomi masyarakat Karungan.

Pedagang Berasal dari Warga Desa

Konsep pemberdayaan masyarakat juga menjadi bagian penting dari Pasar Bahulak.

Pasar Bahulak ditetapkan sebagai Pasar Gotong Royong, pedagang yang berjualan merupakan warga Desa Karungan. Pasar tersebut dikembangkan secara swadaya masyarakat untuk membuka peluang ekonomi baru sekaligus memanfaatkan potensi desa.

Produk yang dijual antara lain kuliner tradisional seperti soto bathok, sego menir, nasi jagung, tiwul, wedang gemblung dan wedang secang.

Konsep tersebut membuat kegiatan ekonomi tidak hanya berlangsung melalui transaksi makanan, tetapi juga membuka ruang bagi produk lokal, kesenian, permainan tradisional dan aktivitas wisata.

Dari Pasar Desa Menjadi Destinasi Wisata

Pasar Bahulak kini tercatat dalam Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional sebagai salah satu atraksi pariwisata di Kabupaten Sragen.

Data Kementerian Pariwisata mencatat Pasar Bahulak mulai beroperasi pada 2020 dan memiliki area parkir yang cukup besar. Operasionalnya mengikuti kalender pasaran Jawa, yakni Minggu Pahing dan Minggu Legi.

Bagi Desa Karungan, model seperti ini memperlihatkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi tanpa harus mengubah karakter masyarakat.

Festival Tayub yang digelar bersamaan dengan peringatan enam tahun Pasar Bahulak pada Minggu ini memperkuat pola tersebut: budaya menjadi daya tarik, pasar menjadi ruang ekonomi, dan masyarakat menjadi bagian utama dari pengelolaannya.

Dengan demikian, Pasar Bahulak tidak hanya menawarkan pengalaman bernostalgia dengan suasana tempo dulu. Di balik kuliner tradisional, koin batok, gamelan dan Festival Tayub, terdapat aktivitas ekonomi warga yang terus berusaha dipertahankan melalui potensi lokal Desa Karungan.

Reporter / Editor: Heru Warsito

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *