Kupang, KabarTerkiniNews.co.id — Gempa bumi berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026) menyebabkan bangunan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Ruteng, Kabupaten Manggarai, mengalami kerusakan signifikan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Nusa Tenggara Timur, Decky Nurmansyah, mengatakan kerusakan pada Rutan Ruteng diperkirakan mencapai lebih dari 50 persen.
Hal tersebut disampaikannya seusai menghadiri pemberian remisi bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan Anak Binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Kupang, Senin (17/8/2026).
Decky menjelaskan, di wilayah Flores terdapat empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) pemasyarakatan, yakni Lapas Kelas IIB Ende, Rutan Bajawa, Rutan Maumere, dan Rutan Ruteng.
Berdasarkan hasil pemantauan sementara, tiga UPT lainnya dalam kondisi aman meski masih terjadi sejumlah gempa susulan. Sementara Rutan Ruteng mengalami kerusakan paling parah.
“Dari pantauan hingga saat ini memang ada beberapa gempa susulan. Alhamdulillah, tiga Unit Pelaksana Teknis ini aman. Kecuali Rutan Ruteng, yang kondisinya saat ini lebih dari 50 persen bangunannya mengalami kerusakan,” kata Decky.
Untuk memastikan keselamatan WBP dan petugas, pihaknya telah memindahkan sementara WBP serta staf ke bagian bangunan yang dinilai memiliki konstruksi lebih kuat.
Langkah selanjutnya, kata Decky, pihaknya tengah mempersiapkan relokasi seluruh WBP Rutan Ruteng ke lokasi lain, salah satunya ke wilayah Bajawa.
Namun, proses relokasi tersebut masih bergantung pada kondisi akses transportasi, khususnya jalur Ruteng-Bajawa yang terdampak gempa.
“Kami berdoa mudah-mudahan jalur Ruteng-Bajawa ini bisa dilalui, supaya semua WBP kami relokasi dulu ke sana,” ujarnya.
Menurut Decky, kondisi bangunan Rutan Ruteng yang mengalami kerusakan cukup signifikan membuat fasilitas tersebut membutuhkan rekondisi secara menyeluruh. Karena itu, pihaknya meminta pengertian keluarga WBP selama proses pemindahan sementara dilakukan.
“Kami sangat mohon pengertian, khususnya keluarga yang ada di Ruteng, yang sanak keluarganya masih menjadi warga binaan kami. Mohon waktu untuk bisa kita relokasi,” katanya.
Selain melakukan penanganan darurat, pihaknya juga telah menerima informasi dari pimpinan di Jakarta terkait dukungan anggaran untuk penanganan pascagempa.
Decky menyebut anggaran tanggap darurat akan segera dialokasikan untuk mendukung proses pemulihan dan perbaikan bangunan Rutan Ruteng.
“Kami juga mendapat informasi dari pimpinan di Jakarta bahwa akan segera ada anggaran tanggap darurat yang dialokasikan untuk recovery gedung bangunan Rumah Tahanan Negara Ruteng,” pungkasnya.
Dengan kondisi tersebut, keselamatan WBP dan petugas menjadi prioritas utama sembari menunggu proses relokasi serta penanganan kerusakan bangunan Rutan Ruteng.
Rudy







