Sumedang, KabarTerkiniNews.co.id — Barésan Incu Putu Pangauban Citarum menggelar Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17 di Balé Sawala Cibulakan, Dusun Cibulakan, RT 03/RW 10, Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan Pangauban Citarum yang diisi dengan rangkaian kegiatan adat, pertemuan antar-inçu putu, serta diskusi mengenai hubungan manusia dengan alam dan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua Panitia Pelaksana, Anton Rahardjo, mengatakan Hajat Balaréa menjadi ruang evaluasi terhadap berbagai kegiatan yang telah dilakukan selama satu tahun. Dalam tradisi Pangauban Citarum, kegiatan itu juga dipandang sebagai momentum untuk melihat kembali arah kegiatan sekaligus mempersiapkan langkah berikutnya.
“Hajat Balaréa itu adalah evaluasi tahunan, atau biasa kami sebut dengan seren taun. Setelah satu tahun kita melakukan dan mengerjakan apa, kita evaluasi pada hari ini,” ujar Anton.
Rangkaian kegiatan sebelumnya diawali dengan pertemuan para incu putu dari sejumlah pangauban yang hadir. Agenda kemudian dilanjutkan dengan camping dan penyalaan api unggun pada malam hari sebagai bagian dari rangkaian kegiatan adat.
Memasuki pagi hari, kegiatan diisi dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah akademisi dari lingkungan sekitar. Pembahasan diarahkan pada kajian dan legitimasi Patanjala dalam perspektif ilmu pengetahuan.
Pendamping kegiatan laku Patanjala, Rahmat Leuweung, menjelaskan bahwa pembahasan Patanjala merujuk pada sejumlah sumber tertulis yang digunakan untuk memahami keterkaitan manusia dengan alam.
Menurutnya, air memiliki posisi penting dalam memahami kehidupan. Sementara Patanjala dipandang sebagai alat atau metodologi untuk membaca hubungan manusia, air, dan lingkungan.
“Yang pertama adalah bagaimana manusia paham dengan kondisi alamnya. Yang kedua, manusia memahami tentang keserasian alam atau karisan. Dan terakhir adalah bagaimana Patanjala sebagai pasang-pasungai menjadi norma dalam kehidupan masyarakat,” kata Rahmat.
Ia menjelaskan, pemaknaan tersebut tidak hanya menempatkan air sebagai bagian dari lingkungan, tetapi juga sebagai media untuk memahami keterhubungan berbagai aspek kehidupan. Nilai dan norma masyarakat kemudian diharapkan dapat berjalan seiring dengan kondisi alam di sekitarnya.
Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17 menjadi bagian dari upaya komunitas dalam mempertahankan tradisi sekaligus membuka ruang dialog mengenai hubungan manusia dengan alam.
Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai kearifan lokal diharapkan tetap dapat dipelajari dan dikembangkan dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan air dan keberlangsungan ekosistem Citarum.
Nurul Abadi







