Cegah Kasus Bunuh Diri, Kampus Perlu Perkuat Resiliensi Mahasiswa

Smber Foto : Magnific

Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, lebih dari 720.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia.

Bacaan Lainnya

Bahkan pada tahun 2021, bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak pada kelompok usia 15–29 tahun di dunia. Tahun 2025 lalu, angka bunuh diri sudah mencapai lebih dari 1.000 kasus di Indonesia.

Kasus bunuh diri, khususnya di lingkungan perguruan tinggi, membutuhkan perhatian dan dukungan bersama melalui penguatan resiliensi mahasiswa.

Bukan hanya bergantung pada kemampuan individu dalam menghadapi berbagai persoalan, tetapi juga lingkungan yang dapat membuat seseorang  merasa aman dan diterima.

Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit, beradaptasi, dan pulih kembali dari situasi sulit, tekanan, atau kegagalan hidup.

Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengatakan persoalan kesehatan mental mesti menjadi perhatian seluruh perguruan tinggi.

Baginya, kelompok usia muda, dalam hal ini mahasiswa, juga menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan akademik, sosial, dan emosional yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mentalnya.

Dikatakan Ova, perguruan tinggi, termasuk UGM, memiliki peran dalam menciptakan ekosistem yang aman, sehat, dan inklusif bagi seluruh sivitas akademika.

Menurutnya, pengelola perguruan tinggi perlu memperkuat kemampuan mahasiswa untuk menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan, baik tekanan akademik, sosial, maupun emosional.

“Di UGM kita fasilitasi lewat sejumlah layanan untuk mendukung kesehatan mental mahasiswa, yakni konseling, skrining kesehatan mental, hingga penanganan kondisi krisis,” kata Ova dalam seminar nasional yang bertajuk “Pencegahan Bunuh Diri, Penguatan Resiliensi, dan Sistem Kesehatan Mental di Perguruan Tinggi” yang berlangsung di Ruang Multimedia 1 Gedung Pusat UGM.

Sementara Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menilai upaya pencegahan bunuh diri di perguruan tinggi harus dilakukan lewat sistem yang komprehensif.

Wening berpendapat bahwa kebijakan yang telah dibuat mesti didukung oleh ekosistem kampus yang dapat memastikan kebijakan tersebut berjalan  dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh sivitas akademika.

“Ekosistem berarti habitus kita semua. Percuma ada kebijakan, ada aturan, ada unit-unit, tapi ya ekosistem kita masih belum mendukung,” ujar Wening.

Di UGM, sudah ada sejumlah layanan dan unit yang mendukung upaya tersebut, yakni Gadjah Mada Medical Center (GMC), Rumah Sakit Akademik UGM (RSA UGM), Health Promoting University (HPU), layanan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, layanan disabilitas, serta layanan kesehatan mental.

Meski begitu, Wening juga menerangkan bahwa ekosistem yang mendukung kesehatan mental juga mesti memiliki relasi yang sehat, lingkungan yang bebas dari kekerasan, serta kesempatan bagi mahasiswa untuk beristirahat dan melakukan refleksi.

Ketua Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM) UGM, Restu Tri Handoyo, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, memaparkan bahwa pendekatan pencegahan yang dilakukan UGM meliputi identifikasi dini, penguatan faktor protektif, serta penyediaan layanan sesuai dengan tingkat kebutuhan mahasiswa.

“Upaya tersebut mencakup skrining kesehatan mental, layanan konseling, kelompok dukungan, hingga pendampingan bagi mahasiswa yang memiliki risiko lebih tinggi,” jelasnya.

Dalam penjelasannya, Restu mengatakan bahwa pencegahan bunuh diri harus dilakukan jauh-jauh hari sebelum seseorang berada dalam kondisi krisis.

Baginya, kejadian bunuh diri merupakan persoalan multifaktor yang dapat dipengaruhi berbagai faktor risiko, seperti persoalan keluarga, relasi sosial, tekanan ekonomi, maupun kerentanan individu.

“Jadi kita perlu mencari kembali, kira-kira sebelum peristiwa itu terjadi, apa yang bisa kita lakukan? Berangkat dari sinilah sistemnya kita coba untuk bangun,” ujar Restu.

Restu mengingatkan bahwa dukungan sosial menjadi salah satu faktor protektif yang perlu diperkuat di lingkungan kampus.

Ia memaparkan, di satu sisi mahasiswa dapat memperoleh dukungan dari teman sebaya maupun dosen pembimbing, sementara di sisi lain UGM juga tengah mengembangkan program peer counselor demi membekali mahasiswa dengan kemampuan dasar konseling.

“Punya support, baik itu mahasiswa atau dosen itu jelas akan membantu orang-orang yang sedang memiliki masalah, ya setidaknya untuk punya teman untuk berbicara,” tutupnya.

Sulastama Raharja, S.T., M.T., Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan Hidup (PKM-PLH) PP Kagama menegaskan perguruan tinggi berperan membangun lingkungan yang memungkinkan setiap orang merasa memiliki tempat untuk bercerita dan mendapatkan dukungan ketika sedang menghadapi masa sulit.

“Resiliensi bukan hanya tentang kekuatan individu, tetapi juga tentang lingkungan yang membuat seseorang merasa aman, diterima, didengarkan, dan dibantu,” ujarnya.

Agito Sitepu/ Redaksi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *