HKB 2026 : Simulasi Mandiri Perkuat Kemampuan Masyarakat Banda Aceh

Banda Aceh, KabarTerkiniNews.co.id – Hujan dengan intensitas tinggi terus melanda wilayah Kota Banda Aceh selama dua hari berturut – turut, hal ini menyebabkan debit air di sejumlah sungai mengalami kenaikan yang cukup tinggi hingga level siaga. Tak berselang lama, tinggi muka air telah mencapai batas waspada, yang artinya sesaat lagi akan meluap dan berpotensi merendam rumah warga

Beruntung, Kota Banda Aceh telah memiliki Early Warning System (EWS) banjir pemberian Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sehingga ketika debit air telah mencapai level waspada, sensor EWS yang ada di sejumlah sungai langsung memberikan tanda yang terhubung dengan dashboard di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh.

Bacaan Lainnya

Petugas BPBD yang bersiaga 24 jam, langsung menyalakan sirine evakuasi sebagai peringatan kepada warga agar segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat lebih aman.

Itulah skenario simulasi evakuasi mandiri yang dimainkan saat acara puncak Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) tahun 2026 di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh pada Minggu (26/4).

Skenario itu dimainkan sebagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan juga masyarakat Kota Banda Aceh dalam menghadapi bencana, khususnya bencana banjir. Karena sebelumnya BNPB telah memasang lima sensor EWS banjir tersebar di Kota Banda Aceh. Uji coba ini dilakukan untuk menguji sejauh mana alat EWS ini berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pada puncak acara HKB 2026, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., hadir langsung di Pendopo Walikota Banda Aceh untuk membuka acara sekaligus menonton secara online proses simulasi yang dilakukan serentak pada pukul 10.00 WIB untuk Indonesia bagian barat, 10.00 WITA untuk Indonesia bagian tengah dan 10.00 WIT untuk Indonesia bagian timur.

Untuk di wilayah Kota Banda Aceh, BNPB melakukan simulasi di dua tempat, yaitu Kantor Kecamatan Baiturrahman dan lokasi Car Free Day.

Khusus di Kantor Kecamatan Baiturrahman, telah berdiri tegak satu sirine yang merupakan bagian dari perangkat EWS yang diberikan BNPB kepada Pemerintah Kota Aceh. Selain sebagai lokasi didirikannya sirine, kantor Kecamatan Baiturrahman juga ditetapkan sebagai Tempat Evakuasi Sementara (TES) bagi masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat yang mendengar sirine tidak perlu bingung untuk evakuasi ke lokasi mana, dapat langsung evakuasi menuju kantor kecamatan Baiturrahman.

Sementara itu di tempat simulasi mandiri yang dilakukan di kawasan CFD, dilakukan sebagai contoh evakuasi di wilayah tempat publik. Di mana saat masyarakat melakukan aktivitas di ruang publik, mendengar informasi dan sirine akan terjadi banjir, lalu masyarakat menuju titik kumpul sebuah bangunan gedung bertingkat yang aman dari banjir.

Sekretariat HKB 2026 mencatat, sedikitnya 291.000 peserta yang tersebar di 34 provinsi, mengikuti rangkaian kegiatan HKB yang dimulai dengan penanaman pohon dan juga simulasi evakuasi mandiri dengan menyesuaikan kerawanan bencana yang ada di wilayahnya masing-masing.

Adapun rincian kategori peserta meliputi, instansi atau lembaga, sarana pendidikan, keluarga atau individu, lembaga usaha, gedung perkantoran, tempat ibadah dan perwakilan dari objek vital.

Sementara itu, Kepala BNPB mengatakan bahwa dirinya menyaksikan secara langsung bagaimana daerah-daerah melakukan simulasi dan berdialog dengan para peserta simulasi melalui sambungan virtual.

“Dilaksanakan simulasi di masing-masing titik, ditayangkan (saat acara puncak HKB) di Kota Banda Aceh, Sumatra Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatra Barat,” ungkap Suharyanto sesaat setelah kegiatan puncak acara HKB 2026 di Pendopo Walikota Banda Aceh, Minggu (26/4) pagi hari.

“Mudah-mudahan kita masyarakat Indonesia paham tinggal di daerah yang kaya akan sumber daya manusia dan alam, namun di sisi lain kita sangat rentan bencana. Sehinggga peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan terkait pentingnya memahami bencana akan datang setiap saat harus dipelihara dan ditingkatkan,” tuturnya.

Hari Kesiapsiagaan Bencana ini dijadikan momentum untuk kembali mengingat betapa pentingnya pemahaman dan kesiapsiagaan di manapun kita berada.

“Dengan pelaksanaan HKB di Banda Aceh, sebagai pengingat kita semua khususnya masyarakat Provinsi Aceh terkait kesadaran dan pentingnya selalu siap siaga setiap saat,” kata Suharyanto.

Harapannya HKB tidak hanya sebagai seremoni, tapi menjadi sebuah aksi yang harus dilakukan secara terus menerus dan menjadi sebuah perilaku yang dapat menyebabkan berkurangnya risiko dari bencana.

Sejatinya kesiapsiagaan bencana bukan hanya sekedar memiliki alat peringatan dini, bukan sekedar melakukan simulasi evakuasi secara rutin, namun pastikan bahwa alat peringatan dini bisa berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat, pastikan masyarakat memahami peran dan cara menyelamatkan diri di lingkungan masing-masing.

KabarTerkiniNews.co.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *