IJTI Muria Raya Gandeng BPR BKK Purwodadi Salurkan Air Bersih bagi Warga Terdampak

Grobogan, KabarTerkiniNews.co.id – Krisis air bersih akibat musim kemarau masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Grobogan. Puluhan desa mengalami kekeringan sehingga masyarakat terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu warga Desa Waru Karanganyar, Kecamatan Purwodadi, Yanti, mengaku bantuan air bersih sangat membantu mengurangi beban ekonomi keluarganya. Selama sumur di rumahnya mengering, ia harus membeli air tangki dengan harga berkisar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu.

Bacaan Lainnya

“Senang dapat bantuan, jadi bisa mengurangi pengeluaran. Biasanya seminggu bisa habis Rp100 ribu untuk beli air, sekarang uangnya bisa dipakai kebutuhan lain,” ujarnya.

Yanti menuturkan keluarganya telah bergantung pada pasokan air tangki selama sekitar dua bulan. Air tersebut diperoleh melalui pemesanan yang dikoordinasikan perangkat desa, meski proses pengirimannya kerap harus menunggu antrean.

Menurutnya, air digunakan untuk mandi, mencuci, memasak hingga kebutuhan ternak. Meski dihemat, persediaan air biasanya hanya bertahan sekitar satu pekan. “Kalau benar-benar kepepet, air galon dipakai untuk masak dan gosok gigi. Mau bagaimana lagi karena sumur sudah kering,” katanya.

Berdasarkan data terbaru, saat ini terdapat 42 desa di 16 kecamatan di Kabupaten Grobogan yang terdampak krisis air bersih.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat, PT BPR BKK Purwodadi bersama IJTI Muria Raya menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Desa Waru Karanganyar, Kecamatan Purwodadi, Jumat (7/8/2026).

Direktur Utama PT BPR BKK Purwodadi, Anita, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.

“Pada hari ini kami dari PT BPR BKK Purwodadi bekerja sama dengan IJTI Muria Raya menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat. Saat ini banyak wilayah di Kabupaten Grobogan mengalami kekurangan air, sehingga melalui program CSR kami menyalurkan bantuan kepada masyarakat,” ujarnya.

Anita menjelaskan, penyaluran bantuan tidak hanya dilakukan di Desa Waru Karanganyar, tetapi juga akan diperluas ke wilayah lain yang mengalami kesulitan air bersih. Program tersebut dilaksanakan bersama berbagai pihak, di antaranya IJTI Muria Raya, kepolisian, serta pemerintah desa.

“Kalau target tidak ada. Kami ingin semaksimal mungkin membantu masyarakat. Sebagai badan usaha milik daerah, kami merasa memiliki tanggung jawab untuk hadir membantu masyarakat Kabupaten Grobogan yang saat ini mengalami kesulitan air bersih,” tegasnya.

Sementara itu, Bidang Advokasi IJTI Muria Raya, Andi Eko Prasetyo, mengatakan pihaknya terus melakukan penyaluran air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan. Hingga kini terdapat 42 desa di 16 kecamatan yang mengalami krisis air bersih. “Ada 42 desa di 16 kecamatan yang mengalami kekeringan,” ujarnya.

Andi menyebut IJTI Muria Raya menggandeng berbagai instansi dalam kegiatan sosial tersebut, salah satunya PT BPR BKK Purwodadi. Hingga saat ini, kolaborasi yang dilakukan telah menyalurkan sekitar 32 ribu liter air bersih kepada masyarakat. “Hingga saat ini IJTI Muria Raya telah menyalurkan 32 ribu liter air bersih,” katanya.

Ia menambahkan, banyak warga yang harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan air bersih, sementara sebagian lainnya terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sholi Morgan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *