KLATEN – Ribuan ikan air tawar milik pembudidaya ikan di Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mati mendadak. Kondisi tersebut membuat puluhan petani ikan khawatir mengalami kerugian hingga terancam gagal panen.
Kematian ikan terjadi pada kolam-kolam budidaya yang mendapatkan pasokan air dari sungai yang berada di sekitar permukiman warga. Para petani menduga kematian ikan berkaitan dengan pencemaran air sungai, yang diduga berasal dari limbah usaha di sekitar aliran sungai.
Namun, dugaan tersebut masih menunggu kepastian dari hasil pemeriksaan laboratorium.
Salah satu pembudidaya ikan, Supatman, mengatakan ikan di empat kolam miliknya mati secara bertahap dan terjadi setiap hari.
Ikan-ikan yang mati kemudian dikumpulkan dan dikuburkan. Kondisi tersebut membuat modal yang telah dikeluarkan untuk budidaya terancam hilang.
“Setiap hari ada ikan yang mati,” ujar Supatman.
Menurutnya, jika dihitung dari jumlah ikan yang mati, kerugian yang dialaminya ditaksir mencapai sekitar Rp8 juta.
Kondisi serupa juga dialami pembudidaya ikan lainnya di wilayah tersebut.
Pengurus Kelompok Budidaya Ikan Kridamina, Andri Sutarjo, mengatakan sedikitnya terdapat 54 kolam yang terdampak. Kolam-kolam tersebut dikelola oleh sekitar 27 pembudidaya ikan.
Para petani kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada instansi terkait.
DLH Ambil Sampel Air
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Klaten, Suryanto, membenarkan adanya laporan mengenai ikan milik warga yang mati dalam jumlah banyak.
Menurut Suryanto, pihaknya telah menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pengecekan.
Petugas juga mengambil sampel air untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi kualitas air serta memastikan faktor yang menyebabkan ikan-ikan tersebut mati.
“Untuk hasil uji laboratorium masih diproses dan masih menunggu hasilnya,” kata Suryanto.
Dengan demikian, dugaan pencemaran yang menyebabkan kematian ikan masih dalam tahap pemeriksaan. Termasuk dugaan adanya limbah dari usaha tahu yang disebut warga, belum dapat dipastikan sebelum hasil pengujian laboratorium keluar.
Bagi para pembudidaya, hasil pemeriksaan tersebut menjadi penting karena berkaitan dengan penyebab kematian ikan sekaligus langkah penanganan terhadap sumber air yang digunakan untuk budidaya.
Sementara itu, petani berharap pemerintah segera memberikan tindak lanjut agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan kegiatan budidaya ikan dapat dilanjutkan.
Prabowo Aji





