KARANGANYAR, Kabarterkininews.co.id.
Pemerintah Kabupaten Karanganyar mulai mengkaji penurunan jumlah kunjungan wisata dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan tersebut dinilai terjadi secara umum dan bersifat linear, tidak hanya dialami Karanganyar tetapi juga daerah lain.
Asisten II Setda Karanganyar Titis Sri Jawoto kepada wartawan, Senin (26/4/2026) mengungkapkan, penurunan aktivitas ekonomi dapat dilihat dari berbagai indikator, salah satunya jumlah infak di Masjid Agung saat perayaan hari raya.
“Kalau dua hari raya, biasanya infak di Masjid Agung bisa mencapai sekitar Rp80 juta sampai Rp90 juta. Kalau penyelenggaraannya hanya pemerintah dan Masjid Agung, bahkan bisa sampai Rp110 juta sampai Rp120 juta. Tapi kemarin hanya sekitar Rp60 juta, berarti turun hampir 40 persen,”ungkapnya.
Dijelaskan Titis, penurunan juga terlihat dari jumlah kunjungan di sejumlah objek wisata di Karanganyar yang diperkirakan turun sekitar 30 hingga 40 persen.
“Kalau kita lihat kunjungan di objek-objek wisata juga turun, rata-rata sekitar 30 sampai 40 persen,”terangnya.
Titis menilai kondisi tersebut sejalan dengan laporan nasional mengenai penurunan jumlah pemudik tahun ini yang berdampak pada aktivitas wisata di berbagai daerah.
Meski demikian, pemerintah daerah juga menemukan adanya kemungkinan anomali pada data peringkat kunjungan wisata antar daerah. Ia menilai posisi Karanganyar yang disebut berada di urutan ke-25 perlu dikaji ulang.
“Menurut saya perlu dicek lagi. Masa iya sampai urutan ke-25. Bisa jadi ada kekeliruan data,”tukasnya.
Untuk memastikan keakuratan data, pemerintah daerah berencana merujuk pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Metode penghitungan yang digunakan BPS dinilai lebih valid karena memanfaatkan data pergerakan perangkat telepon seluler dari luar daerah yang masuk ke suatu wilayah.
“BPS itu menghitung kunjungan wisata dari transaksi digital atau pemakaian HP luar daerah yang masuk ke suatu daerah. Untuk Karanganyar datanya relatif valid karena kita bukan daerah lintasan,”jelasnya.
Dikatakannya, sebagian besar orang yang datang ke Karanganyar umumnya memang bertujuan berwisata, berbeda dengan kota besar yang banyak dilalui kendaraan transit.
“Kalau daerah lain banyak yang tercatat sebagai wisatawan padahal hanya transit, misalnya seperti di Semarang,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan pencatatan data juga dapat memengaruhi peringkat kunjungan wisata antar daerah. Salah satunya terkait pencatatan wisatawan di kawasan Candi Prambanan yang kini lebih banyak masuk dalam data wilayah Klaten.
Meski jumlah kunjungan di beberapa daerah meningkat, lanutnya, belum tentu memberikan dampak ekonomi signifikan bagi daerah tersebut.
“Kalau kita bicara dampak ekonomi, kawasan seperti Prambanan itu dampaknya kecil sekali bagi daerah sekitar,”tegasnya. (Iwan).







