Kupang, KabarTerkiniNews.co.id – Sejarah Kota Kupang pada awal abad ke-19 tidak dapat dipisahkan dari kisah perlawanan Usi Don Louis Nope, Raja Amanuban, terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Perjuangan tersebut bahkan menarik perhatian para penjelajah Prancis yang singgah di Kupang pada Oktober 1818 dalam ekspedisi ilmiah yang dipimpin Louis de Freycinet.
Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Perkumpulan Masyarakat Adat Amanuban, Pina One Nope kepada media ini, melalui rilis sejarah via WhatsApp, Rabu (5/8/2026) ia menceritakan kembali kisah heroik Usi Don Louis Nope.
Pina menulis, salah satu anggota ekspedisi, Jacques Étienne Victor Arago, mengabadikan kisah tersebut dalam bukunya A Narrative of a Voyage Round the World. Dalam Bab LXIV yang berjudul Kupang (Pulau Timor), Arago menggambarkan situasi Kupang yang sedang berada dalam suasana perang ketika rombongan Prancis tiba.
Menurut Arago, Gubernur Belanda saat itu telah meninggalkan Kupang bersama sekitar 10.000 pasukan untuk menghadapi Raja Louis dari Amanuban yang menolak tunduk kepada pemerintahan kolonial. Perlawanan tersebut telah berlangsung sejak sekitar tahun 1808 dan terus berlanjut hingga kedatangan ekspedisi Prancis pada tahun 1818.
Arago menulis bahwa Louis merupakan putra Raja Tobany dari Amanuban. Ia pernah memperoleh pendidikan di Kupang dan dibaptis menjadi seorang Kristen sebelum menggantikan ayahnya sebagai penguasa Amanuban. Namun, setelah menjadi raja, ia memilih menentang dominasi Belanda yang dianggap menindas kerajaan-kerajaan di Pulau Timor.
Dalam catatannya, Arago menggambarkan Raja Louis sebagai seorang pemimpin yang cerdas, berani, dan memiliki kemampuan militer yang luar biasa. Ia disebut berhasil membangun kekuatan sekitar 6.000 prajurit, dengan sebagian besar telah dipersenjatai senapan serta didukung pasukan berkuda, benteng pertahanan, dan strategi perang yang efektif.
Salah satu pernyataan Arago yang paling terkenal berbunyi:
“Singkatnya, ia berjuang demi kemerdekaan; sedangkan empat belas raja lainnya berjuang demi perbudakan.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Arago memandang konflik Amanuban bukan sekadar pemberontakan terhadap pemerintah kolonial, melainkan sebuah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari dominasi Belanda.
Arago juga mencatat bahwa pasukan Raja Louis pernah mencapai wilayah sekitar Kupang dan pada tahun 1811 membakar sejumlah bangunan, termasuk rumah residen Belanda. Ia menyebut keberhasilan-keberhasilan tersebut membuat pemerintah kolonial terpaksa membangun benteng pertahanan baru di Babau untuk memperkuat pertahanan Kupang.
Kisah serupa juga dicatat oleh pemimpin ekspedisi Prancis, Louis de Freycinet, dalam buku Voyage autour du monde yang diterbitkan di Paris pada tahun 1825. Freycinet menjelaskan bahwa Belanda menghimpun pasukan dari berbagai kerajaan sekutu di Timor dan pulau-pulau sekitarnya untuk menghadapi Amanuban.
Menurut Freycinet, dua ekspedisi militer yang dilakukan terhadap Raja Amanuban pada tahun 1815 dan 1816 berakhir dengan kegagalan. Dalam salah satu pertempuran, pasukan sekutu mengalami kerugian sekitar 80 orang, sedangkan pasukan Amanuban hanya kehilangan enam prajurit dan tiga orang tertawan.
Saat ekspedisi Prancis berada di Kupang pada Oktober 1818, kedua pihak masih saling berhadapan. Freycinet mencatat bahwa pasukan Amanuban diperkirakan berjumlah sekitar 6.000 pejuang, sedangkan pasukan Belanda beserta kerajaan-kerajaan sekutunya mencapai sedikitnya 10.000 orang.
Bagi para sejarawan, catatan Jacques Arago dan Louis de Freycinet merupakan sumber primer yang sangat penting untuk memahami sejarah Timor pada awal abad ke-19. Kedua penulis merupakan saksi sezaman yang mengamati langsung situasi di Kupang ketika perang masih berlangsung.
Meski demikian, para peneliti juga mengingatkan bahwa kedua karya tersebut tetap perlu dibaca secara kritis. Arago dikenal sangat mengagumi Raja Amanuban sehingga penggambarannya cenderung simpatik, sementara sebagian informasi diperoleh dari narasumber yang ditemuinya di Kupang, bukan melalui pertemuan langsung dengan Raja Louis.
Karena itu, catatan Prancis tersebut sebaiknya dipadukan dengan arsip kolonial Belanda, tradisi lisan Amanuban, dan sumber-sumber sejarah lainnya agar diperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai salah satu episode penting dalam sejarah Kota Kupang dan perjuangan Raja Amanuban melawan kekuasaan kolonial pada awal abad ke-19.
Rudy







