Sukoharjo, KabarTerkiniNews.co.id — Di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo Kota, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencatat sudah ada seribuan warga yang terdeteksi mengidap penyakit yang dikenal sebagai silent killer ini. Ancaman penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di Kabupaten Sukoharjo makin mengkhawatirkan.
Ironisnya, angka penemuan kasus tersebut baru sebagian kecil. Capaian pemeriksaan kesehatan warga saat ini masih jauh dari target akibat terbatasnya jumlah personel puskesmas.
Kepala Puskesmas Sukoharjo Kota, Kunari Mahanani, mengungkapkan bahwa dari total 100.179 penduduk di wilayah kerjanya, sebanyak 54.097 orang (sekitar 54 persen) menjadi target sasaran pemeriksaan hipertensi. Sayangnya, hingga Oktober 2026, realisasi pemeriksaan baru menyentuh angka 28 persen.
Kesenjangan drastis antara target dan realisasi ini menjadi benteng tantangan yang berat bagi pihak puskesmas. Nakes harus berpacu dengan waktu menjangkau puluhan ribu warga di tengah keterbatasan tenaga. Padahal, deteksi dini merupakan kunci utama mencegah komplikasi fatal.
”Salah satu upaya yang dapat dimanfaatkan masyarakat adalah program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini memberikan kesempatan kepada warga untuk mengetahui kondisi kesehatannya tanpa harus menunggu munculnya keluhan,” ujar Kunari seusai Forum Konsultasi Publik di Puskesmas Sukoharjo Kota, Senin (19/10).
Bahaya ‘Silent Killer’: Tanpa Gejala tapi Mematikan
Sementara itu, Penanggung Jawab (Pj) Klaster 4 Puskesmas Sukoharjo Kota, dr. Harundina Permatasari, menegaskan bahwa pemeriksaan tekanan darah sangat krusial. Menurutnya, hipertensi sangat berbahaya karena kerap datang tanpa memicu gejala awal yang jelas.
Seseorang bisa saja merasa sangat sehat dan beraktivitas normal, padahal tekanan darahnya sudah melonjak tinggi di atas batas normal (140/90 mmHg).
”Pemeriksaan tekanan darah menjadi salah satu langkah penting. Hipertensi ini kerap dijuluki silent killer karena berkembang diam-diam tanpa gejala,” jelas dr. Harundina.
Ia membeberkan, jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat merusak organ tubuh secara permanen dan memicu serangan jantung, stroke, gagal jantung, penyakit ginjal, hingga kerusakan pembuluh darah pada mata.
Meski beberapa penderita kadang merasakan sakit kepala, pusing, jantung berdebar, nyeri dada, hingga penglihatan kabur, dr. Harundina mengingatkan agar masyarakat tidak terkecoh. “Tidak adanya gejala bukan berarti tekanan darah Anda normal,” tegasnya.
Masyarakat Dimbau Lebih Aktif
Mengingat keterbatasan tenaga kesehatan di lapangan, partisipasi aktif dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama penyelesaian masalah ini. Pihak puskesmas mengimbau warga agar tidak menunggu sakit baru datang berobat.
”Jangan tunggu komplikasi datang baru menyadari pentingnya kesehatan. CKG ini pintu masuk untuk mengenali kondisi tubuh. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah tinggi, warga bisa langsung berkonsultasi untuk penanganan yang tepat,” imbau dr. Harundina.
Melalui layanan CKG yang disesuaikan dengan kelompok usia, masyarakat diharapkan dapat rutin memeriksakan diri demi mencegah risiko penyakit yang lebih serius sejak dini.
Tio





