Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi dalam periode pemantauan 19 April 2026 pukul 07.00 WIB hingga 20 April 2026 pukul 07.00 WIB, dengan beberapa kejadian baru yang berdampak signifikan dan menjadi perhatian bersama. Berikut ini rincian kejadian bencana yang tercatat dalam periode tersebut.
Salah satu kejadian yang menjadi perhatian adalah bencana tanah longsor di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada Jumat, (17/4) sekitar pukul 20.59 WIB. Kejadian ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan tersebut dalam durasi cukup lama, sehingga menyebabkan kondisi tanah menjadi labil dan akhirnya longsor di sejumlah titik. Akibat kejadian tersebut, warga di sejunlah wilayah merasakan dampaknya.
Peristiwa ini berdampak pada tujuh kecamatan dan tujuh desa, yaitu Kecamatan Cijeruk di Desa Tanjungsari, Kecamatan Nanggung di Desa Curugbitung, Kecamatan Tenjolaya di Desa Tapos I, Kecamatan Cigudeg di Desa Cigudeg, Kecamatan Ciomas di Desa Laladon, Kecamatan Megamendung di Desa Sukakarya, serta Kecamatan Sukajaya di Desa Pasir Madang. Sebanyak 15 kepala keluarga atau 55 jiwa tercatat terdampak akibat kejadian ini. Tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam peristiwa.
Dari sisi kerugian materiil, tercatat dua unit rumah mengalami kerusakan ringan, satu unit rumah mengalami rusak sedang, serta tiga unit rumah lainnya terdampak. BPBD melaporkan kerusakan yang terjadi tetap memerlukan penanganan dan perhatian lebih lanjut. Menyikapi kondisi tersebut, langkah-langkah penanganan segera dilakukan oleh pihak terkait.
Menanggapi kejadian tersebut, BPBD Provinsi Jawa Barat melakukan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Bogor serta aparat setempat.
Upaya yang dilakukan meliputi pelaksanaan penanganan sesuai standar prosedur.operasional kebencanaan, pendataan atau asesmen di lapangan, analisis di tempat kejadian, serta pemberian edukasi dan imbauan kepada masyarakat terkait kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan. Penanganan ini dilakukan dengan mengacu pada kebijakan status kebencanaan yang masih berlaku.
Status kebencanaan di wilayah ini masih mengacu pada Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626.BPBD/2025 tentang status siaga darurat bencana banjir, cuaca ekstrem, abrasi, dan tanah longsor di Provinsi Jawa Barat, yang berlaku sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026.
Adapun unsur yang terlibat dalam penanganan kejadian ini meliputi BPBD Provinsi Jawa Barat, BPBD Kabupaten Bogor, serta partisipasi aktif warga setempat. Kondisi terkini, puing-puing longsoran telah berhasil dibersihkan secara gotong royong oleh masyarakat, sehingga akses dan aktivitas warga mulai berangsur normal.
Sementara itu, kejadian bencana lain juga dilaporkan terjadi di wilayah yang sama. Banjir melanda wilayah Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada Minggu, (19/4) sekitar pukul 18.00 WIB.
Kejadian ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan debit air sungai meningkat dan meluap ke permukiman warga di sejumlah wilayah terdampak. Dampak yang ditimbulkan dari kejadian ini cukup luas.
Peristiwa banjir ini terjadi di enam kecamatan dan tujuh desa, yaitu Kecamatan Tamansari di Desa Sirnagalih, Kecamatan Jasinga di Desa Sipak, Kecamatan Ciomas di Desa Laladon dan Desa Sukamakmur, Kecamatan Bojong Gede di Desa Kedung Waringin, Kecamatan Cibinong di Desa Pakansari, serta Kecamatan Sukaraja di Desa Cimandala. Dampak yang ditimbulkan cukup luas, dengan total 217 kepala keluarga atau 816 jiwa terdampak akibat kejadian tersebut. Dampak luas tersebut turut diikuti dengan kerugian pada sektor permukiman dan infrastruktur.
Dari sisi kerugian materiil, tercatat sebanyak 209 unit rumah terdampak, satu unit rumah mengalami rusak sedang, serta satu ruas jalan turut terdampak. Kondisi ini menyebabkan terganggunya aktivitas masyarakat serta mobilitas di beberapa wilayah yang terdampak genangan. Untuk mengatasi dampak tersebut, koordinasi lintas sektor segera dilakukan.
Adapun unsur yang terlibat dalam penanganan meliputi BPBD Kabupaten Bogor, staf desa, serta RT setempat yang turut berperan aktif dalam membantu penanganan di lapangan. Berdasarkan kondisi mutakhir per Minggu, (19/4), rumah-rumah yang terdampak banjir telah dibersihkan, dan genangan air dilaporkan mulai berangsur surut sehingga aktivitas masyarakat perlahan kembali normal.
Selain di Kabupaten Bogor, kejadian banjir juga dilaporkan terjadi di wilayah lain di Jawa Barat. Banjir terjadi di wilayah Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat pada Sabtu, (18/4).
Peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan meluapnya aliran air dan menggenangi permukiman warga di sejumlah titik terdampak. Peristiwa ini berdampak pada masyarakat di wilayah terdampak.
Lokasi kejadian berada di Kecamatan Cibadak, tepatnya di Kelurahan Pamuruyan. Akibat kejadian ini, sebanyak 24 kepala keluarga atau 69 jiwa terdampak. Meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa, banjir mengganggu aktivitas masyarakat serta menyebabkan kerugian pada sektor permukiman. Dampak tersebut kemudian diikuti dengan kerugian pada sektor perumahan warga.
Dari sisi kerugian materiil, tercatat sebanyak 24 unit rumah warga terdampak akibat genangan air. Kondisi ini memerlukan penanganan cepat untuk memastikan keselamatan warga serta pemulihan lingkungan pascabencana. Sebagai tindak lanjut, upaya penanganan segera dilakukan oleh instansi terkait.
Perkembangan terkini, banjir telah surut. Warga bersama aparat setempat melakukan kegiatan pembersihan lingkungan secara gotong royong untuk mempercepat pemulihan kondisi permukiman dan aktivitas masyarakat.
Tidak hanya banjir, bencana hidrometeorologi lainnya juga terjadi di wilayah berbeda. Cuaca ekstrem melanda wilayah Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah pada Sabtu, (18/4) sekitar pukul 17.15 WIB.
Kejadian ini ditandai dengan munculnya angin puting beliung yang menyebabkan kerusakan pada rumah warga serta infrastruktur, termasuk tiang listrik di area terdampak. Dampak dari kejadian tersebut turut dirasakan oleh masyarakat setempat.
Peristiwa tersebut terjadi di Kecamatan Pulau Petak, tepatnya di Desa Tatas Hilir. Dampak yang ditimbulkan cukup signifikan bagi masyarakat setempat, dengan total 11 kepala keluarga atau 23 jiwa terdampak.
Dari jumlah tersebut, dua kepala keluarga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat guna menghindari risiko lanjutan dan memastikan keselamatan. Dampak tersebut turut disertai dengan kerusakan fisik pada bangunan dan infrastruktur.
Kerugian materiil yang tercatat meliputi dua unit rumah warga mengalami rusak berat, sembilan unit rumah mengalami rusak ringan, serta satu unit tiang listrik terdampak. Kerusakan ini menyebabkan terganggunya aktivitas warga, khususnya terkait kebutuhan tempat tinggal dan akses listrik. Menindaklanjuti kondisi tersebut, langkah-langkah penanganan segera dilakukan.
Dalam upaya penanganan, pihak kecamatan dan desa setempat telah melakukan pendataan di lokasi kejadian sekaligus melaksanakan pemeriksaan kesehatan bagi warga terdampak. Selain itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan perbaikan jaringan listrik untuk memulihkan aliran listrik di wilayah tersebut.
Penanganan bencana, BPBD Kabupaten Kapuas berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan desa terdampak, serta menyiapkan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Proses pendataan terhadap korban dan kerugian masih terus berlangsung guna memastikan seluruh kebutuhan penanganan dapat terpenuhi secara optimal.
Di wilayah lain, bencana hidrometeorologi juga dilaporkan terjadi. Cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang disertai angin kencang melanda Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 18 April 2026 sekitar pukul 15.30 WITA.
Peristiwa tersebut terjadi di Kecamatan Batulappa, tepatnya di Desa Tapporang. Kondisi cuaca yang tidak bersahabat mengakibatkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan, terutama pada bagian atap.
Berdasarkan data sementara, kejadian ini berdampak pada 11 kepala keluarga (KK). Selain itu, tercatat sebanyak 11 unit rumah mengalami rusak ringan (RR) akibat terjangan angin kencang yang menyertai hujan. Meski tidak ada laporan korban jiwa, kerusakan yang terjadi cukup mengganggu aktivitas dan kenyamanan warga terdampak.
Menyikapi dampak yang terjadi, upaya penanganan segera dilakukan oleh pihak terkait. BPBD Kabupaten Pinrang segera melakukan peninjauan ke lokasi terdampak. Tim juga melaksanakan assessment serta pendataan guna mengetahui secara pasti tingkat kerusakan dan kebutuhan warga.
Selain itu, dokumentasi lapangan turut dilakukan sebagai bagian dari pelaporan, serta koordinasi intensif dengan pemerintah setempat dan masyarakat untuk mempercepat proses penanganan.
Dalam upaya penanggulangan, sejumlah unsur turut terlibat, antara lain TRC-PB BPBD Kabupaten Pinrang, TNI-Polri, serta masyarakat dan pemerintah setempat. Hingga Minggu, (19/4), kondisi di lokasi masih dalam tahap penanganan, dengan fokus pada pendataan lanjutan dan langkah-langkah penanganan darurat bagi warga terdampak.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah yang masih berpeluang terjadi, terutama di wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.
Masyarakat diharapkan untuk selalu memantau informasi prakiraan cuaca dari instansi berwenang, menjaga kebersihan lingkungan seperti saluran air dan drainase, serta segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman apabila terdapat tanda-tanda potensi bahaya.
Selain itu, pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan guna meminimalkan risiko, ancaman bahaya serta dampak yang ditimbulkan.
KabarTerkiniNews.co.id







