Kupang, KabarTerkiniNews.co.id — Dinas Kesehatan Kota Kupang melalui Puskesmas Alak bekerja sama dengan RS Bhayangkara Kupang menggelar kegiatan tracing Tuberkulosis (TBC) yang terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di rumah Veby Ly Natto, Ketua RT 22/RW 11, Kelurahan Nunbaun Delha (NBD), Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (11/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi langkah awal pemerintah dalam mempercepat penemuan kasus TBC sekaligus mencegah penularan di tengah masyarakat melalui pemeriksaan terhadap kontak erat dan anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.
Dalam sambutan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang dibacakan Asisten I Setda Kota Kupang, Hengky Malelak, mengatakan TBC masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang harus dihadapi secara bersama-sama.
Menurutnya, penemuan kasus sedini mungkin dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC menjadi langkah penting untuk memutus mata rantai penularan.
“Jangan menunggu orang sakit bertambah. Kita harus menemukan lebih awal, memeriksa lebih cepat dan menangani sampai tuntas. Inilah pentingnya kegiatan pada pagi hari ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak semata-mata bertujuan menemukan kasus baru, tetapi juga memastikan kontak serumah dengan pasien TBC mendapatkan pemeriksaan kesehatan.
“Melalui layanan tracing kesehatan gratis pada kesempatan ini, pelayanan kesehatan tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan, tetapi pemerintah, tenaga kesehatan dan kader bergerak mendekati masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, mengatakan TBC masih menjadi persoalan kesehatan, baik secara global maupun di Indonesia.
Ia menyebutkan, berdasarkan estimasi tahun 2025, Indonesia memiliki sekitar 1.080.000 kasus TBC. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan estimasi kasus TBC tertinggi kedua di dunia setelah India.
Retnowati juga mengungkapkan bahwa angka kematian akibat TBC di Indonesia masih tinggi, yakni diperkirakan mencapai 126.000 kasus per tahun.
Menurutnya, tingginya angka kematian tersebut antara lain dapat dipengaruhi oleh pengobatan yang berlangsung dalam jangka panjang namun tidak dilakukan secara teratur hingga tuntas. Selain itu, kondisi status gizi penderita juga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
“Untuk itu, investigasi kontak atau tracing merupakan kunci utama dalam percepatan penemuan kasus TBC dan pencegahan penularan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan tracing TBC yang terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis di rumah Ketua RT 22/RW 11 Kelurahan Nunbaun Delha tersebut merupakan starting point atau titik awal pelaksanaan kegiatan serupa di wilayah Kota Kupang.
“Ini merupakan starting point dan kegiatan ini akan dilakukan di 71 titik se-Kota Kupang,” ujar Retnowati.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap masyarakat semakin aktif memeriksakan kesehatan, khususnya mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Pendekatan langsung ke masyarakat diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus, memastikan penderita mendapatkan pengobatan hingga tuntas, sekaligus menekan risiko penularan TBC di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Program tracing yang terintegrasi dengan CKG ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, kader, serta masyarakat dalam upaya eliminasi TBC di Kota Kupang.
Rudy







