Pekalongan, KabarTerkiniNews.co.id – Kesempatan siswa SMA Negeri 3 Kota Pekalongan untuk menembus ruang belajar internasional semakin terbuka lebar. Sebanyak 30 siswa terbaik sekolah tersebut kini mulai mengikuti program World Class Room, sebuah kelas virtual internasional yang mempertemukan pelajar dari berbagai negara dalam satu ruang pembelajaran.
Program ini menjadi langkah awal SMA Negeri 3 Kota Pekalongan untuk membawa proses pembelajaran siswa ke level global. Tak tanggung-tanggung, program tersebut melibatkan lebih dari 200 sekolah di Jepang serta jaringan kemitraan pendidikan di lebih dari 40 negara dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 70 ribu siswa.
Kepala SMA Negeri 3 Kota Pekalongan, Dul Salam, S.Pd., M.Pd. ditemui di ruang kerjanya Senin (10/08), mengatakan program tersebut menjadi salah satu terobosan sekolah dalam meningkatkan kompetensi siswa, khususnya kemampuan berbahasa Inggris dan wawasan internasional.
“Pembelajarannya murni menggunakan bahasa Inggris. Mereka akan berkolaborasi dengan lebih dari 40 negara dan lebih dari 70 ribu siswa yang ada di negara-negara tersebut,” ujar Dul Salam.
Menurutnya, sebelum dinyatakan mengikuti program, SMA Negeri 3 Kota Pekalongan terlebih dahulu menjalani serangkaian uji kesiapan sarana dan prasarana. Setelah melalui dua kali uji coba, SMA Negeri 3 Kota Pekalongan akhirnya dinyatakan layak untuk mengikuti program World Class Room.
Pertemuan perdana program tersebut pun telah dilaksanakan. Karena berbasis kelas internasional, seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring menggunakan perangkat komputer. “Pertemuan pertama sudah dilaksanakan. Sebelumnya kami diuji terkait dengan prasarana yang ada di SMA Negeri 3 Pekalongan. Setelah dilakukan dua kali uji coba, Alhamdulillah SMA Negeri 3 dinyatakan layak mengikuti program ini,” jelasnya.
30 Siswa Terbaik Disaring dari Ekstrakurikuler Bahasa Inggris
Tidak semua siswa langsung dapat mengikuti program tersebut. Untuk tahap awal, pihak sekolah hanya memilih 30 siswa yang dinilai memiliki kemampuan dan kesiapan mengikuti pembelajaran internasional. Proses penjaringan dilakukan dengan melibatkan guru Bahasa Inggris.
Para siswa potensial terlebih dahulu dipantau melalui kegiatan ekstrakurikuler English Club (EC). Siswa yang memiliki kemampuan bahasa Inggris aktif sekaligus mempunyai keinginan untuk memperdalam pengetahuan kemudian mengikuti proses seleksi.
“Dalam hal ini guru Bahasa Inggris melakukan pendampingan. Mereka mencari bibit-bibit dari ekstrakurikuler EC, terutama anak-anak yang memang berkeinginan mendapatkan pengetahuan lebih dalam pembelajaran menggunakan bahasa Inggris,” kata Dul Salam. Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 30 siswa akhirnya ditetapkan sebagai peserta tahap awal.
Belajar Bersama Pelajar dari 40 Negara
Berbeda dengan pembelajaran daring biasa, World Class Room menghadirkan pengalaman belajar lintas negara. Para siswa SMA Negeri 3 Kota Pekalongan akan berada dalam satu kelas virtual bersama peserta dari berbagai negara.
Mereka tidak hanya mendapatkan materi pembelajaran, tetapi juga berkesempatan berinteraksi secara langsung dengan siswa dari negara lain. Program tersebut dijadwalkan berlangsung hingga sekitar Desember 2026, dengan pertemuan yang dilaksanakan secara daring. Dalam setiap pertemuan, siswa mengikuti pembelajaran selama kurang lebih dua jam.
“Ini bukan kompetisi, tetapi pembelajaran. Mereka belajar bersama dari 40 negara dalam satu kelas virtual. Materinya sama dan pembelajarannya dilakukan secara daring,” terang Dul Salam.
Buka Peluang Kuliah ke Luar Negeri
Keikutsertaan dalam program internasional tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan bahasa Inggris. Pihak sekolah berharap pengalaman mengikuti World Class Room dapat menjadi bekal bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk membuka peluang mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.
“Harapannya nanti kalau anak-anak ini selesai mengikuti program, mereka bisa mendapatkan rekomendasi dan bisa kuliah di luar negeri,” ungkapnya.
Selain kemampuan akademik dan bahasa, siswa juga akan mendapatkan pengalaman mengenal budaya dari berbagai negara. Mereka dapat bertukar pengalaman dan wawasan mengenai budaya Indonesia, Jepang maupun negara-negara lain yang menjadi peserta program.
Dengan demikian, siswa diharapkan memiliki wawasan yang lebih luas, kemampuan komunikasi internasional, serta keterampilan kolaborasi yang tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah.
Target Peserta Akan Ditambah
Dul Salam menegaskan, 30 siswa yang mengikuti program pada tahap awal bukanlah jumlah akhir. Jika pelaksanaan perdana berjalan sukses, sekolah berencana memperluas kesempatan kepada lebih banyak siswa pada tahun berikutnya.
“Kalau program yang pertama ini bisa dengan sukses, insya Allah nanti tahun depan kita bisa menambah lagi. Mungkin tidak 30, tetapi bisa 60 atau 90 siswa. Itu disesuaikan dengan kesiapan anak-anak kita,” ujarnya.
Dul Salam berpesan kepada siswa yang belum berkesempatan mengikuti program tersebut agar tidak berkecil hati. Menurutnya, kesempatan untuk mengikuti program internasional masih terbuka di masa mendatang. Bahkan, target sekolah adalah agar semakin banyak siswa SMA Negeri 3 Kota Pekalongan dapat merasakan pengalaman belajar bersama pelajar dari berbagai negara.
“Untuk anak-anak yang belum bisa mengikuti program ini, tetap semangat. Harapannya ke depan kalau bisa semua siswa SMA Negeri 3 Pekalongan mengikuti program ini,” pesan Dul Salam.
Program World Class Room tersebut menjadi langkah awal SMA Negeri 3 Kota Pekalongan dalam memperluas akses pembelajaran global. Dari sebuah kelas virtual, para siswa kini memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan ribuan pelajar dari berbagai belahan dunia.
Bagi 30 siswa terpilih, ruang kelas mereka kini bukan lagi sekadar ruang kelas di sekolah, melainkan sebuah ruang belajar tanpa batas yang menghubungkan Pekalongan dengan dunia.
Kermit







