Terkini, Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air

Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Laporan pertama banjir di kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada Sabtu (14/3), sekitar pukul 18.45 WIB memicu peningkatan debit air pada sistem drainase serta aliran sungai di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menyebabkan air meluap ke jalan serta memasuki kawasan permukiman warga sehingga menimbulkan banjir di beberapa titik terdampak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum kejadian dan penanganan bencana yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat, pada periode Minggu (15/3), pukul 07.00 WIB, sampai dengan Senin (16/3), pukul 07.00 WIB. Berikut ini beberapa peristiwa yang dilaporkan pada kurun waktu tersebut.

Bacaan Lainnya

Banjir dilaporkan terjadi di dua kecamatan, yakni Kedungkandang dan Blimbing. Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Lowokwaru dan Kelurahan Tulusrejo di Kecamatan Kedungkandang, serta Kelurahan Purwodadi di Kecamatan Blimbing. Akibat kejadian ini, sekitar 22 kepala keluarga terdampak dengan jumlah rumah yang mengalami dampak kurang lebih 22 unit.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang melakukan koordinasi dengan berbagai instansi terkait serta perangkat kecamatan dan kelurahan setempat. Tim juga melakukan asesmen di lokasi kejadian untuk mengidentifikasi kondisi lapangan dan kebutuhan penanganan lebih lanjut. Selain itu, upaya penanganan turut melibatkan komunitas relawan, Kelurahan Tangguh, serta Kecamatan Tangguh.

Penanganan kejadian ini juga berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Provinsi Jawa Timur, berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/845/013/2025 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Provinsi Jawa Timur Tahun 2025–2026 selama 155 hari, terhitung sejak 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026.

Genangan banjir di wilayah terdampak dilaporkan mulai berangsur surut. Pemantauan dan koordinasi masih terus dilakukan guna memastikan kondisi masyarakat serta lingkungan kembali normal. Dokumentasi dan informasi kejadian bersumber dari Pusdalops BPBD Kota Malang.

Di Provinsi Jawa Barat, hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama pada Sabtu, (14/3), sekitar pukul 20.00 hingga 21.00 WIB memicu terjadinya tanah longsor di wilayah Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis. Selain faktor curah hujan tinggi, tidak adanya saluran air di sekitar lokasi turut menyebabkan tebing tanah mengalami longsor hingga menimpa tembok penahan tanah rumah warga.

Kejadian ini berdampak pada dua desa di Kecamatan Panawangan, yakni Desa Girilaya dan Desa Gardujaya. Longsoran tanah menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga serta mengancam bangunan di sekitarnya. Sebanyak 6 kepala keluarga atau sekitar 20 jiwa dilaporkan terdampak akibat peristiwa tersebut.

Dari sisi kerugian material, tercatat dua unit rumah mengalami rusak berat, satu unit rumah mengalami rusak sedang, serta tiga unit rumah lainnya berada dalam kondisi terancam. Selain itu, satu unit kandang domba juga dilaporkan tertimpa material dari tembok penahan tanah yang longsor.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Ciamis berkoordinasi dengan aparat setempat untuk melakukan asesmen di lokasi kejadian serta menyalurkan bantuan logistik kedaruratan kepada warga terdampak. BPBD bersama aparat desa dan masyarakat juga melakukan upaya penanganan sementara pada tebing yang longsor secara gotong royong guna mencegah potensi longsor susulan.

Kejadian ini berada dalam cakupan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Provinsi Jawa Barat berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, Gelombang Ekstrem dan Abrasi serta Tanah Longsor Tahun 2025/2026 yang berlaku sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026. Pemantauan dan koordinasi di lapangan terus dilakukan oleh BPBD bersama unsur terkait guna memastikan keselamatan warga serta mengantisipasi potensi kejadian lanjutan.

Beralih ke Provinsi Jawa Tengah, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah Kota Semarang memicu terjadinya tanah longsor pada Minggu, 15 Maret 2026, sekitar pukul 17.30 WIB. Curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan kondisi tanah menjadi labil sehingga terjadi longsoran yang berdampak pada permukiman warga serta infrastruktur di beberapa lokasi.

Peristiwa ini terjadi di dua kecamatan, yakni Kecamatan Ngaliyan dan Kecamatan Banyumanik. Wilayah terdampak di Kecamatan Ngaliyan meliputi Kelurahan Bambankerep, Kelurahan Gondoriyo, dan Kelurahan Tambakaji. Sementara itu di Kecamatan Banyumanik, kejadian dilaporkan terjadi di Kelurahan Gedawang dan Kelurahan Padangsari. Akibat kejadian ini, sekitar lima kepala keluarga dilaporkan terdampak.

Dari sisi kerugian materiil, tercatat sekitar lima unit rumah mengalami kerusakan dengan kategori rusak ringan. Selain itu, satu akses jalan terdampak akibat longsoran tanah, satu instalasi penerangan warga mengalami gangguan, serta satu unit sepeda motor turut terdampak material longsor.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD Kota Semarang bersama unsur terkait seperti Babinsa, Bhabinkamtibmas, perangkat kelurahan dan kecamatan, serta instansi terkait lainnya telah mendatangi lokasi untuk melakukan asesmen awal. BPBD juga melakukan koordinasi dengan berbagai pihak guna menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Kejadian ini telah diantisipasi dengan adanya status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/409 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Tanah Longsor, dan Cuaca Ekstrem Tahun 2025/2026 yang berlaku sejak 23 Oktober 2025 hingga 23 Mei 2026.

Berdasarkan laporan kondisi mutakhir pada Minggu, (15/3), talud jalan yang mengalami longsor dilaporkan belum dilakukan perbaikan. Pemantauan dan koordinasi masih terus dilakukan oleh BPBD bersama unsur terkait guna memastikan keamanan lingkungan serta mengantisipasi potensi longsor susulan. Dokumentasi kejadian bersumber dari laporan Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bapak Bergas.

Tanah Longsor juga melanda Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Hujan dengan intensitas lebat yang mengguyur wilayah Dusun Genjong, Desa Ngadirenggo, di Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar memicu terjadinya tanah longsor pada Minggu, (15/3), sekitar pukul 14.00 WIB. Curah hujan tinggi menyebabkan kondisi tanah di area tebing menjadi labil hingga akhirnya terjadi longsoran yang berdampak pada permukiman warga di sekitar lokasi kejadian.

Peristiwa tersebut mengakibatkan satu orang warga meninggal dunia atas nama Sunyoto. Selain itu, satu kepala keluarga yang terdiri dari lima jiwa turut terdampak akibat kejadian tersebut. Longsoran tanah juga menyebabkan satu unit rumah warga mengalami dampak dari material longsor.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Blitar segera melakukan asesmen serta penanganan di lokasi kejadian. Sebagai langkah awal mitigasi, tim BPBD melakukan pemasangan terpal pada area tebing yang longsor guna meminimalisir potensi longsor susulan. Selain itu, BPBD juga berkoordinasi dengan perangkat desa setempat serta pihak terkait untuk langkah penanganan lanjutan.

Upaya penanganan melibatkan berbagai unsur di lapangan, antara lain BPBD Kabupaten Blitar, Babinsa, perangkat Desa Ngadirenggo, serta masyarakat setempat yang turut membantu proses penanganan secara gotong royong.

Menyikapi bahaya hidrometeorologi, pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sesuai Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/845/013/2025 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi (Banjir, Tanah Longsor, Puting Beliung, dan Rob) Tahun 2025–2026 yang berlaku selama 155 hari, terhitung sejak 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026.

Berdasarkan kondisi mutakhir, area bekas longsoran telah ditutup menggunakan terpal sebagai langkah penanganan sementara untuk mengurangi risiko longsor lanjutan. Pemantauan dan koordinasi di lapangan masih terus dilakukan oleh BPBD bersama unsur terkait guna memastikan situasi tetap aman.

Wilayah lainnya, kejadian banjir bandang melanda Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sumbawa memicu terjadinya bencana banjir bandang pada Minggu, (15/3), sekitar pukul 16.00 WITA. Curah hujan yang tinggi menyebabkan peningkatan debit aliran air secara tiba-tiba sehingga meluap dan menggenangi kawasan permukiman warga.

Banjir bandang dilaporkan terjadi di wilayah Kecamatan Ropang tepatnya di Desa Ropang. Peristiwa tersebut berdampak cukup luas terhadap masyarakat setempat. Hingga saat ini tercatat sekitar 305 kepala keluarga atau sekitar 1.220 jiwa terdampak, namun jumlah tersebut masih dalam proses pendataan lebih lanjut oleh petugas di lapangan.

Dari sisi kerugian material, sekitar 305 unit rumah dilaporkan terdampak akibat banjir bandang tersebut. Selain itu, tiga unit fasilitas umum juga dilaporkan mengalami kerusakan berat, meskipun data rinci masih dalam proses pendataan oleh tim terkait.

Menindaklanjuti kejadian ini, BPBD Kabupaten Sumbawa segera melakukan koordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan setempat. BPBD juga melakukan pelaporan serta penyebaran informasi terkait kejadian bencana, sekaligus menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan penanganan dan asesmen kondisi di lapangan.

Upaya penanganan melibatkan berbagai unsur, antara lain BPBD Kabupaten Sumbawa, TNI/Polri, perangkat desa dan kecamatan, unsur puskesmas, pramuka, relawan, serta masyarakat setempat yang turut membantu proses penanganan bencana.

Kejadian ini berada dalam cakupan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Provinsi Nusa Tenggara Barat berdasarkan Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 100.3.3.1-628 Tahun 2025 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Banjir, Tanah Longsor, dan Cuaca Ekstrem Tahun 2025/2026 yang berlaku sejak 20 November 2025 hingga 31 Maret 2026.

Jaringan listrik di wilayah terdampak dilaporkan masih dalam kondisi padam. Hal tersebut menyebabkan arus pelaporan serta penyebaran informasi dari lokasi kejadian mengalami kendala, sementara proses pendataan dan pemantauan di lapangan masih terus dilakukan oleh tim gabungan.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Masyarakat yang berada di daerah rawan banjir dan tanah longsor diharapkan untuk memantau kondisi cuaca secara berkala, menjaga kebersihan lingkungan terutama saluran air, serta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila terdapat tanda-tanda potensi bencana seperti retakan tanah, peningkatan debit air sungai, maupun pergerakan tanah di sekitar permukiman.

KabarTerkiniNews.co.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *