Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Di tengah gempuran hiburan digital dan budaya populer, masih adakah yang setia menunggu kisah-kisah klasik dipentaskan di atas panggung? Jawabannya datang dari Kotagede. Warga di kawasan bersejarah ini kembali membuktikan bahwa seni ketoprak belum kehilangan penontonnya.
Melalui Kesenian Sanggar Laras Puri Tegalgendu, tradisi itu terus dijaga agar tetap hidup dari generasi ke generasi. Sabtu (13/6/2026) malam, halaman parkir Dinas Kebudayaan Provinsi DIY di Jalan Tegalgendu menjadi saksi pentas Ketoprak Mataram bertajuk “Bermono Kembar”. Pertunjukan tersebut menyuguhkan kisah klasik yang sarat pesan moral tentang kejujuran, kesetiaan, persaudaraan, hingga pentingnya menjaga jati diri.
Ketua Kesenian Sanggar Laras Puri Tegalgendu, Wardoyo, mengatakan, ketoprak bukan sekadar tontonan, melainkan juga media pendidikan karakter yang diwariskan melalui seni pertunjukan.
“Kami ingin membuktikan bahwa ketoprak masih memiliki tempat di hati masyarakat. Melalui cerita-cerita klasik, kami mengajak generasi muda mengenal budaya Jawa sekaligus mengambil nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Kisah “Bermono Kembar” diawali dengan pasangan suami istri yang telah lama mendambakan momongan. Setelah sang istri akhirnya mengandung, ia menginginkan madu beserta sarang lebah. Saat sang suami pergi ke hutan mencarinya, seorang jin yang jatuh hati kepada sang istri memanfaatkan kesempatan itu dengan menyamar sebagai Bermono dan pulang membawa madu.
Kehadiran dua sosok Bermono membuat sang istri kebingungan hingga perkara tersebut dibawa ke pengadilan di sebuah kadipaten. Sang Adipati kemudian menggelar sayembara untuk menentukan siapa Bermono yang asli.
Seorang demang yang sebelumnya difitnah menawarkan cara cerdik dengan meminta keduanya masuk ke dalam sebuah kendi yang telah diberi mantra. Jin yang menyamar berhasil masuk, namun tidak dapat keluar sehingga penyamarannya terbongkar.
Atas jasanya, sang demang dipulihkan kembali kedudukannya sebagai hakim.Tak hanya menawarkan alur cerita yang menarik, para pemain juga berhasil menghidupkan suasana melalui dialog jenaka, logat khas, serta akting pemeran utama Bermono Kembar yang mengundang gelak tawa penonton. Di balik humor yang disajikan, pertunjukan tetap menyisipkan pesan moral yang mengajak masyarakat untuk selalu menjunjung kejujuran dan kebenaran.

Pentas semakin semarak dengan iringan gamelan Jawa lengkap, sinden, tarian tradisional, serta penggunaan bahasa Jawa ngoko dan krama yang memperkuat nuansa budaya Mataram.
“Melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan mengingatnya, tetapi harus dipentaskan dan dinikmati bersama. Selama masyarakat masih datang menonton, ketoprak akan tetap hidup,” kata salah seorang pelaku seni Laras Puri Tegalgendu.
Melalui pentas “Bermono Kembar”, Sanggar Kesenian Laras Puri Tegalgendu kembali menegaskan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari identitas budaya yang masih relevan untuk menghibur sekaligus mendidik masyarakat hingga hari ini.
Dhani








