Sumber Foto : Tim PKM dan Pixabay
Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Pencemaran mikroplastik yang telah ditemukan pada air minum hingga bahan baku pakan komersial ayam broiler. Partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh ternak diketahui dapat memicu stres oksidatif, merusak saluran pencernaan, mengganggu penyerapan nutrisi, hingga menurunkan performa pertumbuhan ternak.
Selain berdampak pada kesehatan hewan, kondisi ini juga berpotensi membahayakan manusia melalui transfer trofik ketika produk ternak dikonsumsi.
Tim PKM Mahasiswa UGM mengembangkan inovasi feed additive alami berbasis nanopartikel dari daun kirinyuh (Chromolaena odorata). Produk ini dirancang memiliki mekanisme kerja ganda, yakni sebagai adsorben alami untuk mengikat mikroplastik di saluran pencernaan sekaligus sebagai sumber senyawa antioksidan alami.
Inovasi ini dikembangkan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang diketuai oleh Fauzan Akbar Nugroho dari Program Studi S1 Ilmu dan Industri Peternakan angkatan 2024. Dalam pelaksanaan risetnya, tim ini turut melibatkan kolaborasi lintas disiplin bersama mahasiswa dari berbagai fakultas di UGM di bawah bimbingan Dr. Moh. Sofi’ul Anam, S.Pt., M.Sc.
Tim tersebut terdiri atas Fauzan Akbar Nugroho dan Dhiaz Larasati dari Fakultas Peternakan, Dimas Jati dari Sekolah Vokasi, Muhammad Fazli dari Fakultas Biologi, serta Nabilla Saver dari Fakultas Farmasi.
Fauzan mengatakan inovasi dari hasil kolaborasi lintas bidang ini dilakukan untuk menghadirkan solusi inovatif terhadap permasalahan mikroplastik yang kini menjadi ancaman serius bagi rantai makanan terestrial.
“Ukuran partikel berskala nano pada produk dari daun Kirinyuh ini memungkinkan peningkatan luas permukaan sehingga mampu mengikat mikroplastik secara lebih efektif dan membantu proses ekskresi melalui feses,” katanya, Selasa (9/6).
Sumber Foto : Tim PKM dan Pixabay
Selain itu, kata Fauzan, kandungan flavonoid dan senyawa fenolik pada daun kirinyuh berperan dalam menekan stres oksidatif serta membantu menjaga kesehatan jaringan usus ternak.
Fauzan mengharapkan riset yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi salah satu langkah inovatif dalam mendukung keamanan pangan dan produktivitas peternakan berkelanjutan.
“Riset kolaborasi lintas bidang ilmu bisa mendukung SDGs dari aspek ketahanan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Jelita Agustine & KabarTerkiniNews.co.id








