Kirab Malam Satu Suro, Warga Dukuh Kapurancak Hidupkan Kembali Tradisi Ruwat Rawat Rancak Gringsingan

Boyolali, KabarTerkiniNews.co.id – Masyarakat Dukuh Kapurancak RT 03, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Boyolali, kembali menggelar tradisi Ruwat Rawat Rancak Gringsingan pada malam 1 Suro, Senin (15/6) malam. Tradisi yang sempat vakum akibat pandemi Covid-19 tersebut dihidupkan kembali sebagai bentuk upaya meruwat dan merawat desa sekaligus tolak bala.

Ketua panitia penyelenggara, Farid Burhanuddin, menjelaskan bahwa Rancak Gringsingan memiliki makna filosofis yang mendalam. Menurutnya, “rancak” berarti keteraturan, sedangkan “gringsing” dimaknai sebagai penawar dari luka atau hal-hal buruk.

Bacaan Lainnya

“Rancak Gringsingan dilakukan sebagai cara meruwat dan merawat lingkungan sekaligus sebagai bentuk tolak bala yang dilakukan masyarakat Dukuh Kapurancak,” ujar Farid.

Sebelum kirab dimulai, warga terlebih dahulu bergotong royong membersihkan lingkungan desa dan kawasan Umbul Sumber. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kirab mengelilingi kampung sambil melantunkan zikir dan selawat. Para peserta juga menabuh alat-alat pertanian sebagai simbol penjagaan alam, sawah, dan sumber mata air pada malam hari.

Rombongan kirab kemudian menuju Umbul Sumber, yang dipercaya sebagai mata air tertua di Desa Kopen.

“Kami menuju salah satu mata air tertua di Desa Kopen yang diyakini sebagai sumber awal kehidupan masyarakat setempat. Di sana kami melakukan sedekah air sebagai harapan agar debit air tetap terjaga dan mata air dapat kembali mengalir lebih baik,” jelasnya.

Selama prosesi berlangsung, peserta berjalan tanpa alas kaki dan membawa obor. Menurut Farid, berjalan tanpa sandal melambangkan kedekatan manusia dengan bumi dan alam, sedangkan obor menjadi simbol penerangan dalam menjalani kehidupan.

Puncak acara ditandai dengan pemadaman lampu rumah warga selama kirab berlangsung. Suasana kampung yang gelap gulita hanya diterangi cahaya obor dan lantunan selawat, menciptakan nuansa khidmat yang sarat makna.

“Pemadaman lampu ini merupakan simbol tapa bisu pati geni. Maknanya, manusia pada akhirnya akan kembali ke bumi dan menghadapi kegelapan. Selain memiliki nilai spiritual, suasana ini juga menghadirkan nilai artistik yang kuat,” tambah Farid.

Sepanjang perjalanan, warga memanjatkan doa, selawat, istigfar, serta bacaan Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nasir. Selain itu, tradisi sedekah air diwujudkan melalui sedekah bumi berupa makanan dan jajanan pasar khas Jawa.

Setelah kirab selesai, warga berkumpul dan menikmati tumpeng yang disajikan dalam jumlah ganjil sebagai simbol harapan dan keberkahan.

Farid mengatakan, sebelum pandemi tradisi ini rutin digelar setiap tahun pada malam 1 Suro atau 1 Muharam. Ia berharap kegiatan tersebut dapat kembali menjadi agenda tahunan masyarakat Dukuh Kapurancak.

“Setiap malam 1 Suro atau 1 Muharam, tradisi kirab maupun tapa bisu akan terus kami laksanakan sebagai bentuk pelestarian budaya dan kearifan lokal,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu pemuda setempat, Zaky, mengaku bangga tradisi tersebut kembali digelar. Menurutnya, kegiatan itu menjadi sarana penting untuk mengenalkan budaya desa kepada generasi muda.

“Senang sekali karena sekarang banyak anak muda yang mulai tidak mengenal tradisi desanya sendiri. Kegiatan seperti ini bisa menjadi pengingat sekaligus upaya melestarikan kebudayaan,” tuturnya.

Tradisi Ruwat Rawat Rancak Gringsingan diharapkan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal dan menjaga warisan leluhur.

Taufik Irvani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *