Harapan Penyandang Disabilitas Boyolali Mendapat Kesempatan yang Setara

Boyolali, KabarTerkiniNews.co.id – Memiliki keterampilan ternyata belum tentu menjamin seseorang mudah memperoleh pekerjaan. Kondisi itulah yang masih dirasakan sebagian penyandang disabilitas di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Di tengah upaya mereka untuk hidup mandiri, akses terhadap dunia kerja yang lebih inklusif masih menjadi tantangan.

Salah satunya dialami Ririn, penyandang tuna daksa asal Boyolali. Selama lebih dari empat tahun, ia bekerja sebagai pembatik di Sanggar Inklusi Srikandi Putra. Selain membatik, Ririn juga telah mengikuti pelatihan menjahit sebagai bekal untuk meningkatkan keterampilannya.

Bacaan Lainnya

Meski telah memiliki kemampuan dan memperoleh penghasilan dari membatik, Ririn mengaku masih berharap mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih tetap. Ia bahkan pernah mengikuti bursa kerja pada 2025, namun belum berhasil lolos seleksi.

“Saya sudah pernah ikut pelatihan menjahit sama membatik. Saya juga pernah ikut job fair tahun 2025, tapi belum lolos. Kalau ada kesempatan pekerjaan yang lebih baik tentu saya mau. Saya juga ingin punya usaha yang sesuai dengan kondisi saya,” ujar Ririn.

Harapan serupa juga disampaikan Giyarto, penyandang disabilitas yang kini bekerja sebagai penjahit di rumahnya. Berbekal mesin jahit yang disesuaikan dengan kondisi fisiknya, ia mampu menjalankan usaha secara mandiri. Selama ini, Giyarto juga telah mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari menjahit, pemasaran digital, hingga tata boga.

Menurut Giyarto, pelatihan kerja menjadi bekal penting agar penyandang disabilitas mampu hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Ia berharap pelatihan yang diberikan ke depan semakin beragam sehingga membuka peluang kerja yang lebih luas.

“Teman-teman disabilitas itu harus mandiri dan tidak tergantung pada orang tua. Saya berharap pelatihannya tidak hanya menjahit, tapi juga komputer, elektronik ringan, dan keterampilan lain supaya teman-teman punya lebih banyak kesempatan kerja,” katanya.

Kisah Ririn dan Giyarto menjadi gambaran bahwa keterampilan saja belum cukup tanpa adanya akses terhadap dunia kerja yang inklusif. Kondisi tersebut mendorong Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama Kementerian Ketenagakerjaan meluncurkan Program Pelatihan dan Penempatan Kerja bagi Penyandang Disabilitas di Kabupaten Boyolali, Jumat (31/7/2026).

Program tersebut dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Digitalisasi, Keuangan, dan Operasional Mokhamad Mahdum, Bupati Boyolali Agus Irawan, serta sejumlah pejabat daerah.

Melalui program ini, BAZNAS RI memberikan dukungan senilai Rp250 juta kepada 25 penyandang disabilitas. Bantuan tersebut mencakup pelatihan keterampilan, pendampingan intensif, hingga fasilitasi penempatan kerja yang disesuaikan dengan potensi masing-masing penerima manfaat.

Pimpinan BAZNAS RI Bidang Digitalisasi, Keuangan, dan Operasional Mokhamad Mahdum mengatakan, penyandang disabilitas masih menghadapi berbagai tantangan untuk masuk ke dunia kerja, mulai dari keterbatasan akses pelatihan hingga lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif.

“Keterbatasan akses terhadap pelatihan keterampilan, rendahnya tingkat penerimaan di dunia kerja, serta minimnya lingkungan kerja yang inklusif menjadi faktor utama yang memperlemah partisipasi angkatan kerja disabilitas. Inilah yang BAZNAS dan Kemnaker upayakan bersama, membuka akses pelatihan, pendampingan, dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas,” ujar Mahdum.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan BAZNAS menjadi salah satu langkah untuk memperluas kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

“Dengan adanya pelatihan ini, saya yakin program ini harus dan bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ini adalah upaya kita untuk memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang,” kata Yassierli.

Bupati Boyolali Agus Irawan menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Ia berharap pelatihan dan pendampingan yang diberikan dapat membuka lebih banyak peluang kerja bagi penyandang disabilitas sekaligus memperkuat komitmen Boyolali sebagai kabupaten yang inklusif.

Bagi Ririn dan Giyarto, kesempatan bekerja bukan hanya soal memperoleh penghasilan. Kesempatan itu juga menjadi bentuk pengakuan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan, potensi, dan hak yang sama untuk berkarya serta hidup mandiri.

Taufik Irvani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *