Pekalongan, KabarTerkiniNews.co.id – Semangat gotong royong masih terjaga kuat di Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Pemerintah Desa Tengengwetan bersama masyarakat, organisasi masyarakat Pemuda Pancasila, serta unsur TNI dan Polri bergotong royong membangun rumah bagi seorang warga terlantar di RT 01 RW 02 Dukuh Silumbu, Jumat (31/7/2026).
Aksi sosial tersebut diprakarsai langsung oleh Kepala Desa Tengengwetan, Rohmat, sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Selama ini, keluarga penerima bantuan diketahui tinggal sementara di gedung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan kondisi yang sempit bersama empat orang anaknya.
Kepala Desa Tengengwetan, Rohmat, mengatakan pembangunan rumah tersebut menjadi prioritas karena menyangkut kebutuhan dasar warga. Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah memastikan keluarga tersebut memiliki tempat tinggal yang layak.
“Yang saya utamakan di sini karena memang mendesak, yaitu warga yang tidak punya tempat tinggal. Tujuannya supaya mereka punya tempat tinggal. Selama ini tinggal di BUMDes, tempatnya sempit dan kasihan karena anaknya empat,” ujarnya.
Rohmat menjelaskan, warga tersebut memang tidak memiliki rumah dan sebelumnya tinggal bersama keluarganya. Namun karena adanya persoalan keluarga, akhirnya tidak lagi memiliki tempat tinggal.
“Intinya warga minta tolong, ya saya tolong. Itu saja,” katanya. Pembangunan rumah tersebut diperkirakan membutuhkan biaya hampir Rp10 juta. Hingga saat ini dana yang berhasil dihimpun baru sekitar Rp5 juta, seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat tanpa menggunakan dana desa.
“Ini murni swadaya masyarakat, bukan dari dana desa. Alhamdulillah masyarakat langsung bergerak membantu,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi kekompakan masyarakat yang tetap menyempatkan bergotong royong meski menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berbagai kegiatan desa mulai padat. Selain pembangunan rumah, pada hari yang sama warga juga melaksanakan kerja bakti serta melanjutkan penataan area pemakaman desa dengan pemasangan penanda makam setelah sebelumnya dilakukan pengurukan.
“Semua komponen masyarakat langsung turun membantu. Hari ini juga kerja bakti semua. Tapi yang saya utamakan tetap kebutuhan tempat tinggal ini karena memang harus didahulukan,” ungkapnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Tengengwetan, Mustofa, menyampaikan apresiasi kepada warga Dukuh Kendayaan dan Dukuh Silumbu yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama dengan bergotong royong membantu keluarga Ibu Nurmaulidya.
Menurutnya, penggalangan dana dilakukan secara swadaya dari pintu ke pintu. Hanya dalam satu malam berhasil terkumpul sekitar Rp5 juta untuk membantu pembangunan rumah.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga yang sudah memberikan bantuan, baik tenaga, materi maupun nonmateri. Saya juga mengajak, siapa yang punya ilmu silakan menyumbangkan ilmunya, yang punya tenaga menyumbangkan tenaganya, yang memiliki rezeki menyumbangkan hartanya. Syukur-syukur kalau ketiganya bisa diberikan sekaligus,” ujarnya.
Mustofa mengatakan, kegiatan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap warga yang terlantar. Ia mengutip amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 34 Ayat (1) yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.
Menurutnya, sebagai ujung tombak pemerintahan, Kepala Desa Tengengwetan mengambil inisiatif mengoordinasikan perangkat desa, masyarakat, serta melibatkan unsur TNI dan Polri untuk bersama-sama membantu membangun rumah bagi warga tersebut.
“Selain itu, Pemerintah Desa Tengengwetan juga terus menjalankan Program Anak Tidak Sekolah (ATS). Salah satu anak dari keluarga penerima bantuan sempat masuk kategori ATS, namun kini telah kembali mengenyam pendidikan di jenjang SMP,” ungkap mustofa.
Ia menambahkan, Untuk mendukung program tersebut, pemerintah desa memberikan bantuan stimulan sebesar Rp50 ribu per bulan kepada setiap anak ATS. Saat ini terdapat tujuh anak penerima sehingga total anggaran yang disalurkan mencapai Rp350 ribu setiap bulan.
Program tersebut telah berjalan sekitar dua tahun. Selain bantuan tunai, pemerintah desa juga telah memberikan dua unit sepeda kepada anak-anak yang membutuhkan sarana transportasi menuju sekolah, dan seluruh pelaksanaannya telah didokumentasikan serta dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan.
Di akhir penyampaiannya, Mustofa berharap nilai gotong royong tetap menjadi budaya yang diwariskan kepada masyarakat.
“Jangan sampai hilang sifat gotong royong. Desa merupakan ujung tombak negara. Kalau desanya baik, kecamatannya baik, kabupatennya baik, provinsinya baik, maka negara juga akan menjadi baik,” pungkasnya.
Kermit







