Beda Perang Lapangan Hijau dan Perang Politik Bagi Timnas Iran

Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id – “Perang” di lapangan hijau sepak bola membuat lawan jatuh dan tersungkur masih diperbolehkan dalam batas aturan tertentu.

Sementara perang di lapangan politik dan kepentingan sering kali berbeda. Musuh bukan hanya ingin dilumpuhkan atau dijatuhkan, tetapi kadang juga dihancurkan hingga tak mampu bangkit lagi.

Bacaan Lainnya

Perbedaan itulah yang sedang diperlihatkan Timnas Iran kepada dunia dalam Piala Dunia 2026.

Ketika konflik Iran dan Israel masih menjadi perhatian internasional, para pemain Iran datang ke Amerika Utara dengan beban yang tidak dimiliki sebagian besar peserta lainnya. Mereka bukan hanya memikirkan lawan yang harus dihadapi selama 90 menit, tetapi juga keluarga dan kampung halaman yang mereka tinggalkan dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Namun begitu peluit pertandingan berbunyi, semua berubah. Di lapangan hijau, perang memiliki aturan. Ada wasit yang menjaga keadilan. Ada garis batas yang tidak boleh dilanggar. Ada peluit yang menghentikan pertarungan. Dan ketika pertandingan berakhir, lawan tetap bisa saling menghormati.

Sesuatu yang kadang sulit ditemukan dalam perang yang sesungguhnya. Walau punya aturan juga. Di Grup G, Iran menunjukkan karakter yang selama ini melekat pada bangsa mereka. Tangguh pantang menyerah walau diembargo.

Menghadapi Selandia Baru, mereka dua kali tertinggal sebelum akhirnya berhasil menyepak kekalahan menjadi 2-2. Saat menghadapi Belgia, tantangannya bahkan lebih berat. Tim yang diperkuat pemain-pemain kelas dunia itu terus menekan, tetapi Iran bertahan dengan disiplin luar biasa.

Di bawah mistar, Alireza Beiranvand menjadi tembok terakhir. Beberapa penyelamatan pentingnya menjaga skor tetap 0-0 hingga peluit akhir berbunyi.

Para pemain Iran saling berpelukan. Bukan karena mereka menang. Tetapi karena mereka berhasil menjaga harapan dan tetap dipandang lawan.

Dua poin dari dua pertandingan membuat peluang mereka menuju babak berikutnya masih terbuka. Laga melawan Mesir akan menjadi penentuan nasib mereka di Piala Dunia ini. Namun kisah paling menyentuh justru terjadi jauh dari lapangan pertandingan.

Berangkat dari berbagai kendala perjalanan dan situasi geopolitik, Iran menjadikan Tijuana, Meksiko, sebagai markas selama fase grup. Mereka datang sebagai orang asing yang menjadi sorotan dunia.

Mungkin awalnya mereka tetap khawatir dan waspada. Ada faktor non teknis yang mengganggunya. Tetapi yang mereka temukan justru kehangatan.

Anak-anak Meksiko berdiri di pinggir jalan membawa bendera Iran. Warga menunggu berjam-jam di depan hotel hanya untuk melihat para pemain lewat. Banyak yang menyebut Iran sebagai “tim kedua” mereka selama Piala Dunia berlangsung.

Para pemain tidak menyangka akan mendapatkan sambutan seperti itu. Mereka yang datang membawa kecemasan, justru mendapatkan dukungan dan pelukan.

Kedua perlakuan itu begitu membekas. Sehingga, usai laga melawan Belgia, para pemain Iran meninggalkan surat tulisan tangan di ruang ganti Stadion SoFi, Los Angeles. Isinya bukan protes, bukan pernyataan politik, melainkan ucapan terima kasih kepada masyarakat Los Angeles dan rakyat Meksiko yang telah membuat mereka merasa diterima. Haru.

Gelandang senior Alireza Jahanbakhsh mengaku para pemain merasa seperti berada di rumah sendiri. Sebuah kalimat sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam bagi tim yang datang dari negeri yang sedang dirundung konflik.

Apa pun hasil pertandingan melawan Mesir nanti, Iran telah menghadirkan salah satu kisah paling manusiawi di Piala Dunia 2026.

Kisah tentang bagaimana sepak bola mampu mempertemukan orang-orang yang berbeda bahasa, budaya, dan sejarah bisa menyatu. Kisah tentang bagaimana lawan di lapangan tidak harus menjadi musuh dalam kehidupan. Dan kisah tentang kebaikan sering kali lahir dari orang-orang biasa.

Nelson Mandela pernah berkata, “It is so easy to destroy. The heroes are those who make peace and build.” Sangat mudah untuk menghancurkan. Pahlawan sesungguhnya adalah mereka yang membangun dan menghadirkan perdamaian.

Mungkin itulah kemenangan terbesar Iran di Piala Dunia 2026. Bukan hasil imbang melawan Belgia. Bukan pula peluang mereka untuk lolos ke babak berikutnya.

Iran dan rakyat Mexico berhasil mengingatkan dunia bahwa di tengah bayang-bayang perang, manusia masih bisa memilih untuk saling menghormati.

Yusuf Ibrahim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *