Polemik Penetapan Lokasi Muktamar NU, Kepentingan Apa atau Kepentingan Siapa?

Kediri – Pelaksanaan Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri pada Tanggal 19-22 Juni 2026, meninggalkan sedikit noda ketika terjadi kericuhan saat akan menetapkan lokasi Muktamar Nahdlatul Ulama mendatang.

Momen kericuhan tersebut banyak berseliweran di media sosial, namun tidak semua narasi tentang hal tersebut menceritakan kejadian sebenarnya.

Bacaan Lainnya

Terlihat awalnya pelaksanaan sidang di Komisi Organisasi berjalan lancar. Prof. Dr. KH. Asrorun Ni’am awalnya menyampaikan kesimpulan hasil sidang pada komisi tersebut, termasuk menyampaikan usulan lokasi pelaksanaan muktamar.

Ada 5 usulan lokasi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat dan Jawa Timur tepatnya Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Setelah penyampaian kesimpulan rapat itu, kemudian pimpinan sidang kembali diambil alih oleh KH Akhmad Asrori.
Pada saat itu, KH Akhmad Asrori langsung menyebut Pondok Pesantren Lirboyo diputuskan menjadi lokasi muktamar tanpa meminta meminta persetujuan pimpinan sidang lainnya.

Keputusan yang tiba-tiba memancing reaksi dari pimpinan sidang lain, seperti KH Muhammad Nuh yang terlihat kaget dan sempat menghalangi tindakan sepihak oleh KH Akhmad Asrori tersebut.

Reaksi keras juga muncul dari para peserta sidang, hampir semua peserta berteriak menolak keputusan yang diambil sendiri tersebut.

Teriakan dan saling tuding pun terjadi, membuat arena sidang menjadi kacau. Tidak lama, Rois Aam KH Miftahul Achyar langsung berjalan ke panggung dekat pimpinan sidang dan mengambil pengeras suara.

Dengan penuh khidmat dan kebijaksanaan, Kiai Mif kemudian menganulir keputusan sepihak itu. Sesuai dengan hasil sidang sebelumnya, soal lokasi muktamar dikembalikan kepada PBNU untuk memilih, setelah melakukan survey dan kesiapan masing-masing lokasi yang diusulkan para peserta sidang.

Pernyataan Kiai Mif membuat suasana kembali mencair dan meredakan semua kericuhan yang terjadi. Sikap KH Akhmad Asrori yang secara sepihak memutuskan lokasi muktamar di Pondok Pesantren Lirboyo itu, meninggalkan pertanyaan besar.

Kenapa keputusan yang sebelumnya sudah ditetapkan ada 5 calon lokasi, dengan otoriter serta pemaksaan langsung mengetuk palu untuk Pondok Pesantren Lirboyo. Ada kepentingan apa atau kepentingan siapa, ini menjadi pertanyaan bagi Kalangan Nahdliyin.

Agus Pardesi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *