Kekeringan Meluas di Sukoharjo, 2.724 Jiwa Terdampak, Warga Gali Sumur hingga 90 Meter Tetap Tak Dapat Air

SUKOHARJO, KABAR TERKINI NEWS.CO.ID – Krisis air bersih masih menjadi persoalan bagi warga sejumlah wilayah di Kabupaten Sukoharjo. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo mencatat sebanyak 2.724 jiwa atau 849 kepala keluarga terdampak kekeringan yang tersebar di tiga kecamatan dan 10 desa.

Salah satu wilayah yang kini mengalami dampak kekeringan cukup parah adalah Desa Kedungjambal, Kecamatan Tawangsari. Di desa tersebut, sebanyak 372 kepala keluarga atau 1.082 jiwa terdampak kekurangan air bersih.

Kondisi ini membuat warga harus mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Bahkan, persoalan kekeringan disebut bukan baru terjadi tahun ini.

Sudah Empat Tahun Warga Merasakan Kekeringan

Kepala Desa Kedungjambal, Suminta, mengatakan persoalan kekeringan telah dirasakan masyarakat selama sekitar empat tahun terakhir. Menurutnya, kondisi sumber air di wilayah tersebut semakin sulit diandalkan, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Kekeringan ini sudah dirasakan warga sekitar empat tahun terakhir. Sumur-sumur warga semakin sulit mendapatkan air,” ujar Suminta.

Upaya mencari sumber air juga telah dilakukan warga dengan menggali sumur hingga puluhan meter. Namun, kedalaman sumur yang mencapai sekitar 80 hingga 90 meter belum juga menjamin ketersediaan air.

Sudah ada yang menggali sampai 80 bahkan 90 meter, tetapi air tetap tidak ada,” lanjutnya.

Kondisi tersebut membuat warga harus mengandalkan bantuan air bersih maupun membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga Terpaksa Membeli Air

Salah seorang warga Kedungjambal, Suratno, mengatakan selama ini masyarakat terpaksa membeli air ketika bantuan air bersih belum datang. Menurutnya, kebutuhan air tidak bisa ditunda karena digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga.

Selama ini kalau air tidak ada, ya kami beli. Kalau bantuan belum datang, terpaksa membeli air untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Suratno.

Air yang dibeli warga dikemas menggunakan jerigen dengan harga sekitar Rp3.500 per jerigen.

Bagi warga yang membutuhkan air dalam jumlah lebih banyak, pengeluaran untuk membeli air tentu menjadi beban tambahan, terutama ketika kondisi kekeringan berlangsung cukup lama.

BPBD Salurkan Ratusan Tangki Air

Sementara itu, BPBD Sukoharjo terus melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah terdampak.

Berdasarkan data BPBD, saat ini terdapat tiga kecamatan dan 10 desa yang terdampak kekeringan dengan total 849 kepala keluarga atau 2.724 jiwa.

Hingga saat ini, sebanyak 946 tangki air bersih telah disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Penyaluran bantuan dilakukan dengan melibatkan pemerintah maupun sejumlah pihak lainnya. Bantuan terakhir antara lain berasal dari PMI, Puskesmas Sukoharjo, dan Yonif TP 449 Satrio Honggopati Sukoharjo.

Kepala BPBD Sukoharjo, Ariyanto, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan sekaligus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami kekeringan.

Kami terus melakukan distribusi air bersih dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak,” ujar Ariyanto.

BPBD juga mengimbau pihak-pihak yang ingin memberikan bantuan air bersih agar terlebih dahulu berkoordinasi dengan BPBD Sukoharjo.

Koordinasi tersebut dilakukan agar distribusi bantuan dapat dilakukan secara merata dan menyasar wilayah yang benar-benar membutuhkan.

Bagi warga Kedungjambal, persoalan kekeringan kini bukan sekadar persoalan musim kemarau. Selama bertahun-tahun, mereka harus beradaptasi dengan semakin sulitnya mendapatkan sumber air, sementara sumur hingga puluhan meter pun belum mampu menjawab kebutuhan tersebut.

 Tio Nusa

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *