Magelang, KabarTerkiniNews.co.id – Kasus penganiayaan terhadap seorang guru perempuan di Desa Sambak mulai terkuak. Polisi mengamankan seorang remaja berinisial D. Diketahui D merupakan salah satu murid di sekolah tempat korban mengajar.
Menurut penuturan korban, ia sudah menaruh rasa curiga sejak sekitar dua bulan lalu. beberapa kali, pada dini hari sewaktu korban salat malam mendengar suara langkah kaki di luar rumah. Namun ia tak berani mengecek ke luar karena di rumah hanya ada dua orang. ia dan ayahnya yang sedang dalam kondisi sakit.
Korban memang hanya tinggal berdua bersama ayahnya di rumah tersebut. Karena selain masih lajang, korban juga sudah ditinggal meninggal ibunya sejak ia berusia belasan. Sementara kakak perempuannya sudah tinggal dengan suaminya.
Karena itu pula, sesaat setelah kejadian dan sadar dari pingsan, orang pertama yang ia cari adalah ayahnya, ia berjalan terhuyun dengan kepala bersimbah darah menuju kamar ayahnya. Beruntung, ayahnya tidak turut menjadi korban penganiayaan.
“Adik saya datang menghampiri Bapak sambil sesekali mengecek kondisi sekitar. Mungkin karena merasa kondisinya cukup parah. Karena di kamar bapak ia sempat muntah darah. Bapak yang memang dalam kondisi stroke, hanya menangis.”, kata Nastiti kakak korban.
Sementara itu, Eni Nurhitah Asfianti Kepala sekolah di tempat korban mengajar mengungkapkan bila korban adalah seorang guru yang bijaksana dan disukai anak-anak.
“Tidak pernah bu enjang itu bentak-bentak kasar atau marah-marah. Setiap mengingatkan anak beliau selalu dengan tutur kata yang halus. Ya sewajarnya seorang guru menegur anak didik ketika melakukan kesalahan”.
Ia juga mengungkap bahwa terduga pelaku memang mendapatkan perhatian ekstra dari pihak sekolah, termasuk dari korban yang memang mengampu bagian kesiswaan. Diketahui bila terduga pelaku mengalami broken home.
“Bu Enjang itu guru yang baik hati. Beliau bahkan pernah membagi bekal ke anak itu. Karena saat itu ia tidak membawa bekal ke sekolah”, Katanya.
Lebih lanjut kepala sekolah juga menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas kejadian ini. Selama ini, pihak sekolah sudah rutin melakukan pembinaan karakter, sikap, maupun adab kepada semua anak didik. Namun, kata dia, hal itu juga perlu dukungan adanya lingkungan keluarga yang positif.
“Semoga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di sekolah mana pun. Kami juga mengajak kepada para orang tua siswa untuk semakin mempererat kerjasama demi kebaikan anak-anak kita”. Katanya.
Sementara itu, ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Kecamatan Kajoran Muhammad Ainur Rofiq menyebut kejadian serupa berpotensi terjadi di sekolah manapun. Sekolah di kota, di desa, sekolah favorit atau bahkan sekolah unggulan sekalipun. Karena faktor yang membentuk karakter anak-anak itu tidak tunggal. Sekolah adalah salah satu faktor. Dan masih ada faktor lain yakni keluarga, pertemanan dan lain-lain.
“Kejadian serupa berpotensi terjadi di sekolah manapun. Sekolah di kota, di desa, sekolah favorit atau bahkan sekolah unggulan sekalipun. Karena faktor yang membentuk karakter anak-anak itu tidak tunggal. Sekolah adalah salah satu faktor.” Ujarnya.
“Tindakan percobaan pencurian dengan kekerasan yang dilakukan pelaku meskipun masih di bawah umur, tetap harus ditindak sesuai aturan dan hukum yang berlaku karena termasuk perbuatan kriminal.” Pungkas Rofiq.
Nurul Abadi





