Warga Doro Keluhkan Layanan PDAM, Air Mengalir Tengah Malam dan Jumlah Tagihan Naik

Pekalongan, KabarTekiniNews.co.id — Air tak kunjung mengalir saat dibutuhkan, tetapi tagihan tetap berjalan. Keluhan terhadap pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Pekalongan kini tak hanya datang dari warga Griya Tirto Asri (GTA), Kecamatan Tirto.

Keluhan serupa juga mencuat dari warga Perumahan Dukuh Tekisan, RT 17 dan RT 19, Desa Dororejo, Kecamatan Doro. Warga mengaku distribusi air kerap terganggu, debit kecil, dan dalam kondisi tertentu air baru mengalir menjelang tengah malam.

Bacaan Lainnya

Bahkan, seorang pelanggan mengaku tagihan air rumah tangganya pernah mencapai sekitar Rp 600 ribu per bulan, hingga tunggakan sempat membengkak menjadi sekitar Rp6 juta.

Air Baru Mengalir Tengah Malam

Salah seorang warga Dororejo, Matori, mengatakan persoalan distribusi air PDAM di wilayahnya bukan baru terjadi. Menurutnya, gangguan pelayanan telah dirasakan selama lebih dari 10 tahun sejak dirinya menjadi pelanggan.

“PDAM yang ada di wilayah kami, khususnya di wilayah Doro, itu sudah lama, hampir 10 tahunan lebih. Tapi sering trouble, sering ada gangguan. Kalau mengalir tiap malam rata-rata jam setengah 12 malam, jam 12 malam. Itu pun debitnya tidak besar,” ujar Matori.

Kondisi tersebut dinilai menyulitkan warga yang membutuhkan air untuk aktivitas rumah tangga pada pagi hingga sore hari. Persoalan semakin pelik karena warga mengaku tetap harus membayar tagihan meskipun pasokan air yang diterima tidak maksimal.

Tagihan Rumah Tangga Disebut Capai Rp 600 Ribu per Bulan

Matori mengungkapkan, tagihan PDAM di rumahnya rata-rata pernah mencapai sekitar Rp 600 ribu setiap bulan.

Menurutnya, besarnya tagihan tersebut menjadi beban, terutama karena penggunaan air rumah tangga dinilai tidak sebanding dengan pelayanan yang diterima. “Kalau ingin tahu, rata-rata punya saya itu rumah tangga, tapi habisnya per bulan Rp600 ribu tagihannya.

Makanya saya sering telat. Kenapa? Karena kalau dikomplain, selalu kita yang disalahkan, bukan memberikan solusi,” katanya. Dia menyebut persoalan serupa juga dirasakan sejumlah pelanggan lain di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan, menurut Matori, beberapa pelanggan akhirnya memilih memutus sambungan PDAM karena tidak sanggup membayar tunggakan yang terus bertambah.

“Ini saja di sekeliling rumah kami banyak yang diputus karena tagihannya membengkak terus. Ada yang Rp1,5 juta, ada yang Rp2 juta tunggakannya. Akhirnya karena pelayanannya tidak memuaskan, mendingan diputus saja,” ujarnya.

Tunggakan Pernah Membengkak hingga Rp6 Juta

Matori juga mengaku pernah memiliki tunggakan tagihan hingga sekitar Rp 6 juta. Dia mengatakan tunggakan tersebut terjadi di tengah kekecewaan terhadap pelayanan serta nilai tagihan bulanan yang menurutnya cukup tinggi untuk kebutuhan rumah tangga.

“Dulu itu tagihannya membengkak sampai Rp6 juta. Karena jujur saja saya kesal, pelayanannya seenaknya sendiri. Isinya tagihan per bulan rata-rata Rp600 ribu. Rumah tangga Rp600 ribu kan kaget,” ungkapnya. Persoalan tersebut kemudian ditindaklanjuti petugas PDAM dengan mendatangi rumah Matori untuk melakukan penagihan sekaligus menawarkan skema pembayaran secara angsuran.

Belum lama ini, petugas dari cabang Kedungwuni juga kembali mendatangi rumahnya. Dalam kesempatan tersebut, Matori mengaku kembali menyampaikan harapan agar pelayanan PDAM dapat diperbaiki. “Yang kemarin dibayar istri saya itu Rp3 jutaan lebih, dilunasi sekalian,” katanya.

Warga Soroti Debit Air dan Putaran Meter

Selain persoalan waktu distribusi, Matori juga mempertanyakan kondisi tekanan air di wilayah perumahannya. Menurutnya, lokasi Perumahan Dukuh Tekisan berada di jalur yang menurun dari arah Doro menuju Sawangan. Ia menduga tekanan air yang rendah dapat menyebabkan masuknya udara ke dalam jaringan pipa.

Kondisi tersebut, menurut dia, diduga turut memengaruhi putaran meter air. “Karena debit airnya kecil, di perumahan kami wilayah Doro itu agak turun dari Doro ke arah Sawangan. Akhirnya yang terjadi, angin yang keluar. Dan itu menyebabkan putaran jarum meter air itu sendiri akhirnya putarnya cepat,” ujarnya.

Namun, dugaan tersebut masih merupakan keluhan dan pandangan dari pelanggan. Diperlukan pengecekan teknis dari pihak PDAM untuk memastikan penyebab gangguan distribusi maupun persoalan pembacaan meter tersebut.

Keluhan Pelanggan Disebut Kerap Dikaitkan dengan Kebocoran Instalasi

Matori mengaku telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pihak PDAM. Namun, menurutnya, pelanggan kerap mendapat jawaban bahwa kemungkinan terdapat kebocoran pada instalasi rumah tangga.

“Kalau dikomplain, bahasanya instalasi rumah tangga ada yang bocor atau apa begitu. Tapi kalau komplain, selalu kita yang disalahkan. Bukan memberikan solusi, tetapi pelanggan yang selalu disalahkan,” katanya.

Dia berharap pihak PDAM tidak hanya melakukan penagihan kepada pelanggan, tetapi juga memberikan solusi terhadap persoalan distribusi air yang telah berlangsung lama.

Keluhan Serupa Muncul di Kecamatan Tirto

Sementara itu, persoalan distribusi air juga sebelumnya dikeluhkan warga Griya Tirto Asri (GTA), Kelurahan Tanjung, Kecamatan Tirto.

Warga mengaku selama sekitar sepekan terakhir kesulitan mendapatkan pasokan air pada siang hingga sore hari. Air disebut baru mulai mengalir pada malam hingga dini hari dengan durasi dan debit yang terbatas. Direktur PDAM Kabupaten Pekalongan, Nur Wachid, mengatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti keluhan tersebut. Nur Wachid menyampaikan bahwa tim akan diturunkan ke lokasi untuk mencari penyebab gangguan distribusi air.

“Terkait keluhan pelanggan, makanya kita akan langsung turunkan tim untuk mencari apa penyebabnya. Apakah karena debit atau apa, apakah karena panas atau ada kebocoran,” kata Nur Wachid melalui sambungan telepon.

Dia juga mengatakan akan berkoordinasi dengan bagian teknik untuk melakukan pengecekan langsung di wilayah yang dikeluhkan warga. “Sebentar saya mau menghubungi Kabag Teknik untuk merapatkan barisan menuju ke sana,” ujarnya.

PDAM Didorong Evaluasi Jaringan hingga Sistem Meter

Munculnya keluhan dari dua wilayah berbeda di Kabupaten Pekalongan tersebut menjadi perhatian terhadap kualitas pelayanan distribusi air bersih kepada pelanggan. Evaluasi tidak hanya diperlukan pada aspek debit dan tekanan air, tetapi juga kondisi jaringan perpipaan, potensi kebocoran, distribusi berdasarkan wilayah, hingga mekanisme pembacaan meter dan penghitungan tagihan pelanggan.

Bagi masyarakat, persoalan utamanya sederhana ketika air dibutuhkan, pasokan harus tersedia dengan tekanan yang memadai dan tagihan harus mencerminkan pemakaian yang sebenarnya. Keluhan warga Doro dan Tirto kini menunggu jawaban konkret dari PDAM Kabupaten Pekalongan.

Apakah gangguan tersebut disebabkan keterbatasan debit, kebocoran jaringan, tekanan air, persoalan teknis, atau faktor lainnya, pemeriksaan lapangan menjadi penting untuk memastikan penyebabnya. Warga tentu berharap persoalan ini tidak berhenti pada penanganan keluhan, tetapi berujung pada perbaikan pelayanan yang benar-benar dirasakan pelanggan.

Kermit

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *