2,5 Juta Liter Air Sudah Didroping, Krisis Air Boyolali Belum Berakhir

BOYOLALI, KABAR TERKINI NEWS – Krisis air bersih akibat musim kemarau terus meluas di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Warga di sejumlah wilayah terpaksa mengandalkan bantuan droping air bersih setelah sumur dan sumber air mereka mulai mengering.

Kondisi tersebut salah satunya terjadi di Desa Sambeng, Kecamatan Juwangi. Saat mobil tangki pembawa air bersih tiba, warga langsung berdatangan dengan membawa ember, jerigen, dan berbagai tempat penampungan air.

Bacaan Lainnya

Warga mengaku telah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama hampir tiga bulan. Air yang tersedia tidak hanya digunakan untuk kebutuhan mandi, mencuci dan kakus, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan ternak.

“kita kekeringan itu sudah dua bulan setengah, sudah susah mencari air bersih, dampaknya sangat luas sekali pak masalahnya kita untuk mck juga susah terus kita untuk pemberian minum ternak kambing dan sapi juga susah untuk mencari air bersih,” ujar Widodo, warga Desa Sambeng.

24.706 Jiwa Terdampak

Krisis air bersih di Boyolali kini telah meluas ke sejumlah wilayah. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Boyolali hingga awal September 2026, sedikitnya 11 kecamatan terdampak kekeringan.

BPBD Boyolali mencatat distribusi air bersih telah mencapai sekitar 2,5 juta liter. Bantuan tersebut menjangkau 32 desa atau kelurahan dan 95 dukuh.

Sebanyak 546 armada tangki telah dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Total penerima dampak mencapai 7.974 kepala keluarga atau sekitar 24.706 jiwa.

Wilayah Boyolali bagian utara dan sejumlah permukiman di lereng Gunung Merapi menjadi kawasan yang mendapat perhatian karena kondisi sumber air warga semakin terbatas.

Sebelumnya, Pemkab Boyolali bersama PMI dan sejumlah unsur lainnya juga melepas 81 tangki air bersih untuk membantu wilayah terdampak. Pemerintah menyebut kawasan lereng Merapi dan Boyolali bagian utara termasuk wilayah dengan kondisi paling parah.

Air Tangki Jadi Tumpuan Warga

Bagi warga, bantuan droping air menjadi sangat penting karena membeli air secara mandiri membutuhkan biaya cukup besar.

Satu tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter dapat membuat warga harus mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah. Kondisi tersebut semakin berat karena air juga dibutuhkan untuk ternak.

Kondisi serupa dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lereng Merapi. Warga bahkan harus membeli air ketika bantuan tidak datang. Di Desa Mriyan, misalnya, warga dilaporkan harus mengeluarkan sekitar Rp175 ribu hingga Rp300 ribu untuk mendapatkan satu tangki air.

Pemkab Siapkan Solusi Permanen

Bupati Boyolali Agus Irawan mengatakan pemerintah terus melakukan penyaluran air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

Namun, menurutnya, droping air melalui mobil tangki bukan solusi permanen. Pemerintah daerah masih mencari berbagai alternatif, termasuk pembangunan sumur dalam dan pemanfaatan sumber air lainnya.

Salah satu opsi yang disiapkan adalah pemanfaatan pasokan air dari Umbul atau Embung Senjoyo dengan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Semarang. Rencana tersebut membutuhkan proses dan waktu untuk direalisasikan.

“Harapannya ke depan benar-benar akan ada solusi yang permanen atau solusi yang bisa mencukupi kebutuhan air bersih di beberapa daerah kita yang membutuhkan,” kata Agus Irawan.

Bagi warga terdampak, solusi permanen menjadi kebutuhan mendesak. Sebab selama sumber air belum kembali tersedia, setiap musim kemarau mereka berpotensi kembali menghadapi persoalan yang sama: menunggu mobil tangki datang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Ahza Irvani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *