Pemalang, KabarTerkiniNews.co.id – Besarnya aktivitas dapur menjadi perhatian karena SPPG Senyum Sehat disebut melayani sekitar 2.900 penerima manfaat setiap hari.
SPPG (Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Senyum Sehat yang berlokasi di Desa Payung, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, kini jadi sorotan atau buah bibir.
Sistem pengelolaan limbah di lokasi tersebut diduga belum berjalan optimal setelah ditemukan kondisi air penampungan yang tampak keruh dan kotor, disertai material yang diduga berupa minyak serta lemak.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pengelolaan limbah dari aktivitas dapur MBG yang setiap hari melayani ribuan penerima manfaat.
Temuan itu terlihat saat awak media melakukan pemantauan lapangan pada Kamis (1/10/2026). Air dari sistem penampungan terlihat meluap hingga mengarah ke saluran umum.
Air Limbah Dapur Dialirkan Sekitar 100 Meter
Berdasarkan pantauan di lokasi, air limbah dari aktivitas dapur dialirkan melalui jaringan pipa paralon dengan jarak sekitar 100 meter menuju kolam penampungan.
Aktivitas pencucian peralatan makan, termasuk ompreng, juga menghasilkan volume air limbah yang cukup besar. Di lokasi, sistem pengolahan limbah diketahui menggunakan grease trap yang terdiri dari empat ruang.
Namun ketika aktivitas dapur berlangsung, air terlihat meluap dari sistem tersebut. Pada bagian permukaan penampungan juga tampak air berwarna keruh dan kotor serta terdapat material yang diduga merupakan minyak dan lemak.
Temuan visual tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan telah terjadi pencemaran lingkungan. Kepastian mengenai kualitas air limbah maupun kandungan material di dalamnya tetap membutuhkan pemeriksaan serta pengujian laboratorium oleh instansi yang berwenang.
Mitra SPPG Akui Persoalan Limbah Sudah Menjadi Perhatian
Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp sekitar pukul 15.15 WIB, H. Turah selaku mitra SPPG Senyum Sehat mengakui bahwa persoalan pengelolaan limbah telah menjadi perhatian pihaknya.
“Ya pak, soal limbah itu sudah saya pikirkan, namun belum ada anggarannya,” ujarnya. H. Turah juga menyampaikan bahwa pihaknya baru melakukan pengurasan terhadap sistem penampungan.
Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi permukaan kolam masih terlihat keruh dan kotor. Material yang diduga berupa minyak dan lemak juga terlihat di bagian permukaan penampungan.
Perbedaan antara keterangan mengenai pengurasan dengan kondisi visual di lapangan tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diverifikasi lebih lanjut oleh instansi terkait.
SPPG Sudah Beroperasi 11 Bulan
SPPG Senyum Sehat diketahui telah beroperasi sekitar 11 bulan dan melayani kurang lebih 2.900 penerima manfaat setiap hari. Saat awak media melakukan pemantauan, Kepala SPPG Puji tidak berada di lokasi.
Awak media kemudian ditemui oleh Aslap SPPG, Anggi. Ketika ditanya mengenai Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), Anggi menyampaikan bahwa SPPG tersebut telah memiliki sertifikat.
Menurutnya, proses sertifikasi tersebut baru selesai sekitar satu bulan terakhir. Status dan dokumen SLHS tersebut selanjutnya perlu diverifikasi kepada instansi penerbit untuk memastikan kesesuaian antara dokumen, persyaratan sanitasi dan kondisi aktual di lapangan.
Pengawasan SPPG jadi Sorotan
Selain persoalan limbah, mekanisme pengawasan terhadap operasional SPPG di wilayah Kecamatan Bodeh juga menjadi perhatian.
Informasi yang diperoleh menyebutkan Kepala SPPG Puji juga menjalankan peran sebagai Korcam SPPG Kecamatan Bodeh. Hal tersebut perlu diperjelas agar mekanisme pengawasan, koordinasi dan pembagian kewenangan dalam operasional SPPG dapat diketahui secara transparan.
Sementara itu, SPPG lain yang berada di Desa Ujunggede, yang disebut dipimpin Yosua Wiratama dan melayani lebih dari 1.700 penerima manfaat, juga sebelumnya pernah menjadi perhatian terkait fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Kondisi tersebut membuat masyarakat membutuhkan penjelasan yang lebih terbuka mengenai standar pengelolaan limbah dan pola pengawasan terhadap seluruh SPPG di wilayah Kabupaten Pemalang.
Satgas MBG dan Instansi Terkait Diminta Turun Tangan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya menyangkut penyediaan makanan bagi penerima manfaat. Aspek keamanan pangan, higiene, sanitasi, hingga pengelolaan limbah juga menjadi bagian penting dari operasional dapur.
Karena itu, Satgas MBG Kabupaten Pemalang bersama Korwil, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan, pemerintah kecamatan serta instansi terkait dinilai perlu melakukan verifikasi langsung terhadap kondisi SPPG Senyum Sehat di Desa Payung.
Pemeriksaan dapat mencakup kondisi grease trap, kapasitas kolam penampungan, jalur pembuangan, fungsi IPAL, kondisi saluran di sekitar lokasi, hingga kualitas air buangan melalui pengujian laboratorium apabila diperlukan.
Langkah tersebut penting agar persoalan yang berkembang di masyarakat tidak berhenti pada dugaan maupun temuan visual semata.
Warga Ikut Mengeluhkan Kondisi Saluran
Sorotan terhadap sistem limbah juga muncul dari lingkungan sekitar. Sejumlah warga yang berada di belakang masjid disebut mengeluhkan kondisi air limbah dari saluran yang berada di sekitar dapur SPPG.
Keluhan tersebut menjadi perhatian karena pengelolaan limbah dapur dalam program MBG tidak hanya berkaitan dengan kapasitas penampungan, tetapi juga bagaimana air buangan dikelola sebelum dialirkan ke lingkungan.
Meski demikian, keluhan warga dan temuan visual di lapangan perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan teknis agar dapat diketahui apakah air buangan tersebut memenuhi ketentuan yang berlaku atau justru terdapat persoalan dalam sistem pengolahannya.
Buka Ruang Klarifikasi dan Hak Jawab
Awak media membuka ruang klarifikasi dan hak jawab kepada seluruh pihak yang berkaitan dengan persoalan tersebut, termasuk Kepala SPPG Senyum Sehat, Yayasan Garuda Dharma Loka, Yosua Wiratama, pihak mitra, Kepala Desa Payung, Korcam Bodeh, maupun instansi pemerintah terkait.
Pemeriksaan secara terbuka, objektif dan terukur diharapkan dapat memberikan kepastian kepada masyarakat mengenai kondisi sebenarnya.
Apabila nantinya ditemukan adanya kekurangan dalam sistem pengelolaan limbah, langkah perbaikan juga diharapkan dapat segera dilakukan agar pelaksanaan program MBG tetap berjalan dengan memperhatikan aspek kesehatan, sanitasi dan lingkungan.
Sebab, yang kini ditunggu masyarakat bukan sekadar dugaan atau sorotan, melainkan jawaban yang bisa dibuktikan melalui pemeriksaan dan data.
Kermit





