Bubur Racing, Fenomena Baru Penuhi Sarapan Pagi Warga Jakarta

Depok, KabarTerkiniNews.co.id – Bubur Racing, sebuah fenomena baru yang sedang berkembang di masyarakat Jakarta. Rombongan kendaraan bermotor roda dengan gerobak menempel di belakang melintas kencang dari arah Tambun, Bekasi , Jawa Barat menuju kawasan Jabodetabek setiap subuh demi mengisi perut warga Jakarta di pagi hari.

Istilah “Bubur Racing”sendiri diberikan oleh para warganet, melihat perjuangan para tukang bubur ini yang sengaja mencari rezeki di setiap sudut pemukiman warga yang tinggal di Jabodetabek.

Bacaan Lainnya

Salah satunya adalah Saedi (28), warga Kampung Gabus, Tambun Utara, Bekasi, Jawa Barat. Sudah hampir dua belas tahun pria yang baru menikah ini menekuni pekerjaan sebagai seorang penjual Bubur Tambun. Ia mulai mempersiapkan dagangan sejak pukul satu dinihari.

“Saya sudah memasak bubur jam satu pagi. Biasanya saya memasak dua dandang besar bubur untuk dijual sampai habis. Sedangkan untuk racikan ayam, cakue dan kerupuk sudah saya kerjakan sejak pukul tiga sore, “ singkat Saedi ketika ditemui KabarTerkiniNews.co.id saat sedang mangkal di daerah Jembatan Jemblongan, Depok Baru, Jawa barat.

Pada pukul empat pagi barulah ia menaikan dua buah dandang besar berisi bubur kedalam gerobak sederhananya yang sudah berada di atas motor.

Barulah kemudian Saedi mulai menata pelengkap dagangannya seperti kerupuk, suwiran ayam sambel, kecap asin, kacang, bawang goreng dan tak lupa tongcai.

Ketika waktu menunjukan pukul setengah lima pagi, Saedi berangkat dari rumahnya bersama teman-temannya untuk konvoi berjualan dengan kendaraan bermotor roda dari Tambun menuju ke Depok tempat dirinya berjualan keliling di kompleks perumahan sekitar Meruyung hingga Cinere, Depok.

Sebelum menjadi penjual Bubur Tambun, Saedi pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah toko kelontong di dekat tempat tinggalnya. Karena penghasilan sebagai penjual Bubur Tambun dirasakan cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari hari ia pun memutuskan untuk melakoni pekerjaan tersebut.

Menjadi penjual Bubur Tambun tidak lepas dari resiko, Saedi pun bercerita awal-awal menjadi tukang bubur, ia pernah mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakan. Pagi itu, ketika Saedi seorang diri memacu kendaraanya untuk berjualan, di daerah sekitaran Bekasi dirinya sempat hampir di todong oleh beberapa orang yang tidak dikenal,

“Beruntung saat itu masih ada orang yang lewat. Saya pun berteriak, sehingga yang nodong lari menjauh. Makanya saya sekarang lebih banyak berangkat bareng teman teman yang akan berjualan bubur ke Jakarta“ kata Saedi.

Saedi pun menjelaskan terdapat perbedaan antara bubur biasa, dan Bubur Tambun. Dalam racikannya, Bubur Tambun hanya menggunakan kecap asin sebagai perasa, kemudian ditambahkan dengan kacang, suwiran ayam dan kerupuk serta tongcai. Fermentasi dari sawi putih inilah yang menjadi perbedaan utama dari Bubur Tambun.

Sepenggal kisah dari Kampung Pulo dan Buwek

Bedasarkan catatan yang ada, keberadan tukang Bubur Tambun tidak lepas dari nama nama Kampung Pulo dan Buwek, Desa Sumber Jaya, Kecamatan Tambun Selatan, Bekasi. Di tempat ini puluhan warganya menggantungkan hidup dari berjualan bubur pagi hari di kota Jakarta dan sekitarnya.

Sejarah Bubur Tambun sendiri, dimulai dari sejumlah warga yang bekerja di rumah makan Tionghoa kemudian mereka mampu meracik bubur khas Negara Tirai Bambu ini sehingga cocok di lidah masyarakat Jakarta. Resep Ini pun diwariskan kepada anak dan cucu sehingga mayoritas penduduknya kini berprofesi sebagai penjual bubur Tambun.

“Kampung Bubur Tambun” istilah ini terasa cocok diberikan kepada Kampung Pulo dan Buwek. Betapa tidak, bila berkunjung kesana akan melihat puluhan motor berjajar di setiap rumah atau kontrakan yang berada di daerah tersebut.

Bahkan menariknya, sebelum menggunakan motor seperti sekarang, di era tahun 80an para penjual Bubur Tambun menggunakan sepeda roda dua untuk berjualan bubur di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Daniel Siahaan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *