Bukan Main Brasil Tim ” Agak Lain” , Maroko Tim ” Makin Lain”

Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id –  Subuh nanti (14/6), Brasil akan menghadapi Maroko di Piala Dunia 2026. Banyak yang memprediksi laga ini akan menjadi salah satu pertandingan paling menarik di fase grup. Sejumlah media internasional bahkan menyebut duel ini sebagai ujian paling ideal pertama bagi Carlo Ancelotti bersama Brasil.

Seperti biasa, setiap kali Brasil datang ke Piala Dunia, mereka selalu membawa aura nama besar. Aura tim yang membuat lawan gugup bahkan sebelum kick-off dimulai.

Bacaan Lainnya

Tetapi lawan Maroko saat ini, rasanya tidak sepenuhnya begitu. Maroko bukan lagi sekadar “wakil Afrika”. Mereka sudah menjadi simbol bahwa sepak bola Afrika bukan lagi figuran Pildun.

Dari sejarah pertemuan, tiga duel terakhir melawan Maroko, Selecao memenangkan dua laga. Termasuk kemenangan 3-0 di Piala Dunia 1998 lewat gol Ronaldo, Rivaldo, dan Bebeto.

Namun ada satu hasil yang diam-diam mengubah cara kita memandang duel ini. Bahwa, kemenangan Maroko 2-1 atas Brasil pada laga persahabatan 2023 di Tangier, membuat Marocco “makin lain”.

Sejak malam itu, Brasil tahu satu hal, bahwa Maroko bukan lagi tim pacarnya “Dewi Foruna”. Mereka layak untuk menjadi penantang.

Sementara itu, kekuatan terbesar Brasil tetap sama seperti puluhan tahun terakhir. Punya kualitas individu yang mampu mengubah pertandingan hanya dalam satu sentuhan talenta yang teracik dalam satu gebrakan serangan. “Agak Lain” memang Brasil dibanding kekuatan sepak bola manapun.

Ketika Vinicius Junior berlari di sisi kiri, Rodrygo menemukan ruang kecil, lalu Bruno Guimarães mulai mengontrol ritme permainan, Brasil bisa terlihat seperti orkestra yang bermain tanpa partitur.

Carlo Ancelotti tampaknya sedang mencoba mengembalikan Brasil menjadi lebih pragmatis. Tidak se-chaotic era sebelumnya. Lebih tenang, lebih Eropa, lebih efisien.

Bahkan Ancelotti mengatakan bahwa rasa takut penting agar timnya tetap berada dalam kondisi “on red alert”. Kalimat itu menarik untuk ukuran Brasil, negara yang biasanya lebih akrab dengan kata percaya diri daripada rasa takut.

Tapi perlu dicatat, Anceloti orang Italia, sejarah mencatat, sejauh ini tim juara Piala Dunia adalah tim yang dilatih warga negaranya sendiri.

Balik lagi, Maroko bukan lawan yang bisa dipermainkan hanya dengan samba, highlight TikTok, dan romantisme sejarah.

Masalah Brasil justru ada pada pertahanan transisi. Ketika fullback mereka naik terlalu tinggi, ruang di belakang sering terbuka. Dan itu adalah makanan favorit Maroko.

Achraf Hakimi mungkin menjadi pemain paling penting dalam pertandingan ini. Ia bukan sekadar bek kanan. Ia seperti singa yang tiba-tiba punya sayap dalam tiga detik.

Saat Hakimi overlap, Sofyan Amrabat menjaga keseimbangan, lalu Hakim Ziyech mulai mencari diagonal ball. Maroko dikenal menyerang dengan sangat vertikal dan brutal. Itulah yang membuat Singa Atlas berbahaya.

Maroko tidak membutuhkan penguasaan bola 65 persen untuk menyakiti lawan. Mereka hanya membutuhkan satu momen ketika shape bertahan lawan rusak.

Dan tim sebesar Brasil punya kecenderungan itu.

Media-media Eropa bahkan mulai menyebut Maroko sebagai “dark horse” paling realistis di turnamen ini. Bukan lagi kejutan romantis seperti di Qatar 2022, melainkan tim yang benar-benar matang secara struktur permainan.

Kepercayaan diri mereka juga sedang tinggi. Mayoritas pemain Maroko bermain di level elite Eropa. Mereka tidak inferior secara teknik maupun mental.

Dalam konferensi pers jelang laga, kubu Maroko bahkan terdengar sangat santai menghadapi Brasil. Mereka menghormati sejarah Brasil, tetapi tidak lagi merasa berada di bawah bayang-bayangnya.

Dan mungkin di situlah letak menariknya duel ini. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Brasil datang ke pertandingan besar bukan sebagai tim yang paling stabil.

Sudah 24 tahun Brasil tidak menjadi juara dunia. Itu terdengar absurd untuk negara yang hidup dan bernapas lewat sepak bola.

Ancelotti datang membawa harapan sekaligus beban sejarah. Reuters bahkan menyebut Brasil saat ini sebagai “bruised Brazil” — Brasil yang sedang terluka dan mencoba bangkit kembali.

Apalagi Neymar dipastikan absen pada laga pembuka. Kehilangannya bukan hanya soal kualitas teknik, tetapi juga pengalaman, karisma, dan kemampuan mengontrol tempo di momen-momen sulit.

Namun tetap saja, ini Brasil. Alasan mengapa jersey kuning itu selalu terasa lebih “mistis” dibanding jersey negara lain.

Bahkan ketika mereka dianggap tidak sempurna, Brasil tetap punya pemain yang bisa mengubah pertandingan dari biasa menjadi mustahil hanya dalam satu detik.

Duel ini akan menarik. Brasil mungkin lebih indah saat menyerang. Tetapi Maroko bisa jauh lebih berbahaya ketika pertandingan berubah kacau.

Jadi usai sholat subuh nanti, atau bagi yang biasa bangun siang, meleklah saat dengar adzan subuh. Karena mungkin kita tidak sedang menonton duel anak-anak Amerika Selatan melawan bocah-bocah Afrika.

Kita akan menyaksikan pertarungan antara kekuatan sepak bola Brasil yang selalu “Agak Lain” melawan Maroko yang “Makin Lain”. Pemenangnya..?? Bukan Main!!!

Yusuf Ibrahim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *