Hydroplus Badminton Invitation 2026 di Semarang, 90 Pelajar dari 16 Sekolah Unjuk Kemampuan

SEMARANG – Pembinaan atlet bulutangkis tidak hanya bertumpu pada klub, tetapi juga dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Semangat inilah yang diusung dalam Hydroplus Junior and High School Badminton Invitation 2026 yang digelar di Polytron Stadium, Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, pada 8–11 Oktober 2026.

Turnamen antarsekolah tingkat SMP dan SMA/SMK swasta tersebut diikuti sekitar 90 pelajar dari 16 sekolah, terdiri atas tujuh SMP dan sembilan SMA/SMK. Para peserta berasal dari sejumlah daerah, antara lain Semarang, Sragen, Yogyakarta, dan Jakarta.

Kompetisi ini digagas bersama Bakti Olahraga Djarum Foundation dan Pengurus Provinsi Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (Pengprov PBSI) Jawa Tengah sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan bulutangkis sejak usia sekolah.

Pembukaan turnamen dilakukan oleh Ketua Umum Pengprov PBSI Jawa Tengah, Akhmad Khafidz Basri Yusuf. Hadir pula perwakilan Djarum Foundation, Bayu Suryanto, Ketua Pelaksana Daryadi, serta panitia pelaksana Darjo Soyat.

Sekolah Dinilai Berpotensi Melahirkan Atlet Berprestasi

Akhmad Khafidz Basri Yusuf menegaskan, pembinaan bulutangkis perlu dikembangkan melalui ekosistem yang berjenjang, mulai dari usia dini hingga tingkat yang lebih tinggi.

Menurutnya, sekolah memiliki potensi besar sebagai pintu masuk pencarian bibit atlet baru. Jumlah sekolah yang besar di Jawa Tengah menjadi peluang untuk memperluas jangkauan pembinaan dan menemukan talenta-talenta potensial.

Melalui kompetisi antarsekolah, para pelajar tidak hanya memperoleh kesempatan menunjukkan kemampuan, tetapi juga mendapatkan pengalaman bertanding yang penting bagi perkembangan mereka.

Djarum Foundation Dorong Budaya Olahraga di Sekolah

Perwakilan Djarum Foundation, Bayu Suryanto, mengapresiasi antusiasme sekolah yang berpartisipasi dalam turnamen tersebut.

Ia berharap kompetisi ini tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga menumbuhkan budaya olahraga dan sportivitas di lingkungan sekolah.

Menurut Bayu, semakin banyak siswa yang tertarik bermain bulutangkis, semakin besar pula peluang munculnya atlet baru. Dalam jangka panjang, ekosistem tersebut juga berpotensi melahirkan mantan atlet yang dapat berkontribusi sebagai pelatih di sekolah.

Pengalaman bertanding juga menjadi bekal penting bagi pelajar untuk membangun mental, meningkatkan sportivitas, serta menambah jam terbang melalui pertemuan dengan lawan dari berbagai daerah.

Ajang untuk Menguji Kemampuan dan Mental Bertanding

Manfaat kompetisi juga dirasakan oleh peserta dari Jakarta Intercultural School (JIS). Pelatih bulutangkis JIS, Chris Sabela, yang pernah menjadi atlet PB Djarum, menilai turnamen ini menjadi kesempatan penting bagi anak asuhnya untuk merasakan atmosfer pertandingan di luar lingkungan sekolah.

Ia mengungkapkan, persiapan tim dilakukan dalam waktu relatif singkat karena informasi mengenai turnamen baru diterima sekitar satu hingga dua bulan sebelum pelaksanaan.

Meski demikian, timnya berharap para pemain dapat tampil maksimal dengan target awal menembus babak semifinal.

Bagi para pemain muda, menghadapi sekolah dari daerah berbeda menjadi pengalaman berharga untuk mengukur kemampuan, mengenali kekuatan lawan, dan belajar menghadapi tekanan pertandingan.

Menggunakan Format Beregu

Hydroplus Junior and High School Badminton Invitation 2026 menggunakan format pertandingan beregu dengan sistem setengah kompetisi. Setiap regu terdiri atas empat hingga enam pemain yang bertanding dalam nomor tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran.

Pada akhir fase kompetisi, tim peringkat pertama dan kedua akan bertemu di partai final untuk memperebutkan gelar juara. Sementara itu, tim peringkat ketiga dan keempat bertanding untuk menentukan posisi ketiga.

Melalui format tersebut, turnamen ini memberikan ruang bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan individu sekaligus membangun kerja sama tim.

Lebih dari sekadar perebutan gelar juara, Hydroplus Badminton Invitation 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem bulutangkis di sekolah. Pembinaan yang dimulai sejak usia pelajar diharapkan membuka lebih banyak kesempatan bagi talenta muda untuk berkembang dan melangkah menuju prestasi yang lebih tinggi.

Reporter: Jovi Nugroho , Editor : Heru Warsito, Lokasi: Semarang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *