Impian Haji Marbot Masjid Terancam Sirna, Tabungan Rp127 Juta di BMT Dinar Mulia Tak Bisa Dicairkan

Foto : Nurcholis - Marbot Masjid A Taqwa Sroyo Jaten Karanganyar

KARANGANYAR kabarterkininews.co.id – Di tengah bergulirnya kasus dugaan hilangnya dana anggota BMT Dinar Mulia Karanganyar, terselip kisah pilu yang dialami Nurcholis, seorang marbot Masjid At Taqwa, Sroyo, Jaten, Karanganyar. Impian yang telah ia rajut selama bertahun-tahun untuk menunaikan ibadah haji bersama keluarga kini terancam kandas setelah tabungan yang disimpannya di BMT Dinar Mulia tak kunjung bisa dicairkan.

Nurcholis bukanlah seorang pengusaha besar maupun investor. Dengan penghasilan yang terbatas sebagai marbot masjid, ia secara disiplin menyisihkan sebagian rezekinya setiap bulan. Nominal yang ditabung pun tidak selalu besar, berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta sesuai kemampuan ekonomi keluarga.

Kesabaran dan kedisiplinan itu akhirnya membuahkan hasil. Selama bertahun-tahun, tabungan milik Nurcholis mencapai sekitar Rp100 juta. Sementara sang istri juga memiliki simpanan sekitar Rp27 juta. Total dana keluarga sebesar Rp127 juta tersebut sengaja dipersiapkan untuk mewujudkan cita-cita berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2028.

Namun harapan itu berubah menjadi kecemasan ketika dana yang tersimpan di BMT Dinar Mulia tidak dapat dicairkan sebagaimana mestinya.

“Saya menabung sedikit demi sedikit untuk biaya haji. Itu hasil bertahun-tahun menyisihkan penghasilan. Sekarang sampai hari ini belum bisa diambil,” ungkapnya.

Bagi Nurcholis, persoalan ini bukan sekadar kehilangan akses terhadap tabungan. Dana tersebut merupakan tiket harapan untuk menunaikan rukun Islam kelima yang telah lama diimpikannya bersama keluarga.

Kasus yang menimpa BMT Dinar Mulia sendiri telah menyeret ribuan anggota dan nasabah. Nilai dana yang dipersoalkan diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Sejumlah korban bahkan telah menempuh berbagai langkah hukum, termasuk mengajukan praperadilan guna memperoleh kepastian atas penanganan perkara yang telah dilaporkan sejak 2024.

Di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung, Nurcholis hanya berharap dana yang menjadi haknya dapat kembali. Ia juga berharap proses hukum yang sedang berjalan dapat segera menemukan titik terang sehingga impian berhaji yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun tidak benar-benar sirna.

“Saya hanya berharap uang tabungan itu bisa kembali. Karena itu memang kami persiapkan untuk berangkat haji,” katanya.

Kisah Nurcholis menjadi gambaran nyata bahwa dampak kasus BMT Dinar Mulia tidak hanya menyangkut angka kerugian miliaran rupiah, tetapi juga menyentuh harapan, cita-cita, dan masa depan banyak keluarga yang mempercayakan hasil kerja keras mereka kepada lembaga tersebut. ( Her/KTN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *