Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) merangkum sejumlah kejadian bencana yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia selama 24 jam, sejak Rabu (9/9) hingga Kamis (10/9) pukul 07.00 WIB. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir masih menjadi bencana yang terus mendapatkan atensi dari pemerintah pusat dan daerah.
Adapun laporan yang pertama, kebakaran lahan bekas perkebunan terjadi di area Simpangan Tiga menuju Batumea, Desa Marobea, Kecamatan Wawonii Tengah, Kabupaten Konawe Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara, pada Selasa (8/9) pukul 12.15 WITA. Kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa, namun mengakibatkan kerugian material berupa ± 2,7 hektare lahan terbakar.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Konawe Kepulauan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat dan unsur pemadam kebakaran untuk melakukan pemadaman menggunakan dua unit mobil pemadam dan alat manual dengan dibantu personel kepolisian, serta terus memantau titik api dan kondisi lingkungan sekitar.
Upaya pemadaman sempat menghadapi kendala berupa keterbatasan sumber air, kondisi cuaca dan angin yang mempercepat penyebaran api, serta kondisi lahan yang kering dan mudah terbakar. Kondisi terkini pada Rabu (9/9) menunjukkan bahwa api sudah padam.
Kebakaran hutan dan lahan terjadi pada (8/9) di sisi timur wilayah Cikasur, Gunung Argopuro, Provinsi Jawa Timur, dengan area kebakaran yang berdekatan dengan perbatasan empat kabupaten, yaitu Kabupaten Situbondo, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Jember, mencakup Kecamatan Pakem, Desa Kupang di Kabupaten Bondowoso serta Kecamatan Krucil, Desa Kalianan di Kabupaten Probolinggo.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, sementara kerugian material tercatat sekitar ± 7 hektare lahan terdampak dan masih dalam proses pendataan. Personel BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Situbondo, dan BKSDA melakukan asesmen serta koordinasi dengan perangkat desa setempat.
Sebanyak 29 personel gabungan melakukan pemadaman secara manual. Penanganan kebakaran ini berlangsung di bawah status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Karhutla di Jawa Timur Tahun 2026 sesuai SK Gubernur Jawa Timur No. 100.3.3.1/327/013/2026 yang berlaku selama 133 hari, serta SK Bupati Probolinggo No. 300.2/326/426.32/2026 yang berlaku selama 66 hari.
Kondisi terkini pada Rabu (9/9) menunjukkan kebakaran telah berhasil dipadamkan, dan tim gabungan masih melakukan penyisiran ulang di lapangan.
Masih di Provinsi Jawa Timur. Kebakaran rumpun bambu terjadi pada Selasa (8/9) di RT 012 RW 004 dan RT 011 RW 012, Desa Jeruk, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Tidak ditemukan korban jiwa, sedangkan kerugian material mencakup ± 1 hektare lahan terdampak.
Personel BPBD Provinsi Jawa Timur bersama unsur terkait melakukan asesmen dan penanganan pemadaman dengan cara pembasahan, manual (gepyok), serta membuat sekat bakar (ilaran).
Penanganan ini juga berada di bawah status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Karhutla di Jawa Timur Tahun 2026 berdasarkan SK Gubernur Jawa Timur No. 100.3.3.1/327/013/2026. Kondisi terkini pada Rabu (9/9) menyatakan bahwa kebakaran berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.30 WIB.
Beralih ke Provinsi Jawa Tengah. Kebakaran terjadi di kawasan Gunung Gajah Mungkur, Desa Gentan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, pada Selasa (8/9) pukul 07.00 WIB.
Kebakaran lahan ini dilaporkan meluas hingga wilayah Kedungsono. Tidak terdapat korban jiwa, sementara kerugian material mencapai ± 18 hektare lahan terdampak.
BPBD Kabupaten Sukoharjo melakukan penanganan dan pemantauan di lokasi kejadian bersama unsur terkait, dengan status penanganan mengacu pada SK Gubernur Jawa Tengah No. 100.3.3.1/237 Tahun 2026 tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 (1/6 s.d. 31/12/2026) serta SK Bupati Sukoharjo No. 300.2/268 Tahun 2026 dengan periode berlaku (1/5 s.d. 30/11/2026).
Kondisi terkini pada Rabu (9/9) menunjukkan bahwa penanganan masih dalam pemantauan, dengan titik api masih terdapat di wilayah Kedungsono.
Kebakaran lahan dan hutan juga terjadi pada Selasa (8/9) sekitar pukul 13.00 WITA di Desa Betaua, Kecamatan Tojo, Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, sedangkan kerugian material tercatat ± 10 hektare lahan terbakar dan masih dalam pendataan. Tim
BPBD Kabupaten Tojo Una-Una melakukan asesmen dan pemantauan titik api guna mengantisipasi api merambat ke permukiman warga, dengan melibatkan TRC BPBD, Damkar, Kepala Desa Betaua, Camat Tojo, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta masyarakat Desa Betaua.
Penanganan di lapangan menghadapi kendala angin kencang, sementara kebutuhan mendesak yang teridentifikasi adalah peralatan mobil pemadaman karhutla. Kondisi terkini pada Rabu (9/9) menyatakan bahwa api belum padam dan penanganan masih terus berlangsung.
Kebakaran hutan dan lahan terjadi pada Senin (31/8) pukul 11.20 WIB di Kecamatan Koba, Kelurahan Simpang Perlang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dengan penyebab yang masih belum diketahui.
Korban jiwa masih dalam proses pendataan, sedangkan kerugian material mencakup ± 1 hektare lahan terbakar dan 1 unit rumah terbakar.
BPBD Kabupaten Bangka Tengah mengerahkan personel dengan alat pelindung diri (APD) dan sarana-prasarana pemadaman karhutla, termasuk 1 unit truk tangki air berkapasitas 5.000 liter, kemudian melaksanakan pemadaman bersama petugas gabungan yang tiba di lokasi serta berkoordinasi dengan warga setempat mengenai kronologi kejadian.
Kendala di lapangan berupa angin kencang turut dihadapi tim, Kondisi terkini pada Rabu (9/9) menunjukkan bahwa api telah padam sejak Senin (31/8) pukul 12.50 WIB.
Kepulan asap dari kejadian karhutla muncul di kawasan lahan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Blok Cileutik, Kecamatan Pasawahan, Desa Singkup, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, pada Senin (7/9). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, sementara kerugian material diperkirakan mencapai ± 40 hektare dan masih dalam pendataan.
TNGC beserta aparat desa berkoordinasi dengan aparat kecamatan, TNI, Polri, dan BPBD Kabupaten Kuningan; BPBD Kabupaten Kuningan turut mengirimkan tim asesmen dan penanganan, sementara tim gabungan.
Sebagai upaya Penanganan, BPBD melakukan pemadaman menggunakan jetshooter serta cara manual. Kebutuhan mendesak yang sangat diharapkan meliputi tim penanganan tambahan, peralatan pemadaman karhutla, dan logistic. Adapun luas kebakaran diperkirakan 40 ha dan masih dilakukan pemetaan oleh pihak TNGC.
Kondisi terkini pada Rabu (9/9) menunjukkan tim gabungan masih melakukan pemadaman, penyekatan, dan pendinginan. Sementara pada pukul 20.00 WIB titik api sudah tidak terlihat meski penyekatan dan pendinginan masih terus dilakukan.
Pada Rabu (9/9) pukul 10.40 WIB, BPBD Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, menerima laporan kebakaran hutan dan lahan di Dusun Engkalong, Desa Nyamun, Kecamatan Kuala Behe, yang bermula dari lahan kosong milik warga dan menyebar ke lahan karet milik warga yang lain, dengan penyebab kebakaran yang belum diketahui.
Kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa, sedangkan kerugian material mencakup ± 6 ha kawasan hutan dan tanaman karet terbakar. BPBD Kabupaten Landak berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan desa, lalu langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman, dengan status penanganan mengacu pada SK Bupati Landak No. 290/BPBD/2026 tentang Penetapan Status Keadaan Siaga Bencana Karhutla di Kabupaten Landak Tahun 2026.
Penanganan di lapangan menghadapi kendala berupa akses air yang jauh dari lokasi (± 500 meter) serta akses lokasi yang sulit ditempuh kendaraan operasional sehingga mobilisasi peralatan dilakukan dengan berjalan kaki. Kondisi terkini pada Rabu (9/9) menyatakan bahwa api sudah berhasil dipadamkan dan masih dalam pemantauan.
Tidak hanya karhutla. Kejadian banjir juga terjadi akibat kiriman debit air dari wilayah hulu yang mengakibatkan air meluap dengan ketinggian sekitar 15–55 cm pada Senin (7/9), di Kecamatan Percut Sei Tuan, Desa Tanjung Rejo, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.
Bencana ini berdampak pada 165 KK atau 733 jiwa, dengan kerugian material mencakup ± 165 unit rumah. BPBD Kabupaten Deli Serdang berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan asesmen di lokasi kejadian, dengan status penanganan mengacu pada penetapan Status Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Banjir, Tanah Longsor, dan Gempa Bumi oleh Gubernur Sumatera Utara melalui SK No. 188.44/468/KPTS/2026.
Kondisi terkini pada Rabu (9/9) menunjukkan banjir di Dusun IV sudah surut, sementara Dusun V dan VI masih tergenang di jalan dan pekarangan rumah warga dengan ketinggian ± 5–30 cm meski warga masih dapat beraktivitas normal, air berpotensi kembali meluap apabila terjadi pasang air laut, terutama jika bersamaan dengan kiriman air dari hulu, dan diperlukan normalisasi di Dusun I Desa Tanjung Rejo karena tumpukan sampah dan ranting pohon yang menghambat aliran air.
BNPB mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau dan potensi kekeringan, di antaranya dengan menghemat penggunaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat di wilayah rawan kekeringan diminta menyiapkan sumber air alternatif, seperti sumur cadangan atau sumber mata air terdekat, serta tidak melakukan aktivitas yang berisiko memicu kebakaran lahan, termasuk membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar, mengingat kondisi vegetasi yang kering sangat rentan menyulut api.
Masyarakat juga diimbau untuk melaporkan segera kepada BPBD atau aparat setempat apabila terjadi kelangkaan air bersih maupun ditemukan titik api di sekitar permukiman, serta senantiasa memantau informasi prakiraan cuaca dan musim dari BMKG guna mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas.
Redaksi





