Sumber Foto : BMKG
Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Laut Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6) menjadi pengingat bahwa kawasan Asia Tenggara berada di lingkungan tektonik yang sangat aktif. Gempa yang berpotensi memicu tsunami hingga sejumlah wilayah Indonesia ini terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme sesar naik (thrust fault).
Dosen Geologi Fakultas Teknik UGM, Ir. Gayatri Indah Marliyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM., menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan salah satu jenis gempa yang umum terjadi di kawasan pertemuan lempeng tektonik seperti Filipina dan Indonesia.
Di wilayah Laut Mindanao terdapat zona subduksi, yakni daerah tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya.
“Proses penunjaman ini berlangsung sangat lambat, hanya beberapa sentimeter per tahun, tetapi energi terus terakumulasi selama puluhan hingga ratusan tahun,” jelasnya, Kamis (11/6).
Menurutnya, hubungan antara tegangan dan gempa bumi bisa terjadi. Ia memaparkan ketika tegangan yang tersimpan telah melebihi kekuatan batuan, bidang patahan akan patah dan bergerak secara tiba-tiba sehingga menghasilkan gempa bumi. Pada mekanisme sesar naik, sebut Gayatri, salah satu blok batuan terdorong terhadap blok lainnya akibat gaya kompresi.
Ia memberi catatan apabila pergerakan tersebut terjadi di bawah laut. Di lokasi tersebut manakala menyebabkan pengangkatan atau penurunan dasar laut secara tiba-tiba, kolom air di atasnya turut terdorong sehingga dapat membangkitkan gelombang tsunami.
“Kombinasi antara magnitudo besar, sumber gempa di laut, kedalaman relatif dangkal, dan mekanisme sesar naik merupakan kondisi yang perlu diwaspadai terhadap potensi tsunami,” sebutnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penyebab utama gempa tersebut adalah aktivitas tektonik di zona subduksi Laut Mindanao. Disebutkan Gayatri bahwa sumber gempa bukan berasal dari satu patahan darat yang memanjang hingga Sulawesi, melainkan akibat pergerakan lempeng tektonik yang memang aktif di kawasan tersebut.
Ia menjelaskan getaran dapat dirasakan hingga Sulawesi karena energi gelombang seismik dari gempa besar mampu menjalar ratusan hingga ribuan kilometer dari sumbernya. “Semakin besar magnitudo gempa, semakin luas wilayah yang dapat merasakan guncangannya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa lokasi episenter dan kedalaman gempa memiliki peran penting dalam menentukan potensi tsunami. Sebab, gempa yang terjadi di bawah laut memiliki peluang lebih besar membangkitkan tsunami dibandingkan gempa di daratan.
Namun, sebutnya, magnitudo tidak cukup untuk menentukan ada atau tidaknya tsunami karena mekanisme patahan dan besarnya perubahan dasar laut juga menjadi faktor penentu.
Gayatri menilai kejadian gempa di Mindanao menjadi pengingat bagi Indonesia yang sama-sama berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Ia menekankan Indonesia memiliki banyak sumber gempa besar, baik yang berasal dari zona subduksi di Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi maupun dari sesar-sesar aktif di daratan.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa gempa Mindanao tidak berarti akan langsung memicu gempa besar di Indonesia. Hal tersebut karena setiap sumber gempa memiliki karakteristik dan siklusnya masing-masing. “Yang lebih penting adalah menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” katanya.
Menurutnya, Indonesia memiliki sejarah panjang terkait gempa bumi dan tsunami sehingga perlu memahami bahwa ancaman tersebut merupakan risiko nyata yang harus dihadapi bersama. Oleh karena itu, Gayatri merekomendasikan edukasi kebencanaan, latihan evakuasi, pembangunan infrastruktur tahan gempa, serta penguatan sistem peringatan dini perlu terus dilakukan.
Terkait mitigasi bencana, ia mengingatkan bahwa masyarakat pesisir perlu segera melakukan evakuasi ketika peringatan dini tsunami dikeluarkan oleh otoritas. Ia menyebutkan masyarakat tidak perlu menunggu tanda-tanda seperti air laut surut atau gelombang datang karena waktu evakuasi seringkali sangat terbatas.
Di waktu tersebut, respons cepat menjadi kunci keselamatan. “Bagi masyarakat yang merasakan gempa kuat dan lama di wilayah pesisir, prinsip yang perlu diingat adalah ‘gempa kuat, segera menjauh dari pantai’,” ujarnya.
Selain itu, Gayatri meminta masyarakat memperhatikan jika tersedia jalur evakuasi dan tempat evakuasi vertikal untuk segera menuju lokasi tersebut. Ia juga menyebutkan perlunya mengutamakan informasi dari sumber resmi seperti BMKG, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, maupun lembaga terkait lainnya. Penyebaran informasi yang belum terverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan dan mengganggu proses evakuasi.
Sebagai penutup, Gayatri menekankan bahwa gempa bumi dan tsunami merupakan bagian dari dinamika alam serta proses geologi yang tidak dapat dicegah. Namun, dampaknya dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan yang baik.
“Yang terpenting adalah membangun budaya sadar bencana. Kewaspadaan tidak berarti hidup dalam ketakutan. Dengan pengetahuan yang baik dan respons yang tepat, risiko dapat dikurangi dan lebih banyak nyawa dapat diselamatkan ketika bencana terjadi,” pungkasnya.
Hanifah & KabarTerkiniNews.co.id








