Sragen, KabarTerkiniNews.co.id – Perum Bulog Cabang Surakarta mempercepat penyerapan gabah dan beras dari petani sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi dampak El Nino yang diperkirakan dapat menekan produksi padi pada musim tanam berikutnya. Strategi tersebut membuat stok beras yang dikelola Bulog Surakarta kini mencapai 92.000 ton dan dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Solo Raya hingga akhir 2026, bahkan sampai awal 2027.
Pimpinan Cabang Perum Bulog Surakarta, Nanang Harianto, mengatakan percepatan penyerapan dilakukan sejak musim tanam pertama (MT1). Langkah tersebut merupakan strategi Bulog untuk mengamankan cadangan beras pemerintah sebelum produksi padi diperkirakan menurun pada musim tanam kedua (MT2) dan musim tanam ketiga (MT3).
“Kami menyerap sebanyak-banyaknya pada MT1 karena pada MT2 dan MT3 biasanya barang lebih sedikit. Ini strategi kami menghadapi El Nino,” ujar Nanang saat meninjau stok beras di Gudang Bulog Kompleks Pergudangan Duyungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Senin (29/6/2026).
Hingga akhir semester pertama 2026, Bulog Surakarta telah menyerap 73.867 ton gabah dan beras setara beras. Realisasi tersebut mencapai 79 persen dari target pengadaan tahun ini sebesar 93.000 ton.
Menurut Nanang, penyerapan yang dilakukan sejak awal musim panen menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan pangan apabila produksi beras menurun akibat perubahan iklim.
Kabupaten Sragen menjadi kontributor terbesar penyerapan Bulog Surakarta. Dari total serapan semester pertama, wilayah tersebut menyumbang 38.498 ton setara beras atau sekitar 30 persen dari keseluruhan serapan. Bahkan, capaian Sragen telah melampaui target hingga 111 persen.
“Sebagian besar penyerapan kami memang berasal dari Sragen. Ini sejalan dengan posisi Sragen sebagai sentra produksi padi,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Kabupaten Sragen merupakan salah satu sentra produksi padi terbesar di Jawa Tengah dengan total produksi mencapai 690.388 ton gabah kering panen.
Sementara itu, capaian penyerapan di sejumlah daerah lain di Solo Raya masih belum merata. Kabupaten Sukoharjo baru mencapai sekitar 83 persen dari target, sedangkan Kabupaten Boyolali menjadi daerah dengan capaian terendah, yakni sekitar 50 persen.
Bulog juga masih melanjutkan penyerapan pada musim tanam kedua, khususnya di wilayah yang harga gabah petaninya masih berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
“Kalau di atas Rp6.500, kami kembalikan ke petani untuk menjual ke pasar lain. Itu artinya petani sudah lebih sejahtera,” ujar Nanang.
Selain meningkatkan penyerapan, Bulog Surakarta juga menambah kapasitas penyimpanan dengan menyewa 13 hingga 14 gudang milik swasta. Dengan tambahan tersebut, kapasitas penyimpanan kini mencapai sekitar 136.150 ton.
Di Kabupaten Sragen sendiri, Bulog mengoperasikan dua kompleks pergudangan, yakni Gudang Duyungan berkapasitas sekitar 14.000 ton dan Gudang Krikilan berkapasitas sekitar 19.500 ton.
“Penambahan gudang sewa dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan. Dengan target yang besar, gudang kami tidak akan cukup tanpa tambahan kapasitas,” jelasnya.
Selain menjadi cadangan pangan pemerintah, stok beras Bulog juga dimanfaatkan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penyaluran bantuan pangan.
Pada Juli 2026, Bulog kembali mendapat penugasan menyalurkan bantuan beras sebanyak 10 kilogram kepada setiap keluarga penerima manfaat. Di Kabupaten Sragen, bantuan tersebut akan disalurkan kepada sekitar 180 ribu keluarga dengan kebutuhan sekitar 1.800 ton beras. Sementara di seluruh wilayah Solo Raya, penerima bantuan diperkirakan mencapai 800 ribu keluarga.
Bulog juga terus menggencarkan penyaluran beras SPHP melalui gudang, pasar, dan jaringan Rumah Pangan Kita. Harga beras SPHP di gudang dipatok Rp11.000 per kilogram atau Rp55.000 per kemasan lima kilogram, sedangkan harga eceran tertinggi di pasar mencapai Rp12.500 per kilogram.
Nanang memastikan berbagai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keterjangkauan harga bagi masyarakat. “Masyarakat tidak perlu khawatir. Stok aman, harga kami jaga agar tetap terjangkau,” tegasnya.
Untuk menjaga kualitas beras selama penyimpanan, Bulog juga melakukan perawatan rutin melalui penyemprotan (spraying) dan fumigasi secara berkala guna mencegah serangan hama di gudang penyimpanan.
A Nur








