Surakarta, KabarTerkiniNews.co.id — Pemerintah Kota Surakarta bersama United Nations Development Programme (UNDP) meluncurkan Program Clean River sebagai upaya mengurangi sampah yang mengalir dari daratan ke laut. Melalui proyek percontohan yang difokuskan di Kali Premulung, Kecamatan Laweyan dan Serengan, program ini menargetkan penanganan 1.000 ton sampah sungai hingga 2027 sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat agar tidak lagi membuang sampah ke sungai.
Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif pengelolaan sampah sungai yang menerapkan skema performance based atau berbasis kinerja. Melalui pendekatan ini, setiap mitra pelaksana akan dievaluasi secara berkala dan memperoleh insentif apabila mampu mencapai target yang telah ditetapkan.
National Project Manager sekaligus Koordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional, Ahmad Bahri Ramli, mengatakan program ini difokuskan untuk menekan timbunan sampah yang masuk ke aliran sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut.
“Kami berharap program ini memberikan dampak yang signifikan terhadap pengurangan sampah di sungai-sungai prioritas,” ujarnya.
Menurut Bahri, program melibatkan PLN, Yayasan Bintari, organisasi masyarakat sipil (CSO), bank sampah, komunitas peduli sungai, pemerintah daerah, serta masyarakat. Selain membersihkan sungai, program juga diarahkan membangun kelembagaan yang kuat agar pengelolaan sampah sungai dapat berlanjut setelah program berakhir pada 2027.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Herwin Nugroho, menjelaskan Kali Premulung dipilih karena masih menghadapi persoalan sampah yang cukup serius. Penanganan tidak hanya menyasar sampah yang berada di aliran sungai, tetapi juga sampah rumah tangga di kawasan bantaran sungai.
“Fokusnya menangani sampah di sungai, khususnya Kali Premulung. Sasarannya di Kecamatan Laweyan dan Serengan. Mitra lokal juga sudah berdiskusi dengan masyarakat agar penanganan tidak hanya menyasar sampah sungai, tetapi juga sampah rumah tangga di sekitar lokasi,” katanya.
Target penanganan mencapai 1.000 ton sampah yang tersebar di dua titik, mulai dari kawasan hulu di Laweyan hingga hilir di Serengan. Untuk mendukung program tersebut, UNDP akan memasang trash boom atau alat penahan sampah yang sekaligus berfungsi mengukur volume sampah yang masuk ke sungai setiap hari.
“Dari data itu nanti bisa diketahui berapa banyak sampah yang dibuang ke sungai. Selanjutnya, UNDP bersama mitra lokal akan menyusun sosialisasi dan edukasi yang lebih terukur, terarah, dan terstruktur agar terjadi perubahan perilaku masyarakat,” ujar Herwin.
Ia menegaskan tujuan utama Program Clean River bukan sekadar mengangkat sampah dari sungai, melainkan membangun kesadaran masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Sungai yang lebih bersih juga diharapkan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat serta mendukung upaya penurunan angka stunting.
Keunggulan lain program ini, sampah yang berhasil diangkat dari sungai tidak langsung dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, tetapi akan diolah oleh mitra UNDP sehingga mampu mengurangi beban TPA sekaligus mendukung ekonomi sirkular.
“Karena masih pilot project di dua lokasi, kami berharap program ini bisa menambah pengurangan sampah Kota Solo sekitar 5 persen ke depan,” kata Herwin.
Pemkot Surakarta juga memilih mengedepankan edukasi dibanding penindakan terhadap warga yang masih membuang sampah ke sungai. Herwin menilai pengawasan paling efektif justru berasal dari masyarakat sendiri melalui budaya saling mengingatkan.
Program Clean River merupakan hasil kolaborasi UNDP, Pemerintah Kota Surakarta, PLN, Yayasan Bintari, organisasi masyarakat sipil, komunitas peduli sungai, bank sampah, dan masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap pengelolaan sampah sungai dapat berlangsung secara berkelanjutan sekaligus menjadi model bagi daerah lain dalam mengurangi pencemaran sungai.
A Nur








