SRAGEN – Di tengah krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Sragen, kepedulian justru datang dari mereka yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja kasar dan buruh migran.
Paguyuban Wong Sragen Asri (PAWASRI) kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan. Kali ini, sebanyak 20 ribu liter air bersih dikirim ke Dukuh Mbago, Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen.
Dua truk tangki masing-masing membawa 10 ribu liter air bersih. Bantuan tersebut disalurkan ke empat RT, yakni RT 15, RT 16, RT 17, dan RT 18.
Sekitar 400 kepala keluarga atau 1.500 jiwa terdampak krisis air bersih di wilayah tersebut.
Bantuan air kemudian dituangkan ke sejumlah bak penampungan yang tersebar di empat RT untuk memenuhi kebutuhan warga.
Krisis Air Sudah Sebulan
Kepala Desa Ngepringan, Narto, mengatakan krisis air bersih di Dukuh Mbago telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga bahkan harus mencari sumber air ke sungai yang berada di pinggiran hutan.
Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari permukiman warga.
Ironisnya, air yang didapatkan dari sumber tersebut dalam kondisi keruh sehingga tidak ideal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi inilah yang membuat bantuan air bersih menjadi sangat berarti bagi warga.
Dari Iuran Buruh untuk Sesama
Yang menarik, PAWASRI bukanlah organisasi yang beranggotakan para pengusaha atau orang-orang dengan sumber daya besar.
Paguyuban ini justru diisi oleh para pekerja kasar dan buruh migran.
Dari hasil iuran para anggotanya, PAWASRI secara rutin bergerak membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, termasuk warga yang menghadapi kekeringan.
Ketua PAWASRI Kabupaten Sragen, Sri Mulyadi, mengatakan bantuan air bersih yang disalurkan merupakan hasil iuran anggota.
Menurutnya, kegiatan sosial tersebut akan terus dilakukan selama masih ada masyarakat di Kabupaten Sragen yang membutuhkan bantuan air bersih.
Bagi PAWASRI, membantu sesama tidak harus menunggu memiliki banyak harta.
Dari hasil keringat para pekerja dan buruh, sedikit demi sedikit dikumpulkan dan diwujudkan menjadi bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dari keringat buruh, mengalir air untuk warga yang kehausan.
(Her/KTN)







