Bernas, Koran Yogyakarta yang jadi Saksi Zaman

Magelang, KabarTerkiniNews.co.id — Bagi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah, Bernas bukan sekadar surat kabar. Ia pernah menjadi bagian dari rutinitas pagi: dibaca sambil menikmati kopi, berpindah tangan dari satu anggota keluarga ke anggota lainnya, hingga menjadi bahan percakapan di warung dan lingkungan masyarakat.

Jejak Bernas bermula pada 15 November 1946, ketika surat kabar ini berdiri di Yogyakarta dengan nama Harian Nasional. Saat itu, Yogyakarta menjadi pusat perjuangan Republik Indonesia. Pers tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan membangun kesadaran kebangsaan.

Bacaan Lainnya

Dalam perjalanannya, nama surat kabar ini beberapa kali berubah. Pada 1965 menjadi Suluh Indonesia, kemudian Suluh Marhaen pada 1966, sebelum kembali menggunakan nama Berita Nasional pada 1969.

Nama Berita Nasional kemudian begitu lekat dengan masyarakat Yogyakarta. Memasuki 10 November 1991, bertepatan dengan Hari Pahlawan, nama Harian Bernas resmi digunakan.

Menyimpan Cerita Sebuah Zaman

Arsip Berita Nasional edisi 4 Oktober 1975 menjadi salah satu gambaran menarik tentang wajah media dan kehidupan masyarakat hampir setengah abad silam.

Saat itu, koran tersebut terbit empat halaman dengan harga eceran Rp20. Isinya mempertemukan berbagai peristiwa nasional dan internasional, olahraga, kehidupan Keraton Yogyakarta, suasana Lebaran, iklan bioskop hingga cerita bersambung.

Berita tentang situasi Timor Timur, olahraga Muhammad Ali, kegiatan ABRI bersama rakyat, hingga rencana Upacara Ngabekten di Keraton Yogyakarta hadir dalam satu lembar koran.

Iklan film juga menjadi bagian menarik. Pembaca kala itu dapat menemukan promosi film kungfu Hong Kong, film komedi The Mad Adventures of Rabbi Jacob, hingga film horor Dracula and 7 Golden Vampires.

Sementara itu, cerita bersambung “Kabut di Hari yang Cerah” karya S.H. Mintardja menjadi hiburan yang ditunggu pembaca. Koran pada masa itu memang bukan sekadar sumber berita. Ia menjadi teman pagi, tempat mencari informasi olahraga, lowongan pekerjaan, hiburan, iklan, sekaligus ruang untuk mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat.

Bernas dan Kisah Udin

Sejarah Bernas juga tidak lepas dari kisah getir perjuangan pers. Pada Agustus 1996, wartawannya, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, mengalami penganiayaan pada 13 Agustus dan meninggal dunia tiga hari kemudian.

Kasus Udin menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah kebebasan pers Indonesia. Namanya kemudian diabadikan dalam Udin Award, sebagai penghargaan bagi jurnalis atau kelompok jurnalis yang menjadi korban kekerasan maupun memperjuangkan kebebasan pers.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita terdapat wartawan yang bekerja di lapangan, mencari fakta dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Dari Kertas ke Layar

Perubahan teknologi akhirnya membawa Bernas memasuki era digital. Pada 28 Februari 2018, edisi cetak Harian Bernas terakhir diterbitkan. Sehari kemudian, pemberitaan Bernas beralih sepenuhnya ke ranah daring melalui BERNAS.id.

Lembaran kertas yang dahulu hadir setiap pagi berganti layar komputer dan telepon pintar. Namun, perubahan medium tidak menghapus sejarahnya.

Bagi generasi yang pernah membaca Berita Nasional atau Bernas, koran itu menyimpan kenangan tentang keluarga, kampung halaman, berita olahraga, cerita bersambung, hingga berbagai peristiwa yang pernah mereka alami.

Kini, arsip-arsip lama tersebut bukan sekadar kumpulan berita. Ia menjadi kapsul waktu yang merekam wajah Yogyakarta dan Indonesia pada masanya.

Dari Harian Nasional, Suluh Indonesia, Suluh Marhaen, Berita Nasional hingga Bernas, perjalanan panjang itu menunjukkan bagaimana sebuah media tumbuh bersama perubahan zaman.

Teknologi boleh berubah, cara membaca boleh berganti, tetapi jejak Bernas tetap menjadi bagian dari sejarah pers dan ingatan masyarakat Yogyakarta.

Nurul Abadi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *