Krisis Air, Pangan, dan Energi Bisa Diatasi Bersama? Mahasiswa UGM Ciptakan AURORA, Solusi Cerdas untuk Pertanian Masa Depan

Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Air bersih yang makin sulit didapat, lahan pertanian yang kian menyusut, hingga biaya listrik yang terus naik menjadi keresahan yang dirasakan banyak orang.

Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mencoba menjawab persoalan itu lewat sebuah inovasi bernama AURORA (Autonomous Utility for Renewable Resources), sebuah sistem yang mampu menghasilkan air, energi, dan mendukung pertanian sekaligus, tanpa harus bergantung pada PDAM maupun listrik dari PLN.

Bacaan Lainnya

Karya ini berhasil mendapat pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, setelah bersaing dengan 21.237 proposal dari seluruh Indonesia.

Tim yang menamakan diri AURORA ini beranggotakan Orva Linnisa Husaina, Rayhana Azzahra Kusmana, Arfa Fadilah Ramadhan, Nayaka Sandya Kesuma, dan Faqih Zulfikar Alkaha, dengan bimbingan dosen Budi Sumanto, S.Si., M.Eng.

Sederhananya, cara kerja AURORA dimulai dengan menangkap energi matahari lewat panel surya. Energi ini kemudian digunakan untuk mengaktifkan alat penangkap uap air dari udara, yang disebut Atmospheric Water Generator, sehingga air bisa didapatkan tanpa harus menggali sumur atau menyambung pipa PDAM.

Selanjutnya, sistem ini juga mengatur kebutuhan tanaman secara otomatis, mulai dari kadar keasaman (pH), nutrisi, suhu, hingga jumlah air yang dibutuhkan, sehingga siapa pun bisa bercocok tanam meski tidak punya banyak pengalaman.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal dan terintegrasi. Padahal, jika kita bicara soal pertanian masa depan, kuncinya ada pada pencapaian kemandirian air, pangan, dan energi dalam satu kesatuan,” ujar Orva, ketua tim AURORA.

Ide ini muncul dari keresahan tim atas kondisi pertanian di perkotaan saat ini. Meski konsep bertani secara vertikal maupun hidroponik sudah banyak digunakan untuk menyiasati lahan yang makin sempit, terlebih data Kementerian ATR/BPN mencatat alih fungsi lahan pertanian mencapai 100 ribu hektare setiap tahun, kebanyakan sistem tersebut ternyata masih bergantung penuh pada air dan listrik dari luar, serta masih dirawat secara manual satu per satu.

Agar gagasan ini mudah dipahami masyarakat luas, tim mengemasnya dalam bentuk video. Rayhana menjelaskan bahwa video tersebut sengaja dibuat menarik dengan animasi tiga dimensi dan efek visual, sehingga cara kerja AURORA yang sebenarnya cukup teknis bisa ditonton dan dipahami oleh siapa saja.

“Menyampaikan gagasan inovasi tentu memiliki tantangan tersendiri agar menarik dan mudah dipahami. Oleh karena itu, dalam video tersebut kami memadukan teknik sinematografi dan storytelling yang kuat, serta didukung oleh visualisasi animasi 3D, agar penonton bisa melihat cara kerja AURORA secara visual,” ujar Rayhana.

Dosen pembimbing, Budi Sumanto, S.Si., M.Eng., turut menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian ini. “Sangat bangga melihat semangat dan kepedulian para mahasiswa ini. Di tengah persaingan seleksi nasional yang sangat ketat dengan puluhan ribu proposal dari seluruh Indonesia, mereka mampu menghadirkan solusi komprehensif yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga menjawab kebutuhan riil masyarakat,” ungkapnya.

Jika dikembangkan lebih lanjut, teknologi semacam ini berpotensi membantu banyak pihak, mulai dari keluarga di perkotaan yang ingin menanam sayur sendiri, kelompok tani yang kesulitan air, hingga wilayah-wilayah yang rawan kekeringan. Harapannya, semakin banyak rumah tangga dan komunitas yang bisa mandiri secara pangan, air, dan energi tanpa terlalu bergantung pada pasokan dari luar.

Karya AURORA juga sejalan dengan cita-cita besar Indonesia Emas 2045, khususnya dalam mewujudkan ketahanan energi, air, dan kemandirian pangan bagi masyarakat. Tim UGM berharap inovasi ini tidak berhenti sebagai gagasan lomba semata, tetapi dapat terus dikembangkan hingga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Nurul Abadi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *