Depok, KabarTerkiniNews.co.id – Pukul setengah sembilan pagi, sebuah sepeda kargo berwarna orange “mendarat” di tengah halaman sekolah Taman Kanak-Kanak Islam Wahyu, Cimanggis, Depok Jawa Barat.
Melihat keunikan sepeda modifikasi ini tak ayal membuat belasan murid di sekolah tersebut langsung berkerumun di sepeda yang diberi nama Kargo Baca (Kabaca) ini.
Ada yang sekadar mengamat-amati tanda keheranan, adapula sengaja memencet bel yang terdapat di sekitar batang stang sepeda.
Tak berapa lama. Sang pemilik sepeda, pria bertopi yang mengenakan baju terusan berwarna orange tersebut dengan ramah menyapa mereka yang masih berumur lima sampai enam tahun ini .
“Selamat pagi adik-adik perkenalkan saya Kak Edi bersama empat orang teman kakak, akan menemani adik-adik untuk bermain dan membaca,”Itulah sosok Edi Dimyati, seorang pegiat literasi asal Cibubur, Jakarta Timur.
Sebelum acara baca buku bersama, pria yang kini berumur 48 tahun ini, terlebih dahulu membuka dengan atraksi permainan sulap dan pantomin.
Walaupun trik-trik dalam sulap tersebut hanya memakai peralatan sederhana seperti tali, kantong dan mainan yang menyerupai hewan tikus ini, namun ternyata mampu membawa suasana gembira dan penuh tawa diantara murid-murid sekolah tersebut.
Acara baca buku bersama akhirnya ditutup dengan pemberian hadiah peralatan menulis berupa pensil dan majalah kreativitas anak-anak.
Mulai dari tahun 2017
Edi mulai mengaspal, berkeliling ke sekolah-sekolah dengan sepeda kargo miliknya pada tahun 2017. Mulanya pria Lulusan Program Studi Perpustakaan Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung mendirikan taman bacaan bernama Kampung Buku di daerah Cibubur Jakarta Timur, pada tahun 2009.
Melihat kondisi makin berkurangnya pengunjung yang datang ke tempat taman baca nya karena domisilinya berada di wilayah yang cukup jauh ia memutuskan untuk membuat perpustakaan keliling.
“Dari situ saya terbesit, buku-buku tersebut harus hadir di tengah-tengah mereka yang rumahnya jauh. Dari sekian banyak metode alat transportasi untuk bisa mendistribusikan buku-buku bacaan tersebut akhirnya saya memilih sepeda,” jelasnya.
Edi beranggapan selain ramah lingkungan, moda transportasi roda dua yang dikayuh ini memiliki bentuknya unik dan juga menyehatkan.
Dengan bantuan seorang teman sesama anggota komunitas sepeda ia memodifikasi sepeda kargonya dengan manambahkan tiga buah boks di rangka depan untuk diisi dengan berbagai judul buku dan juga peralatan sulapnya.
Sebelum fokus memberikan literasi ke sekolah-sekolah, Pria kelahiran Tasikmalaya 24 Maret 1978 ini mengaku awalnya Kargo Baca sengaja berkeliling kota Jakarta hanya ke tempat orang banyak berkumpul seperti, taman kota dan perkampungan warga,
“Saat itu kita belum mempunyai akses ke sekolah-sekolah. Seiring berjalan waktu kita dapat kenalan dan bisa datang ke sekolah tersebut untuk mempromosikan budaya membaca,”singkat Edi.
Ketika menjalankan perpustakaan kelilingnya Edi menjelaskan terdapat perbedaan antara memberikan literasi ke sekolah-sekolah dengan membuka tempat baca di taman umum.
Bila disekolah jadwal kegiatan dan murid sudah terkondisikan termasuk alur dari acara tersebut. Sementara bila membuka tempat baca seperti di taman atau tempat kerumunan lain ia hanya bersifat pasif atau menunggu.
Menariknya, Edi tidak saja berkeliling kota Jakarta dengan perpustakaan Kargo Baca miliknya, namun ia pernah mengelilingi beberapa kota di Jawa Barat selama 11 hari.
Dalam safari pustaka kelilingnya saat berada di salah satu sekolah di kota Ciamis, Jawa Barat ia mendapat pengalaman ketika anak -anak tersebut ibarat mendapat harta karung saat melihat buku-buku bacaan yang dibawa olehnya.
“Mereka histeris dan berebutan buku yang saya baca, seperti melihat harta karung. Saya mengambil kesimpulan anak-anak tersebut sangat antusias untuk membaca buku. Namun di daerah banyak akses dan judul buku bagus yang masih kurang, “ kata ayah dari dua orang anak ini.
Sudah 10 tahun bersama Kargo Baca Edi membuka wawasan dan pemikiran masyarakat akan pentingnya budaya membaca. Ia pun bercerita pengalaman haru yang tak pernah terlupakan ketika mendatangi sebuah sekolah alam di kawasan Bekasi, Jawa Barat.
Ketika Edi hendak berpamitan pulang seorang murid mendadak menangis dan meminta untuk tetap membuka perpustakaan kelilingnya di sekolah tersebut.
Tidak ada cita-cita besar dari perjuangan Edi untuk melihat anak-anak Indonesia gemar membaca “jendela pengetahuan” ini.
Ia hanya berharap setiap sudut tempat fasilitas umum, seperti sekolah, tempat ibadah atau taman bermain ada sebuah pojok pustaka dimana masyarakat umum, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa dapat akses fasilitas membaca dengan berbagai macam judul buku yang beragam.
Daniel Siahaan





