Majalah Aktuil Jejak Musik, Idola Remaja, dan Romantisme Sebuah Zaman

Magelang, KabarTerkiniNews.co.id – Ada sensasi yang sulit digantikan ketika sebuah majalah lawas kembali dibuka setelah puluhan tahun tersimpan. Aroma kertas yang menua, halaman yang mulai menguning, foto-foto hitam putih maupun berwarna yang khas zamannya, serta nama-nama yang pernah begitu populer, seolah membawa pembaca menembus lorong waktu.

Membuka kembali salah satu koleksi yang memiliki tempat khusus dalam sejarah pers musik Indonesia: Majalah Aktuil edisi September 1974, terbitan 52 tahun silam.

Bacaan Lainnya

Terbit lebih dari setengah abad lalu, majalah ini bukan sekadar kumpulan berita musik. Di dalamnya terekam denyut kehidupan anak muda Indonesia pada era 1970-an mulai dari perkembangan musik dalam negeri, grup band papan atas, penyanyi dan bintang film idola remaja, hingga kabar musisi dan selebritas mancanegara.

Salah satu sajian utamanya bahkan menampilkan Giant Step of Rhapsodia, sebuah formasi yang mempertemukan sejumlah musisi penting dari Bandung. Membaca kembali edisi tersebut terasa seperti membuka jendela kecil ke masa ketika musik pop dan rock Indonesia sedang tumbuh dengan penuh gairah.

Aktuil, Jendela Anak Muda Mengenal Musik

Bagi generasi muda pada akhir 1960-an hingga 1970-an, Aktuil bukan sekadar majalah. Ia merupakan salah satu rujukan penting untuk mengetahui perkembangan musik, penyanyi, musisi, grup band, sekaligus gaya hidup anak muda pada masanya.

Aktuil pertama kali terbit di Bandung pada 8 Juni 1967. Salah satu tokoh penting di balik kelahirannya adalah Denny Sabri Gandanegara, wartawan musik sekaligus pemandu bakat yang memiliki peran besar dalam perkembangan industri hiburan dan musik di Bandung.

Sejumlah nama kemudian ikut mewarnai perjalanan Aktuil, antara lain Denny Sabri, Toto Rahardjo, Bob Avianto, Remy Sylado, Yoyo Dasriyo, Sonny Suriaatmadja, Maman S, Man H.S., Bens Leo, Odang Danaatmadja dan Buyung Achmad Rizal.

Majalah ini memiliki karakter yang khas. Berita mengenai grup musik Indonesia dapat berdampingan dengan perkembangan musik Barat, profil artis, kabar selebritas, poster idola, hingga tulisan sastra.
Bagi anak band dan penggemar musik, Aktuil menjadi semacam jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi di dunia musik, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Pada masa ketika internet belum terbayangkan dan akses informasi global masih terbatas, kehadiran majalah musik seperti Aktuil memiliki arti yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar media hiburan.

Giant Step of Rhapsodia dan Kekuatan Musik Bandung

Salah satu sajian yang paling menarik dalam edisi September 1974 adalah Giant Step of Rhapsodia.
Formasi tersebut mempertemukan para personel Giant Step dan Rhapsodia, dua nama yang memiliki kaitan erat dengan perkembangan musik Bandung.

Formasinya diisi Benny Soebardja sebagai vokalis dan gitar melodi, yang sebelumnya dikenal melalui The Feel dan Sharkmove; Deddy Dores pada organ, yang pernah memperkuat Rhapsodia dan God Bless; Yanto pada drum dari Rhapsodia; serta Adhi “Si Anak Medan” pada bass.

Jika nama-nama tersebut dibaca kembali sekarang, kita dapat merasakan betapa dinamisnya ekosistem musik Bandung pada dekade 1970-an.

Para musisi tidak selalu menetap dalam satu kelompok. Mereka dapat berpindah formasi, membentuk grup baru, berkolaborasi, dan melahirkan warna musik yang berbeda. Bandung pun semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat penting perkembangan musik pop dan rock Indonesia.

Poster David Cassidy, Simbol Romantisme Remaja

Di antara halaman-halaman Aktuil terselip pula poster David Cassidy, salah satu idola remaja paling populer pada era 1970-an. David Bruce Cassidy lahir di Manhattan, New York, 12 April 1950. Ia dikenal sebagai penyanyi, penulis lagu, dan aktor. Popularitasnya melejit melalui dunia musik dan televisi hingga menjadikannya salah satu ikon remaja internasional.

Bagi pembaca Aktuil pada masa itu, poster sang idola tentu bukan sekadar pelengkap majalah.
Poster bisa ditempel di dinding kamar, disimpan sebagai koleksi, atau diperlihatkan kepada teman-teman sekolah.

Di situlah salah satu romantisme menjadi remaja pada zamannya terasa.
Sebelum media sosial dan internet hadir, majalah merupakan salah satu cara anak muda mendekatkan diri kepada tokoh yang mereka kagumi.

Fantastique Band dan Dinamika Musisi Indonesia

Aktuil edisi ini juga mencatat kiprah Fantastique Band, grup yang merilis album pop Melayu dan mendapat sambutan di pasaran.

Formasinya antara lain Deddy Dores sebagai vokalis dan gitar, B. Harijadhie pada bass, J. Sarwono pada organ, Janto Soejono pada drum, serta Albert Sumlang pada saksofon.

Catatan tersebut memperlihatkan satu hal menarik mengenai kehidupan musisi Indonesia pada era itu: dunia musik sangat dinamis. Perpindahan personel, pembentukan grup baru, dan kolaborasi antarmusisi merupakan bagian dari perjalanan mereka.

Nama yang sama bisa muncul dalam sejumlah grup berbeda, dengan karakter musik yang juga berubah.
Jika ditelusuri lebih jauh, jejak semacam inilah yang kemudian membentuk sejarah panjang musik pop dan rock Indonesia.

Yessy Gusman: Ketika Seorang Idola Masih Menjadi Remaja

Catatan lain yang menarik adalah profil Yessy Gusman, bintang film remaja yang ketika itu tengah naik daun.
Dalam catatan pribadi yang dimuat Aktuil, tercantum nama lengkap Yasmine Yuliantina Gusman. Ia lahir di Jakarta pada 21 Juli 1962 dan ketika profil tersebut ditulis masih berusia sangat muda.

Yang menarik justru bukan sekadar popularitasnya, melainkan detail-detail kecil tentang dirinya.
Rambut panjang hingga sepunggung, belahan rambut agak ke kiri, tahi lalat di sebelah mata kiri, hingga kegemarannya mengenakan jeans dicatat secara sederhana.

Ia menyukai ice skating, bermain piano, dan menonton film. Ia juga menyebut sejumlah bintang yang dikaguminya, seperti Rano Karno, Sukarno M. Noor, Lenny Marlina, Widyawaty, dan Mark Lester.

Cita-citanya saat itu bahkan ingin menjadi dokter.
Membaca kembali catatan tersebut lebih dari lima dekade kemudian memberikan perspektif yang menarik. Sebelum menjadi nama besar yang dikenal publik, Yessy Gusman hanyalah seorang remaja dengan hobi, idola, dan cita-cita.

Kelak, ia dikenal luas sebagai salah satu bintang film remaja populer Indonesia dan menjadi pasangan layar bagi sejumlah aktor terkenal pada masanya.

Mengenang Fuad Hasan dan Soman Lubis

Salah satu catatan penting dalam edisi ini adalah pagelaran musik “Mengenang Fuad dan Soman”, yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada 25 Agustus 1974.

Pagelaran tersebut diselenggarakan untuk mengenang dua musisi, Fuad Hasan dan Soman Lubis, yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Sejumlah grup musik papan atas Indonesia tampil dalam acara tersebut, di antaranya God Bless dan Giant Step. Sementara AKA yang dimotori Ucok Harahap berhalangan hadir.

Giant Step tampil sebagai band pembuka dengan formasi Benny Soebardja, Deddy Dores, Yanto, dan Adhi “Si Anak Medan”.

Mereka membawakan lagu-lagu karya sendiri dan mendapat sambutan penonton.

Setelah itu, giliran God Bless tampil mengenakan jubah hitam. Achmad Albar bersama para personel God Bless tampil dalam suasana penuh penghormatan. Noor Bersaudara turut membacakan sajak untuk mengenang Fuad dan Soman, kemudian mengumandangkan Gugur Bunga.

God Bless selanjutnya membawakan sejumlah lagu Barat yang diaransemen ulang dengan gaya mereka sendiri. Pada masa itu, God Bless memang belum banyak menampilkan lagu ciptaan sendiri. Namun kreativitas aransemen para personelnya menjadikan penampilan mereka tetap mendapat sambutan meriah.
Ketidakhadiran AKA tidak mengurangi kemeriahan acara. Pagelaran tersebut tetap menjadi salah satu peristiwa penting dalam catatan perjalanan musik Indonesia pada 1974.

Jimi Hendrix dan Jejak Sang Legenda

Dari panggung musik Indonesia, Aktuil membawa pembacanya menjelajah dunia.
Salah satunya melalui sosok Jimi Hendrix, gitaris legendaris yang meninggal dunia pada 18 September 1970.

Lahir di Seattle, Washington, Amerika Serikat, pada 27 November 1942 dengan nama James Marshall Hendrix, ia kemudian menjadi salah satu pemain gitar paling berpengaruh dalam sejarah musik rock.
Hendrix tidak hanya memainkan gitar. Ia mengubah cara instrumen tersebut dipandang dan dimainkan.
Eksperimen terhadap suara, penggunaan efek, teknik permainan yang eksplosif, serta penampilannya di atas panggung menjadikannya simbol revolusi gitar listrik.

Membaca kembali tulisan mengenai Hendrix dalam majalah yang terbit pada 1974 memberikan sensasi tersendiri. Sebuah media dari masa lalu ternyata tengah merekam perjalanan sejarah musik dunia yang hingga kini masih dikenang.

John Lennon, Brigitte Bardot, dan Dunia Selebritas

Aktuil juga tidak hanya berbicara mengenai musik.
Kabar selebritas internasional turut menjadi bagian dari daya tarik majalah tersebut. Salah satunya adalah berita mengenai pertemuan John Lennon dengan Brigitte Bardot di London.

Lennon tentu tidak asing bagi penggemar musik. Namanya telah menjadi bagian penting dari sejarah The Beatles. Sementara Bardot merupakan aktris Prancis yang menjadi salah satu ikon perfilman dan simbol kecantikan dunia pada zamannya.

Berita semacam ini menunjukkan bahwa majalah musik pada era tersebut memiliki cakupan yang cukup luas.
Musik, film, kehidupan selebritas, budaya populer, dan tren internasional bercampur menjadi satu.

Bagi pembaca muda di Indonesia, semuanya menjadi bahan bacaan yang menarik sekaligus membuka wawasan mengenai dunia yang terasa jauh di luar sana.

Deep Throat dan Fenomena Budaya Populer

Aktuil juga mencatat fenomena perfilman dewasa yang ketika itu menjadi perbincangan di Amerika Serikat, yakni Deep Throat, film yang dibintangi Linda Lovelace. Film tersebut menjadi fenomena budaya populer sekaligus kontroversi pada awal 1970-an karena materi dan tema dewasanya.

Bagi pembaca Indonesia pada masa itu, pemberitaan mengenai fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana Aktuil turut membawa kabar mengenai berbagai perkembangan budaya populer internasional, termasuk hal-hal yang kontroversial.

Emerson, Lake & Palmer dan Musik Progresif

Penggemar progressive rock tentu tidak asing dengan Emerson, Lake & Palmer (ELP).
Trio asal Inggris yang terdiri atas Keith Emerson, Greg Lake, dan Carl Palmer tersebut menjadi salah satu kekuatan penting musik progresif pada era 1970-an.

Permainan keyboard Keith Emerson, vokal dan gitar Greg Lake, serta permainan drum Carl Palmer menciptakan karakter musik yang megah, kompleks, dan penuh eksplorasi.
ELP menjadi salah satu contoh bagaimana musik rock pada era tersebut berkembang semakin luas, tidak hanya mengandalkan format lagu sederhana, tetapi juga membuka ruang bagi eksperimen musikal.

Shocking Blue dan Kabar Berakhirnya Sebuah Perjalanan

Dari Belanda, Aktuil mengabarkan mengenai Shocking Blue, grup yang mendunia melalui lagu Venus. Pada 1974, grup tersebut diberitakan akan mengakhiri perjalanannya. Sebelum bubar, mereka merilis album This America.

Bagi penggemar musik kala itu, kabar berakhirnya perjalanan sebuah grup terkenal tentu menjadi berita penting.
Menariknya, lebih dari lima dekade kemudian, Venus tetap hidup. Lagu tersebut masih mudah dikenali bahkan oleh generasi yang belum lahir ketika Shocking Blue berada pada puncak popularitasnya.

Inilah salah satu keajaiban musik: zaman boleh berganti, tetapi lagu-lagu tertentu mampu melampaui generasi. “Album Aktuil”, Jejak Lagu yang Pernah Populer

Salah satu rubrik yang kini terasa menarik untuk dibaca kembali adalah daftar lagu dalam “Album Aktuil”.

Untuk musik Indonesia, sejumlah judul yang tercatat antara lain Bertemu Untuk Berpisah, Penyesalan, dan Tiga Jenaka dari AKA Band; Kehidupan, Kembalilah, dan Kenangan Lama dari The Gembells; serta Mengapa, Lupakan Saja, dan Si Lesung Pipit dari Bhara Quint.

Sementara dari musik Barat terdapat Band on the Run dari Paul McCartney & Wings, Mr. Natural dari Bee Gees, serta Red Dress dari Magnet.

Kini daftar itu mungkin tampak sederhana.

Namun pada 1974, informasi mengenai lagu-lagu terbaru memiliki nilai tersendiri. Ketika belum ada layanan streaming, mesin pencari, atau media sosial, majalah merupakan salah satu sumber utama untuk mengetahui lagu apa yang sedang populer dan siapa musisi yang tengah menjadi pembicaraan.

Ketika Musik Bertemu Sastra

Aktuil ternyata tidak berhenti pada musik dan selebritas. Edisi September 1974 juga memuat karya sastra, antara lain cerita pendek “Bapendos” karya Remy Sylado dan “Pengumuman” karya Ashadi Siregar.

Kehadiran cerita pendek di tengah berita musik memperlihatkan karakter Aktuil sebagai majalah anak muda dengan cakupan yang lebih luas.

Musik, film, budaya populer, sastra, dan kehidupan sehari-hari bertemu dalam satu ruang.
Itulah yang membuat sebuah majalah lama menjadi menarik untuk dibaca kembali. Ia tidak hanya mencatat satu bidang, tetapi ikut merekam suasana masyarakat pada zamannya.

Membuka Majalah, Membuka Kembali Sebuah Zaman

Kini, ketika Aktuil edisi September 1974 kembali dibuka pada September 2026, yang terlihat bukan sekadar tulisan, foto, poster, dan daftar lagu lama.

Di dalamnya tersimpan jejak sebuah zaman.

Ada nama-nama musisi yang pernah menguasai panggung. Ada grup band yang pernah menjadi idola dan kemudian tinggal menjadi bagian dari sejarah. Ada poster penyanyi yang dahulu mungkin ditempel di dinding kamar remaja. Ada bintang film yang masih sangat muda ketika namanya mulai dikenal. Ada pula berita dari dunia internasional yang pada masa itu terasa begitu jauh.

Majalah tua memang tidak dapat mengulang waktu.
Namun ia mampu menghadirkan kembali suasana yang pernah hidup. Lembar demi lembar Aktuil seakan mengajak pembacanya duduk sejenak dan membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak muda pada 1974, ketika musik sedang tumbuh bergairah, Bandung menjadi salah satu pusat kreativitas musik, poster idola merupakan benda berharga, dan sebuah majalah menjadi jendela untuk mengenal dunia.

Mengoleksi dan membaca kembali majalah lawas bukan semata-mata menyimpan kertas tua.
Di dalamnya ada memori, ada cerita, ada nama-nama yang pernah berjaya, dan ada denyut kehidupan sebuah generasi.

Sebab, majalah lama bukan hanya benda yang menua bersama waktu. Ia adalah arsip kehidupan yang setiap kali dibuka, mampu membuat masa lalu kembali berbicara.

Nurul Abadi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *