Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Seorang warga RT 30/RW 7, Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta, Yoyok Sunaryo dalam kondisi yang memprihatinkan. Terlebih pasca perubahan data desil.
Kakek berusia 67 tahun yang hidup sebatang kara ini mengaku telah kehilangan semua bentuk Bantuan Sosial (Bansos) dari pemerintah, sejak pencairan periode tahap 3 tahun 2026 ini . Sebelumnya, Yoyok adalah salah satu penerima manfaat Bansos dari Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan bantuan beras.
“Sekarang, saya sudah tidak menerima,” kata Yoyok kepada wartawan di kediamannya, pada Kamis (3/9/2026).
Sementara itu, salah satu tetangganya, Sarti menjelaskan, penghentian Bansos Mbah Yoyok bermula dari kejanggalan data desil yang dicek secara mandiri, melalui aplikasi pengecekan Bansos. Dalam aplikasi itu, Yoyok masuk dalam kategori desil tinggi atau dianggap mampu. Sementara berdasarkan informasi dari pemdamping PKH, dia masih masuk desil 1.
“Padahal di aplikasi Bansos, saya cek dia desil 6-10. Tapi tahap 3 ini, Bantuan PKH dan berasnya belum masuk,” ucapnya.
Oleh karena itu, kebutuhan hidup Yoyok sekarang ditopang oleh kebaikan hati tetangganya. Setiap hari, warga bergantian memberikan makanan dan minuman untuknya. Termasuk, warung di sekitar tempat tinggalnya.
Menurut Sarti, meskipun terkadang Yoyok menerima bantuan uang dari saudaranya, namun jumlahnya tak cukup untuk biaya hidup dan membayar sewa rumah.
Lebih lanjut Sarti menyampaikan bahwa tak hanya Yoyok yang kehilangan Bansos. Lebih dari 10 KK di lingkungannya yang juga mengalami nasib serupa karena perubahan desil. Hanya saja, kasus Yoyok mendapatkan perhatian khusus dari warga, karena menyangkut kelangsungan hidup lansia sebatang kara yang notabene tak lagi produktif.
Sarti berharap, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta maupun Kementerian Sosial segera melakukan evaluasi dan verifikasi faktual ke lapangan agar hak-hak masyarakat miskin dan lansia tetap terlindungi.
Tri





