Kirab Budaya dan Sedekah Bumi Dukuh Siwalan, Tradisi Syukur yang Terus Dijaga Warga

KARANGANYAR – Masyarakat Dukuh Siwalan, Desa Munggur, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, kembali menggelar kirab budaya dan sedekah bumi pada Jumat Kliwon, 25 September 2026.

Kegiatan yang mengusung semboyan “Manunggal Bhakti Hambangun Praja” tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan warga.

Bacaan Lainnya

Kirab diawali dari kawasan RT 02 Dukuh Siwalan. Warga berjalan bersama menuju pusat Siwalan Kota atau kawasan Alun-alun Sedaleman dengan membawa gunungan hasil bumi dan berbagai identitas kelompok.

Nuansa tradisional semakin terasa karena warga mengenakan pakaian adat Jawa, seperti kebaya, beskap, dan kain batik.

Tradisi kirab sedekah bumi di Dukuh Siwalan sendiri bukan kegiatan baru. Pada 2025, tradisi serupa juga diberitakan sebagai kegiatan tahunan masyarakat setempat setelah panen. Saat itu, arak-arakan hasil bumi, doa bersama, dan keterlibatan warga dari berbagai kelompok menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Bagi masyarakat setempat, sedekah bumi menjadi ruang untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Doa Bersama hingga Rayahan Gunungan

Setelah rombongan kirab tiba di Alun-alun Sedaleman, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan umbul donga atau doa bersama dalam tradisi bersih desa.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tradisi rayahan gunungan atau ngalap berkah. Gunungan yang berisi hasil bumi menjadi salah satu simbol utama dalam rangkaian sedekah bumi.

Tradisi tersebut menjadi salah satu momen yang dinantikan warga karena tidak hanya menghadirkan suasana kebersamaan, tetapi juga mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu kegiatan budaya.

Kawasan Sedaleman sendiri memiliki latar budaya yang cukup kuat. Pura Sedaleman berada di Dukuh Siwalan, Desa Munggur, Kecamatan Mojogedang, dan kawasan tersebut telah lama menjadi salah satu lokasi kegiatan budaya dan tradisi masyarakat.

Tradisi dan Hiburan Warga

Selain prosesi budaya, kegiatan sedekah bumi juga diisi dengan aktivitas yang melibatkan masyarakat secara luas. Setelah rangkaian doa dan rayahan gunungan, warga mengikuti senam sehat bersama.

Pada siang hari, masyarakat disuguhi pagelaran wayang kulit. Sementara acara puncak digelar malam hari melalui pagelaran wayang kulit semalam suntuk bersama dalang Ki Anom Dwijo Kangko.

Ki Anom Dwijo Kangko sendiri tercatat beberapa kali tampil dalam pagelaran wayang kulit di berbagai daerah di Jawa Tengah. Namanya juga tercatat dalam sejumlah agenda pertunjukan wayang di kawasan Munggur, Mojogedang, Karanganyar.

Kehadiran pagelaran wayang kulit dalam rangkaian sedekah bumi sekaligus memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk tetap hidup dan dinikmati masyarakat lintas generasi.

Menjaga Budaya, Memperkuat Kebersamaan

Kirab budaya dan sedekah bumi Dukuh Siwalan memperlihatkan bagaimana tradisi masyarakat desa tetap dapat menjadi ruang pertemuan sosial di tengah perkembangan zaman.

Bukan hanya mengenai gunungan hasil bumi atau rangkaian ritual, kegiatan tersebut juga menjadi momentum warga untuk berkumpul, bergotong royong dan mengenalkan kembali budaya lokal kepada generasi muda.

Dengan semboyan “Manunggal Bhakti Hambangun Praja”, masyarakat Dukuh Siwalan menunjukkan bahwa menjaga tradisi dapat berjalan bersamaan dengan membangun kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat Siwalan sekaligus kekayaan budaya lokal Kabupaten Karanganyar.

Redaksi Kabar Terkini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *