BOYOLALI, Kabar Terkini News — Kemarau panjang membuat perjuangan mendapatkan air bersih menjadi bagian dari keseharian warga Dukuh Kalitlawah, Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Bukan hanya menunggu bantuan air bersih, warga harus mencari sumber air sendiri. Bahkan, mereka rela masuk ke kawasan hutan untuk mendapatkan sisa air di aliran Sungai Kretek Gandeng yang mulai mengering.
Dengan mengendarai sepeda motor, warga membawa jerigen dan galon menuju lokasi. Air yang ditemukan pun bukan air jernih. Sebagian besar hanya tersisa di bagian dasar sungai dan bercampur dengan endapan lumpur.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat warga memiliki banyak pilihan.
Air yang berhasil diambil dibawa pulang untuk kemudian diendapkan terlebih dahulu. Proses pengendapan bahkan bisa dilakukan hingga dua kali 24 jam sebelum air dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga, Bolo, mengatakan pencarian air ke sungai sudah dilakukan hampir setiap hari karena kebutuhan air bersih di rumah tidak tercukupi.
“Tidak kebagian air bersih jadi harus mencari air ke sungai setiap hari seperti ini. Kekurangan air, kebutuhan airnya tidak mencukupi. Nanti airnya diendapkan dulu paling tidak dua kali 24 jam,” kata Bolo.
Kondisi tersebut telah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir. Warga terpaksa mengandalkan sumber air alternatif karena pasokan air bersih belum selalu tersedia sesuai kebutuhan.
Gambaran serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Boyolali. Sebelumnya, warga Dukuh Kalitlawah, Desa Ngaren, juga dilaporkan mengais sisa genangan air di sungai yang hampir mengering. Sebagian warga bahkan harus mencari sumber air hingga ke tengah hutan.
Kekeringan meluas di Boyolali
Krisis air bersih di Boyolali terus meluas seiring panjangnya musim kemarau.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Boyolali per 29 September 2026, kekeringan telah berdampak terhadap 13.098 kepala keluarga atau 39.266 jiwa. Pemerintah Kabupaten Boyolali bersama berbagai pihak telah menyalurkan 1.234 tangki atau sekitar 6,353 juta liter air bersih ke wilayah terdampak.
Distribusi bantuan tersebut tersebar di 13 kecamatan. Kecamatan Wonosamodro menjadi wilayah dengan penyaluran terbanyak, yakni 478 tangki, disusul Wonosegoro 243 tangki dan Juwangi 218 tangki.
Juwangi menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena kondisi kekeringannya cukup berat. Data BPBD yang dikutip Radar Solo sebelumnya mencatat Desa Ngaren telah menerima 59 tangki air bersih atau sekitar 333 ribu liter.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, menyebut tiga kecamatan yang mengalami dampak kekurangan air bersih paling berat adalah Wonosamodro, Wonosegoro dan Juwangi.
Menurutnya, distribusi bantuan dilakukan berdasarkan permohonan dari pemerintah desa dan terus disesuaikan dengan kondisi wilayah yang terdampak.
Enam embung mulai mengering
Dampak kemarau panjang tidak hanya dirasakan warga yang mengandalkan sumber air alami.
Perumda Air Minum Tirta Ampera Boyolali menyebut enam dari delapan embung yang dikelolanya mengalami kekeringan. Sejumlah sumber air baku juga mengalami penurunan debit, terutama sumber air permukaan. Meski demikian, perusahaan daerah tersebut menyatakan pelayanan kepada pelanggan masih diupayakan tetap aman hingga akhir 2026.
Di sisi lain, bantuan air bersih juga datang dari berbagai pihak. Selain BPBD, PMI, BUMD dan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial turut membantu distribusi air ke masyarakat terdampak.
Pada awal Oktober 2026, Perhutani KPH Telawa juga menyalurkan bantuan air bersih kepada sejumlah desa di sekitar kawasan hutan yang mengalami kesulitan air.
Kemarau masih menjadi ancaman
Kondisi kekeringan di Boyolali juga sejalan dengan peringatan dini BMKG. Pada dasarian pertama Oktober 2026, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah menempatkan Kabupaten Boyolali dalam wilayah dengan status awas kekeringan meteorologis.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Boyolali sebelumnya telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Status tersebut berlaku mulai 21 Juli hingga 31 Oktober 2026 dan dapat diperpanjang atau dicabut sesuai kebutuhan penanganan.
Bagi warga Kalitlawah, persoalan kekeringan bukan lagi sekadar angka dalam laporan bencana.
Setiap hari, mereka harus menentukan dari mana mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangga.
Ketika sumber air semakin menipis, perjalanan menuju sungai di tengah hutan menjadi pilihan yang harus ditempuh.
Air yang keruh pun tetap dibawa pulang, kemudian didiamkan berhari-hari agar endapan lumpur turun.
Sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana kemarau panjang mengubah kebutuhan paling dasar — air — menjadi perjuangan sehari-hari bagi warga Boyolali.
Reporter : Ahza Irvani, Editor : Heru Warsito





