Bantul, KabarTerkiniNews.co.id – Ancaman abrasi di wilayah pesisir SelatanKabupaten Bantul, kian parah. Tak hanya berdampak pada sektor pertanian danperikanan, namun juga lingkungan. Sebuah Gerakan penanaman bibit mangrove, kian intensif dilakukan. Sebanyak 5000 bibit mangrove ditanam, dengan saasarankawasn Baros, Kretek Bantul, sebagai upaya menjawab ancaman abrasi yang nyata.
Menjaga kawasan pesisir, bukan lagi sekadar urusanpemandangan, melainkan soal ketahanan hidup. Ketika ombak menggerus bibir Pantai,dan air laut pelan-pelan memakan daratan, cerita itu sampai ke lahan perswahan,destinasi wisata, hingga warung-warung makan yang berada di area bibir Pantai.
Keberadaan benteng alami, Mangrove, hingga kini masih dianggap sebagai Solusi palingefektif. Namun, kapasitasnya kini juga kian berkurang. Gerakan aksi menanam bibitpohon mangrove di pesisir Selatan Kabupaten Bantul, menjadi contoh bagaimana sebuahLembaga keuangan non bank, seperti PNM, bisa berkolaborasi dengan Perusahaan negaraseperti Jasa Raharja, bertemu dengan dukungan Pemerintah Daerah, Wahyu Wibowo, selaku Manajer BIsnis PNM Yogyakarta,menjelaskan,bahwa kali ini ada sekitar 5000 bibit pohon mangrove yang ditanam, pada Jumat(22/05/2026).
Aksi ini, didasari rasa keprihatinan, akan potensi ancaman abrasiyang teradi di pesisir Selatan Yogyakarta, yang kian masif, yang membutuhkanperhatian dari berbagai sektor.
“Kita melihat potensi abrasi ini ancamannya kian masif, kitacoba membantu untuk mengendalikan dengan menanam mangrove ini, untuk membangun ekosistemyang lebih baik pula,”tegasnya.
Kawasan Mangrove Baros, Kelurahan Tirtohargo, Kretek,Bantul, dipilih bukan sekadar karena mudah diakses, tetapi karena posisinyapenting sebagai ruang penyangga pesisir dan edukasi.
Pihaknya menegaskan, aksi Gerakan menanam 5000 pohonmangrove ini, sebagai bagian dari wujud Tanggungjawab Sosial Dan Lingkungan,PNM Peduli, untuk turut berkontribusi terhadap kelestarian alam pesisir.
Disatu sisi, gerakan ini menjawab ancaman abrasi yang nyata.“Harapan tersebesar kami ya untuk mencegah abrasi yang kianparah ini, makanya nanti kedepan tidak hanya 5000 bibit kita tanam,mudah-mudahan bisa lebih banyak lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, mewakili pemerintah Kabupaten Bantul, FentyYusdayati, selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan menuturukan, di balikderetan bibit yang baru tertancap, ada kerja panjang. Yakni, koordinasi,pemetaan lokasi, dan komitmen merawat agar sedimentasi lingkungan tetap lestari.
“Melalui aksi penanaman pohon mangrove ini, pada akhirnya,yang dipertaruhkan bukan hanya garis pantai, tetapi masa depan lingkungan danekonomi lokal yang bertumpu pada garis pesisir,” tuturnya.
Pihaknya berujar, bahwa keberadaan hutan mangrove di pesisirBantul ini, telah menjadi rumah berbagai ekosistem satwa, dan sektor perikanan,selain sebagai penyuplai udara yang bersih dan sehat bagi lingkungan.
“Selain mengantisipasi abrasi, keberadaan mangrove inimenyediakan karbon yang sangat bagus untuk lingkungan, serta menjadi rumahberbagai satwa dan perikanan, sehingga dapat menopang perekonomian warga pesisir,”ujarnya.
Fenty menerangkan, bahwa penanaman mangrove bukan aktivitas“tancap lalu selesai”. Ada tahapan dan aturan yang harus dipatuhi, agareksoistem mangrove sebagai benteng penangkal abrasi, tetap terjaga, tumbuhkuat.“Kegiatan ini jangan hanya sebagai ceremonial saja, setelahkita tanam, kita jaga bersama-sama, agar pohonnya tumbuh kuat, subur nantinya,”tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, turut melibatkan salah satu Perusahaanmilik negara, PT.Jasa Raharja, yang menilai, bahwa penanaman bibit mangrovesemakin menambah sedimentasi lingkungan pesisir, sebagai benteng pesisirmelawan abrasi yang kian nyata.
Sehingga, turut serta menjaga keamanan nelayansaat melaut.“Tak hanya untuk lingkungan, tapi bisa menambah nilaimanfaat untuk masyarakat sekitar,nelayan lebih tenang melaut, aktivitas pelayarandi wilayah peisir juga nyaman, sehingga timbul keseleamtan yang berkelanjutan,”ucapMuhammad Danepo, selaku Kabag Administrasi PT.Jasa Raharja.
Dalam konteks itu, langkah kolaborasi antara PNM Peduli, PT.JasaRaharja, dan pemerintah Daerah untuk menanam pohon mangrove, menjadi tindakanyang sekaligus praktis dan simbolik. PDimana akar mangrove bekerja sebagai “jaring” sedimen, menegaskanbahwa perlindungan pantai bisa dilakukan bersama. Mangrove tidak bekerjaseperti tembok lurus. Ia menahan energi gelombang dengan cara “memecah” arusmelalui akar-akar yang rumit.
Joko Pramono







