BANTUL, KABARTERKININEWS.CO.ID – Model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dikembangkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pilah Berkah di Imogiri, Kabupaten Bantul, mendapat perhatian Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLH/BPLH, Vinda Damayanti Ansjar, meninjau langsung praktik pengelolaan sampah yang dijalankan KSM Pilah Berkah, Sabtu (31/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Vinda mengapresiasi sistem pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat sejak tahap pemilahan di rumah tangga hingga proses pengolahan akhir.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Terlebih, KSM Pilah Berkah dinilai mampu menggerakkan masyarakat untuk memilah sampah sekaligus memastikan material yang terkumpul dapat terserap dan dikelola.
“Saya ke sini untuk melihat langsung konsep pengelolaan sampah di sini, dan saya cukup mengapresiasi apa yang telah mampu dicapai KSM Pilah Berkah, utamanya dalam mengajak masyarakat untuk memilah sampah dari rumah,” ujar Vinda.
Membina 4.800 Kepala Keluarga melalui 67 Bank Sampah
Ketua KSM Pilah Berkah, Yekti Murwani, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah yang dikembangkan lembaganya saat ini telah melibatkan lebih dari 4.800 kepala keluarga.
Mereka tergabung dalam jaringan 67 bank sampah yang tersebar di sejumlah wilayah. Melalui jaringan tersebut, masyarakat didorong untuk memilah sampah sejak dari rumah sehingga material yang terkumpul dapat dikelola sesuai jenis dan karakteristiknya.
KSM Pilah Berkah juga mengembangkan lima platform layanan pengelolaan sampah dengan prinsip seluruh sampah terpilah dapat terserap, termasuk sampah plastik bernilai ekonomi rendah yang selama ini kerap sulit tertangani.
“Tujuan kami adalah mewujudkan ekonomi sirkular. Masyarakat tidak lagi nyampah, tetapi justru memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang mereka pilah,” tutur Yekti.
Sampah Plastik Bernilai Rendah Diolah Menjadi BBM Alternatif
Salah satu inovasi yang menjadi bagian dari sistem pengelolaan tersebut adalah pengolahan sampah plastik bernilai rendah atau low value plastic menjadi bahan bakar minyak alternatif.
Melalui mesin pirolisis generasi kelima, plastik yang sebelumnya sulit memiliki nilai ekonomi diolah menjadi BBM alternatif setara solar. Inovasi ini dikembangkan dengan dukungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pertamina Foundation.
Vinda menilai, pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif merupakan salah satu upaya untuk mengatasi persoalan sampah plastik yang selama ini menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan.
“Sampah dikelola dan diubah menjadi BBMT. Ini setidaknya satu masalah sampah kita, yakni plastik, sudah ada solusinya. Bagus menurut kami,” ungkapnya.
Ia berharap, inovasi tersebut dapat terus dikembangkan, terlebih kualitas bahan bakar yang dihasilkan disebut telah mengacu pada standar Kementerian ESDM.
Diharapkan Mendukung Target Pengelolaan Sampah 100 Persen pada 2029
Lebih lanjut, Vinda berharap komitmen KSM Pilah Berkah dalam menggerakkan pemilahan sampah dari rumah dapat terus dipertahankan.
Menurutnya, praktik pengelolaan dari hulu hingga hilir seperti yang dikembangkan KSM Pilah Berkah dapat berkontribusi terhadap upaya pemerintah mencapai target pengelolaan sampah nasional.
“Dengan inovasi ini, setidaknya mampu mendukung tercapainya target Presiden 2029, seluruh sampah dikelola 100 persen,” imbuhnya.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Koordinator Pembinaan dan Fasilitasi Kelompok Masyarakat KLH/BPLH, Wistinoviani Adnin, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkuler, Agus Rusly, Tenaga Ahli Menteri Bidang Persampahan, Bambang Suwerda, serta mitra dan Pembina KSM Pilah Berkah, Widodo Sambodo.
Perkembangan KSM Pilah Berkah menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut partisipasi masyarakat, pemberdayaan ekonomi, dan pengembangan teknologi pengolahan.
Dari Imogiri, Bantul, gerakan pemilahan sampah dari rumah terus dikembangkan menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular sekaligus mendukung penyelesaian persoalan sampah di Indonesia.
Reporter: Jaka Pramono
Editor: Heru Warsito





