Pemerintah Dorong Pengembangan Minyak Nyamplung dan Malapari jadi Sumber Energi Terbarukan 

Yogyakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Gejolak geopolitik perang Iran telah memicu kelangkaan dan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) mentah dunia. Sebab, suplai minyak dari kawasan Timur Tengah tersendat akibat ditutupnya jalur kapal tanker melewati selat Hormuz.

Indonesia sebagai negara importir BBM ditambah dengan konsumsi energi yang terus meningkat, menghadapi dilema untuk tetap menyediakan pasokan kebutuhan BBM dengan tidak menaikkan harga. Untuk menjamin ketersediaan pasokan BBM, Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan lawatan ke Rusia dalam membuka kran impor dari negara beruang merah tersebut.

Bacaan Lainnya

Guru Besar Ilmu Kimia UGM, Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng., mengatakan kelangkaan BBM akibat gejolak geopolitik global bisa menjadi momentum agar Indonesia bisa menuju negara mandiri energi yang tidak lagi bergantung pada impor.

Menurutnya, pemerintah perlu mendorong pengembangan sumber energi terbarukan seperti vegetable oil yang bukan untuk dimakan. Misalnya tanaman nyamplung (Chalohyllum inophyllum) dan malapari (Pongamia pinnata) yang bisa digunakan sebagai sumber biofuel.

“Kita bisa manfaatkan kekayaan alam seperti minyak nyamplung dan malapari untuk mendukung kemandirian energi,” paparnya, Kamis (16/4).

Menurutnya, kedua tanaman ini tumbuh melimpah di berbagai wilayah Indonesia dan tidak bersaing dengan kebutuhan pangan sehingga sangat ideal sebagai bahan baku biofuel.

Sumber Foto : Antara

Tidak hanya untuk kendaraan, potensi kedua tanaman ini juga tengah ditelitinya untuk diuji coba terhadap kebutuhan bahan bakar pesawat seperti Sustainable Aviation Fuel (SAF) dinilai sangat strategis, mengingat tingginya nilai ekonomi dan kebutuhan global terhadap bahan bakar ramah lingkungan.

Meski begitu, upaya  penggantian bahan bakar dari sumber energi terbarukan untuk kendaraan tetap perlu memperhatikan aspek keselamatan. Pasalnya, kendaraan yang ada saat ini memiliki standar bahan bakar sendiri khususnya diperuntukan untuk BBM.

Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih dalam terkait dampak penggunaannya pada mesin dalam jangka panjang. “Kita bisa menggunakan bahan bakar lain tetapi jika mesinnya tidak diperuntukkan untuk bahan tersebut, kemungkinan bisa rusak,”imbuhnya.

Bagi Wega, dalam dunia akademisi dan penelitian masih terdapat sikap individualis yang kuat antar peneliti. Riset sering kali hanya dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil, antarinstitusi justru cenderung saling bersaing bukan mendukung.

“Walau penelitian kolaboratif sudah banyak dilakukan, terkadang banyak penelitian yang belum berkelanjutan dan dilanjutkan oleh industri terkait,” paparnya.

Selain itu, pemerintah yang memahami dunia riset dan hilirisasi hasil riset juga harus turut andil mengawal program ini. “Selama ini kolaborasi sudah mulai digiatkan dalam dunia riset tetapi belum sampai hilirisasi pengembangan industri, masih perlu dukungan pemerintah yang intens,” terangnya.

Menurut Wega, strategi yang paling mungkin dapat dilakukan masyarakat saat ini adalah dengan penghematan energi dan mulai mengembangkan teknologi dari sumber daya alam yang dimiliki.

“Apabila seluruh masyarakat kompak dan tidak boros dalam penggunaan bahan bakar, mulai menggunakan transportasi umum secara berkala, serta mematuhi kebijakan yang dibuat untuk menghemat energi maka akan sangat baik kedepannya,” paparnya.

Ia berharap bahwa kedepannya Indonesia tidak terlalu bergantung terhadap energi dari fosil tetapi dapat lebih memperhatikan energi terbarukan. Memperhatikan sumber energi lain seperti angin, air, matahari, hingga fuel cell (sel bahan bakar).

Ia menjelaskan, Fuel cell, merupakan perangkat elektrokimia yang mengubah energi kimia dari bahan bakar menjadi listrik, panas, dan air. “Saya lebih merujuk untuk untuk pengembangkan teknologi energi terbarukan dan juga fuel cell,” harapnya.

Sumber Foto : Wikimedia

Wega saat ini terus melakukan riset pengembangan katalis, nanosilika, zeolit, dan Graphene Oxide untuk berbagai aplikasi, terutama proses hydrotreating biomassa menjadi biofuel. Saat ini, ia tengah menekuni sintesis katalis heterogen untuk mengonversi minyak nabati menjadi bio-jet fuel atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Menurutnya, riset ini sangat penting untuk masa depan energi global.

“Energi dari bahan bakar fosil semakin menipis dan menyebabkan polusi. Kita menuju zero carbon, dan bio-jet fuel yang bersumber dari tanaman adalah alternatif yang hijau dan berkelanjutan,” jelasnya.

Jesi & KabarTerkiniNews.co.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *