Jakarta, KabarTerkiniNews.co.id – Sejumlah kejadian dilaporkan, meliputi banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Merauke, serta banjir yang masih berdampak pada sejumlah wilayah di Kota Padang.
Di Provinsi Aceh, banjir dan tanah longsor terjadi di Kabupaten Gayo Lues pada Jumat (9/10). Hujan berintensitas tinggi memicu kejadian yang berdampak pada dua kecamatan, yakni Blangkejeren dan Dabun Gelang.
Berdasarkan laporan sementara, satu kepala keluarga terdampak, sedangkan pendataan kerusakan dan dampak lainnya masih berlangsung.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia berdasarkan pemutakhiran data mulai Sabtu (10/10) hingga Minggu (11/10) pukul 07.00 WIB.
Di Kecamatan Blangkejeren, banjir dan tanah longsor berdampak pada Desa Kala Pinang dan Desa Leme. Sementara itu, di Kecamatan Dabun Gelang, dampak kejadian dilaporkan terjadi di Desa Kendawi.
Dari sisi kerusakan, satu unit rumah dan satu unit jembatan dilaporkan terdampak. Adapun dampak terhadap lahan persawahan dan tiga akses jalan masih dalam pendataan.
Selain itu, Jalan Nasional lintas Blangkejeren–Takengon ditutup total akibat tertutup material longsor. Kondisi ini menyebabkan pemulihan akses jalan menjadi salah satu kebutuhan penanganan di wilayah tersebut.
BPBD Kabupaten Gayo Lues berkoordinasi dengan instansi terkait dan melakukan asesmen untuk mengidentifikasi dampak serta kebutuhan penanganan.
Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, PUPR/HK, dan instansi terkait juga mengerahkan satu unit alat berat jenis ekskavator merek Komatsu untuk mendukung penanganan material banjir dan tanah longsor.
Berdasarkan kondisi terakhir pada Sabtu (10/10), air dilaporkan telah surut. Namun, pembersihan sisa material banjir dan longsor masih berlangsung dengan melibatkan instansi terkait dan masyarakat.
BPBD Kabupaten Gayo Lues terus memantau perkembangan situasi dan bersiaga selama 24 jam untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan.
Kejadian serupa juga dilaporkan di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Hujan berintensitas tinggi dalam durasi panjang pada Jumat (9/10) memicu banjir dan tanah longsor di tiga kecamatan, yakni Ketambe, Lawe Bulan, dan Babussalam. Wilayah terdampak meliputi Desa Kati Maju, Desa Pulonas Baru, dan Desa Pulo Latong.
Kejadian tersebut turut berdampak pada infrastruktur. Ruas jalan Kutacane–Blangkejeren tertutup material longsor sehingga menghambat akses transportasi.
Selain itu, satu unit tanggul dilaporkan jebol dan bangunan pengambilan air untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara dilaporkan hanyut.
Untuk menangani dampak tersebut, BPBD Kabupaten Aceh Tenggara berkoordinasi dengan instansi terkait dan melakukan asesmen guna mengidentifikasi kondisi lapangan serta kebutuhan penanganan. BPBD juga mengerahkan satu unit ekskavator untuk membersihkan material longsor yang menutup badan jalan.
Hingga Sabtu (10/10), air dilaporkan telah surut. Meski demikian, pembersihan material longsor yang menutup akses jalan masih berlangsung oleh tim gabungan.
Sementara itu, data korban dan dampak terhadap masyarakat masih dalam pendataan. Informasi lebih lanjut akan mengikuti hasil pemutakhiran data dari pemerintah daerah dan instansi terkait.
Bergeser ke wilayah timur Indonesia, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Kebakaran dilaporkan terjadi pada Jumat (9/10) pukul 18.00 WIT dan tersebar di 10 distrik.
Berdasarkan pendataan sementara, luas lahan terbakar di sembilan lokasi yang telah dirinci mencapai sekitar 63 hektare, sedangkan luas lahan terbakar di Kampung Kondo, Distrik Nokenjere, masih dalam pendataan. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
Sepuluh distrik yang dilaporkan terdampak meliputi Kurik, Nokenjere, Sota, Tanah Miring, Eli Kobel, Muting, Subur, Ilwayab, Ngguti, dan Kaptel. Lokasi kebakaran mencakup Kampung Harapan Makmur, Kampung Kondo, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, Desa Bumun, Desa Set Agung, Kampung Wakai, Kampung Wanam, Kampung Salam Epe, dan Kampung Ihalik.
Berdasarkan pendataan sementara, luas lahan terbakar di Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, mencapai sekitar 7 hektare. Di Desa Sota, Distrik Sota, dan Desa Sarmayam Indah, Distrik Tanah Miring, luas lahan terbakar masing-masing sekitar 5 hektare.
Sementara itu, di Desa Bumun, Distrik Eli Kobel, luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare, sedangkan di Desa Set Agung, Distrik Muting, sekitar 4 hektare.
Kebakaran juga dilaporkan di Kampung Wakai, Distrik Subur, dengan luas sekitar 3 hektare; Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, sekitar 9 hektare; Kampung Salam Epe, Distrik Ngguti, sekitar 7 hektare; serta Kampung Ihalik, Distrik Kaptel, sekitar 3 hektare.
Adapun luas lahan terbakar di Kampung Kondo, Distrik Nokenjere, masih dalam pendataan. Seluruh angka tersebut merupakan data sementara dan dapat berubah sesuai hasil pemutakhiran di lapangan.
Dalam penanganan kejadian tersebut, BPBD Provinsi Papua Selatan berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Merauke dan pihak distrik untuk melakukan pendataan serta penanganan kebakaran.
Upaya ini melibatkan BPBD Provinsi Papua Selatan, BPBD Kabupaten Merauke, pemadam kebakaran, dan Satuan Polisi Pamong Praja. Sarana yang digunakan meliputi satu unit mobil water supply, satu mobil patroli, dan dua sepeda motor patroli karhutla.
Berdasarkan kondisi terakhir pada Sabtu (10/10), api di Kampung Harapan Makmur, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, dan Desa Bumun dilaporkan telah padam dan memasuki tahap pendinginan.
Sementara itu, kebakaran di Desa Set Agung masih dalam penanganan. Adapun penanganan kebakaran di Kampung Wanam dan Kampung Salam Epe dilakukan oleh pihak perusahaan.
Di sisi lain, kebakaran di Kampung Kondo, Distrik Nokenjere, Kampung Wakai, Distrik Subur, serta Kampung Ihalik, Distrik Kaptel, dilaporkan belum dapat ditangani karena lokasi yang jauh dan sulit dijangkau.
Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam upaya pengendalian api sehingga pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait perlu terus dilakukan. Hingga laporan diterima, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat karhutla tersebut.
Sementara itu, banjir masih berdampak pada sejumlah wilayah permukiman di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Hujan berintensitas tinggi pada Sabtu (10/10) memicu banjir di tiga kecamatan dan enam kelurahan.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Sumatera Barat per Minggu (11/10) pukul 03.34 WIB, banjir belum surut dan proses pendataan serta evakuasi warga masih berlangsung.
Tiga kecamatan terdampak meliputi Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Adapun enam kelurahan yang dilaporkan terdampak ialah Kuranji, Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, Lubuk Minturun, Tabiang Banda Gadang, dan Gurun Laweh.
Berdasarkan pendataan sementara, banjir berdampak pada sekitar 225 kepala keluarga atau 498 jiwa. Selain itu, sebanyak 672 jiwa dilaporkan mengungsi di Kecamatan Kuranji, tepatnya di Kelurahan Kuranji.
Para pengungsi tersebar di tiga lokasi, yakni tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga sebanyak 367 jiwa, Mushalla Ar Ridwan Kampung Tangah sebanyak 250 jiwa, serta Warung Jembatan Guo sebanyak 55 jiwa. Data warga terdampak dan pengungsi tersebut masih dalam proses pendataan dan pemutakhiran.
Dari sisi kerusakan, pendataan sementara mencatat satu unit rumah rusak berat dan empat unit rumah rusak sedang. Selain itu, sekitar 120 unit rumah dilaporkan terdampak banjir.
Banjir juga menyebabkan akses jalan di wilayah Kuranji, tepatnya di sekitar lokasi PDAM daerah Guo, terputus sehingga menghambat akses menuju wilayah terdampak.
BPBD Kota Padang bersama instansi terkait melakukan kaji cepat, pendataan, dan evakuasi warga terdampak. Tim SAR gabungan dilaporkan telah mengevakuasi sebanyak 238 jiwa.
Penanganan melibatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kota Padang, Basarnas Padang, TNI/Polri, BPBD, Dinas Sosial, relawan, serta masyarakat.
Selain evakuasi, bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak dan pengungsi juga telah disalurkan. Bank Nagari dan Bagian Umum Pemerintah Kota Padang menyalurkan 500 bungkus nasi, sedangkan BPBD Kota Padang menyalurkan 100 selimut.
Sementara itu, Dinas Sosial Kota Padang menyalurkan 23 dus mi instan, 30 paket makanan anak, 30 paket family kit, 16 paket pakaian anak, dan 30 unit atau lembar kasur. Bantuan tersebut disalurkan ke wilayah Koto Tangah dan Kuranji sesuai dengan tujuan distribusi masing-masing instansi.
Dalam penanganan banjir, BPBD bersama unsur terkait terus melakukan evakuasi dan pendataan warga terdampak. Luasnya wilayah terdampak serta kondisi sejumlah akses jalan yang terendam banjir menjadi tantangan dalam menjangkau lokasi terdampak.
Koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk mendukung kelancaran penanganan dan pemenuhan kebutuhan warga.
Di tengah penanganan tersebut, Wali Kota Padang bersama Kapolda, Kapolres, Ketua DPRD Kota Padang, Sekretaris Daerah Kota Padang, Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), dan camat meninjau kondisi banjir di Perumahan Cluster Luminpark.
Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi wilayah terdampak serta memastikan penanganan dan evakuasi warga berjalan sesuai kebutuhan.
Selain penanganan darurat, perbaikan tanggul yang jebol di daerah aliran sungai Lapau Munggu, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, menjadi salah satu rekomendasi penanganan untuk mendukung upaya pengurangan risiko banjir di wilayah tersebut.
Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana diharapkan mengenali potensi bahaya di sekitarnya, menjaga keselamatan diri dan keluarga, serta segera menuju tempat yang lebih aman apabila kondisi mengancam keselamatan.
Terkait kebakaran hutan dan lahan, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan kemunculan titik api kepada pihak berwenang.
Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi dan arahan pemerintah daerah serta petugas penanggulangan bencana.
BNPB terus mendorong pemerintah daerah bersama unsur terkait untuk mengoptimalkan penanganan darurat, memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak dan pengungsi, serta memastikan keselamatan masyarakat di wilayah terdampak bencana.
BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor, terutama saat hujan berintensitas tinggi dan berlangsung dalam durasi panjang.
Redaksi




